Home / Kliping / Mengawal Geliat Pariwisata dengan Kesadaran Lingkungan
pulau_pramuka

Mengawal Geliat Pariwisata dengan Kesadaran Lingkungan

Tuntas sudah penjelajahan Kompas ke wilayah Kepulauan Seribu sepanjang tahun ini. Dalam wadah liputan khusus bertajuk Kelana Seribu Pulau, kami mulai perjalanan kami ke Pulau Harapan pada Januari dan kami tutup dengan perjalanan ke Pulau Lancang pertengahan Oktober lalu-sebelum ombak lautan menjadi sulit ditebak seiring datangnya musim hujan.

Kelana Seribu Pulau dimulai dengan niat sederhana untuk lebih mendekatkan pembaca, secara khusus masyarakat Jakarta dan sekitarnya, dengan pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Satu demi satu fakta, realitas, potensi, tantangan, dan kehidupan masyarakatnya berusaha diungkap untuk mengisi minimnya referensi dasar ini.

Sengaja dipilih 12 pulau berpenduduk permanen di gugus kepulauan yang berisi 110 pulau tersebut karena di sanalah dinamika kehidupan kepulauan ini bisa dipotret.

Sebelas pulau adalah pulau berpenduduk “tradisional”, dalam arti sudah dihuni masyarakat secara turun-temurun sejak puluhan tahun silam. Berturut-turut kami mengunjungi Pulau Harapan, Pramuka, Tidung, Untung Jawa, Payung, Panggang, Kelapa, Kelapa Dua, Sebira, Pari, dan Lancang.

Sementara satu pulau, yakni Pulau Pabelokan, adalah pulau dengan fungsi khusus sebagai basis operasional kegiatan eksplorasi minyak dan gas lepas pantai sejak 40 tahun lalu. Pulau ini milik negara yang saat ini dikelola perusahaan China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) SES Ltd.

Potensi dan tantangan

Memiliki 90 persen wilayah adalah perairan membuat Kepulauan Seribu sangat kaya akan potensi. Dari potensi pariwisata, sejarah, lokasi penelitian ilmu pengetahuan, hingga pertambangan.

Pariwisata menjadi potensi yang paling mudah terlihat dan digarap. Perairan biru nan teduh dan bening, keindahan terumbu karang dan ikan-ikan hias di bawah laut, hutan mangrove yang masih asli, serta pasir putih halus begitu damai untuk menikmati pemandangan matahari terbenam.

Saat Kompas menjelajah Pulau Perak, pulau kecil tak berpenghuni dekat Pulau Kelapa, Juli lalu, keindahan pasir putih dan kedamaiannya membuat tak percaya pulau ini masih menjadi bagian dari Jakarta. Begitu dekat secara geografis dan administratif, tetapi sekaligus terasa sangat jauh dalam realitas kesehariannya.

Tak heran geliat pariwisata terlihat hampir di seluruh kepulauan. Mulai yang ditangani secara profesional di pulau-pulau resor wisata sampai swadaya masyarakat di pulau-pulau berpenghuni tradisional.

Pengelolaan swadaya dan kesadaran masyarakat untuk menjadi tuan rumah bagi para wisatawan ini pun bervariasi, mulai yang sudah bisa dibilang bagus, seperti di Pulau Tidung, Harapan, dan Untung Jawa, sampai ke yang baru menggeliat, seperti di Pulau Lancang.

Namun, geliat pariwisata, yang berpotensi menjadikan Jakarta sebagai daerah tujuan utama nasional (bahkan internasional) itu, diwarnai berbagai masalah mendasar.

Hal pertama adalah soal transportasi. Hingga saat ini, transportasi, baik itu dari daratan Jakarta ke Kepulauan Seribu maupun antarpulau yang ada, seperti terseok. Kapal penumpang yang ada, yang sebagian besar adalah kapal “ojek” tradisional, kadang tak mampu melayani membeludaknya wisatawan.

Apalagi, hingga saat ini kapal penumpang milik Dinas Perhubungan DKI Jakarta belum juga beroperasi.

