Home / Kliping / Pesan Sosial Politik di Ruang Publik
JAKARTA ARCHITECTURE triennale

Pesan Sosial Politik di Ruang Publik

JAKARTA, KOMPAS — Dua instalasi karya para arsitek Jakarta berdiri di tengah Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Kedua karya yang merupakan bagian dari Jakarta Architecture Triennale 2015 ini dibuat untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang kondisi sosial politik di Indonesia saat ini.

Broken Mozaik karya Arcadia Architect dan Menggapai Mimpi karya Atelier Cosmas Gozali secara resmi dibuka kepada publik, Minggu (13/12). Ketua Jakarta Architecture Triennale (JAT) 2015 Theresia Purnomo mengatakan, instalasi ini merupakan yang kelima dan keenam dalam ajang tersebut yang dikemas dalam tema “Playful Urban Intervention”. Semula instalasi di Taman Suropati ini akan dipasang di Taman Fatahillah, kompleks Kota Tua, Jakarta Barat.

“Kami sudah membuka beberapa instalasi sebelumnya di Taman Tebet dan Taman Ayodya,” katanya.

Broken Mozaik berupa kepingan-kepingan papan besar yang disatukan membentuk semacam prisma, tetapi tidak beraturan. Pada satu sisi, terdapat gambar harta karun yang terdapat di dalam bak mandi. Di sisi lain, terdapat kata-kata yang bernada kritik atas perilaku masyarakat sekarang.

“Berbeda-beda, namun tetap musuhan jua”, “Hidup mampir hore, retweet, repath, regram”, dan “Kau following maka kau ada” adalah beberapa kata-kata di antaranya. Di antara tulisan-tulisan itu, terdapat cermin yang juga berisi tulisan “Perbanyak ngaca kurangi ngece”.

Direktur Arcadia Architect Gatot Surarjo menuturkan, instalasi Broken Mozaik ini berangkat dari munculnya kasus rekaman permintaan saham Freeport. “Kami melihatnya sebagai peluang untuk menyampaikan pesan. Ini sebagai pernyataan sosial dan kebetulan pas ada isu papa minta saham. Kami memandang Indonesia sebagai mozaik karena berbeda-beda. Ini bisa rusak karena ulah segelintir elite,” katanya.

Dia menambahkan, gambaran harta karun di dalam bak mandi melambangkan kekayaan alam yang dikuasai Freeport. Ember di bawahnya merepresentasikan rakyat yang hanya mendapat tetesan harta yang diperebutkan kaum elite tersebut.

Adapun karya Menggapai Mimpi, menurut arsitek dari Atelier Cosmas Gozali, Setya Kurniawan, berbentuk semacam kapal yang ditopang tongkat fleksibel dan bisa bergerak sesuai arah angin. Di bawah, kapal itu disangga beton.

“Instalasi ini dibuat seperti sebuah tangan yang menggapai awan di langit. Bisa diterjemahkan sebagai keinginan setiap manusia untuk menggapai impiannya,” ujar Setya. (FRO)

Check Also

Jalur 10 di Stasiun Manggarai ditutup sejak 23 Januari 2019. Hal itu dilakukan guna mempercepat revitalisasi Stasiun Manggarai. Jalur 10 yang biasa ditempati oleh KRL jurusan Jakarta-Depok/Bekasi akan dialihkan ke jalur 8, 5, dan 4. Meski penutupan telah berlansung selama tiga hari, tidak tampak adanya penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai. Sejumlah penunjuk arah dipasang begitu juga dengan petugas stasiun yang mengarahkan para penumpang, Sabtu (26/1/2019).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

Pemindahan KA Jarak Jauh dari Stasiun Gambir ke Manggarai, Wujudkan Konsep Lama…

JAKARTA, KOMPAS.com – Stasiun Gambir, Jakarta Pusat tak lagi melayani angkutan Kereta Api (KA) jarak …