Air bersih juga tetap menjadi kendala di 11 pulau berpenghuni. Di sebagian pulau, warga bahkan masih mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.

Fasilitas sistem pengolahan air reverse osmosis (RO) sudah dibangun di sejumlah pulau, tetapi air produknya tetap berasa payau. Akhirnya warga pun bergantung pada air dalam kemasan galon yang didatangkan dari daratan.

Hal lain yang juga langsung kasatmata adalah keterbatasan lahan. Jangankan untuk menyediakan lahan bagi wisatawan, untuk mewadahi pertumbuhan penduduk pun sebagian pulau mulai kewalahan.

Tengok saja di Pulau Panggang yang bahkan nyaris tak tersisa tanah untuk tumbuhnya pepohonan. Pada akhirnya, warga pun terpaksa mereklamasi pantai untuk membuat lahan guna membangun rumah.

Hampir di setiap pulau berpenduduk padat, seperti Panggang, Kelapa, dan Harapan, pantai-pantai berpasir putih sudah lama hilang. Berganti dengan deretan rumah.

Yang lebih membuat miris, mereka menguruk lahan reklamasi itu bukan dengan pasir atau batu, melainkan dengan bongkahan-bongkahan karang. Karang yang sejatinya menjadi habitat ikan dan biota laut lainnya, dan menjadi salah satu daya tarik utama wisata, menjadi fondasi rumah.

Geliat pariwisata juga memicu konflik lahan antara penduduk setempat dan pemegang modal dari luar. Misalnya, memanasnya kembali konflik lahan di Pulau Pari baru-baru ini.

Peningkatan kesadaran

Bupati Kepulauan Seribu Budi Utomo tak menampik masih adanya berbagai masalah tersebut. “Selain transportasi, sektor kebersihan juga masih dalam upaya peningkatan fasilitas, baik itu kebersihan lingkungan daratan maupun pantai. Yang terpenting adalah peningkatan kesadaran masyarakat terkait lingkungan,” ucap Budi, Kamis (24/12).

Sejauh ini, ujar Budi, pihaknya terus melakukan edukasi terkait pentingnya menjaga lingkungan perairan. Apalagi, sebagian wilayah dari total luas 7.000 kilometer persegi adalah Taman Nasional yang harus dijaga bersama.

“Laut kami itu sumber segala potensi. Jadi, menjaga lingkungan memang sebuah keharusan. Termasuk untuk menuju pariwisata yang bertaraf internasional. Kami berharap segala upaya ini bisa memberikan manfaat untuk Jakarta, bahkan Indonesia ke depan,” ucap Budi.

Kepala Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) Wahyu Rudianto menyampaikan, sejumlah pelanggar dan perusak lingkungan telah ditindak sepanjang 2015. Akan tetapi, hukuman hingga pelanggar jera belum terlihat.

“Meski begitu, pelaku pencemaran sebenarnya tidak sebanyak tahun sebelumnya. Yang susah itu adalah mengubah persepsi masyarakat agar tidak merusak lingkungan. Masih banyak dari mereka yang mengambil karang dan pasir untuk membangun. Hal ini tidak pernah selesai dari dulu,” ucapnya.

Menurut Wahyu, selain ketegasan, larangan itu juga harus disertai solusi yang jelas. “Pada dasarnya, itu semua untuk menjaga dan menjamin alam yang lestari. Apalagi, belum banyak yang tahu kalau di wilayah Kepulauan Seribu ada taman nasional,” ucap Wahyu. (DHF/JAL)

sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/12/30/Mengawal-Geliat-Pariwisata-dengan-Kesadaran-Lingku

Check Also

Permukiman padat di Bidaracina, di sepanjang bantaran Kali Ciliwung, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (27/8/2015). Bidaracina merupakan kawasan yang akan digusur terkait proyek normalisasi dan sodetan Kali Ciliwung.(KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES)

Proyek Sodetan Ciliwung Dimulai, Ini Proses Ganti Rugi terhadap Warga Bidara Cina

JAKARTA, KOMPAS.com – Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan …