Home / Kliping / Proyek MRT Berjalan Normal

Proyek MRT Berjalan Normal

JAKARTA, KOMPAS — Proyek angkutan massal cepat atau MRT, Jumat (16/1), kembali berlangsung normal meski ada pengetatan keamanan dan pembatasan pengunjung. Proyek MRT, khususnya terowongan Bundaran Hotel Indonesia, sempat dihentikan Kamis lalu.

Proyek terowongan dihentikan sesaat setelah peledakan bom dan tembak-menembak terjadi di Jalan MH Thamrin. Akan tetapi, dengan jaminan pengamanan dari pihak berwajib dan pemerintah, proyek kembali berjalan seperti biasa.

Hal ini selaras dengan semangat yang ditularkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan warga Ibu Kota. Kemarin pagi, melalui akun Twitter- nya, Basuki menyapa warga Jakarta, “Selamat pagi warga jakarta yg pemberani, kita kembali beraktivitas seperti biasa. Mari bareng-bareng jagain kota kita.”

Meski penjagaan di seluruh kota ketat dan Jakarta masih dinyatakan Siaga Satu, Jumat kemarin, aktivitas warga kota pun bergulir sesuai rutinitas harian. Terkait MRT, tidak hanya di Bundaran HI, proyek transportasi massal ini di sepanjang Jalan Sudirman hingga Lebak Bulus juga terus digenjot.

Kawasan Lebak Bulus akan menjadi simpul integrasi penting bagi sistem transportasi di Jakarta pasca operasional MRT pada 2019. Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami mengatakan, Lebak Bulus direncanakan menjadi simpul integrasi dari bus transjakarta, bus antarkota antarprovinsi (AKAP), dan angkutan kota lain.

“Kami mendesain ada akses turun-naik penumpang bus yang dekat dengan pintu masuk stasiun. Penumpang tidak harus berjalan jauh untuk naik ke area stasiun ini,” katanya, kemarin.

Saat ini, akses bus transjakarta Koridor VIII sudah sampai Lebak Bulus. Posisi halte transjakarta Lebak Bulus saat ini berada antara lokasi depo kereta dan stasiun MRT Lebak Bulus. Dono mengatakan, ada kemungkinan Pemprov akan membangun terminal di Lebak Bulus.

Depo MRT

Lahan yang digunakan untuk MRT di Lebak Bulus tergolong besar karena mencakup dua bangunan, yakni stasiun dan depo. Antara stasiun dan depo dipisahkan jalan yang kini digunakan sebagai halte transjakarta dan tempat turun-naik bus reguler.

Area depo dulunya merupakan Stadion Lebak Bulus. Stadion yang sebelumnya digunakan sebagai kandang Persija Jakarta dan juga menggelar laga-laga sepak bola lainnya itu tidak terlihat lagi karena sudah rata dengan tanah.

Luasnya sekitar 10,5 hektar. Ketinggian depo 6 meter di atas jalan saat ini. Kini, proses pengurukan masih berlangsung. Dibutuhkan ratusan ribu meter kubik tanah untuk keperluan penimbunan. Menurut rencana, depo ini akan muat untuk penyimpanan dan perawatan sedikitnya 84 kereta MRT dari total 96 kereta yang akan dioperasikan pada tahap awal. Sebanyak 12 kereta lainnya akan disimpan di stasiun HI dan Blok M.

Depo di Lebak Bulus akan menjadi satu-satunya depo MRT untuk fase pertama Lebak Bulus-Bundaran HI. Di area depo akan dilengkapi ruang kontrol perjalanan kereta MRT di fase ini. Sebagai catatan, kereta MRT nantinya berjalan dengan kendali sistem otomatis sehingga kecelakaan kereta bisa ditekan.

Pengerjaan depo dan stasiun Lebak Bulus dilakukan oleh Tokyu Wika Joint Operation (TWJO). Pengerjaan ini di luar pembangunan jalur rel dan sistem operasional kereta.

Selain depo, nantinya dibangun juga kantor pengelola dan bangunan tempat perawatan kereta. Proses itu belum berlangsung.

Stasiun kereta

Sementara itu, stasiun MRT Lebak Bulus terletak di bekas jalan depan terminal Lebak Bulus. Tiang-tiang kolom yang nantinya akan digunakan untuk rel layang juga sudah mulai berdiri. Stasiun layang MRT terdiri atas dua lantai. Bagian dasar di bawah stasiun layang MRT tetap bisa digunakan untuk lalu lintas kendaraan bermotor.

Lantai satu stasiun layang merupakan area penjualan tiket, gerbang masuk penumpang menuju peron, dan area komersial. Adapun lantai 2 merupakan peron dan dua jalur kereta api. Di Lebak Bulus, lantai 1 berada di ketinggian 6,6 meter dari jalan, sementara ketinggian lantai 1 ke lantai 2 adalah 5,7 meter.

Untuk tahap awal, akan ada empat akses menuju stasiun ini, masing-masing dua akses berupa eskalator dan dua lift. Stasiun Lebak Bulus memiliki panjang sekitar 200 meter dengan lebar 32 meter. Di ujung stasiun ada jalur langsir menuju ke depo.

Sementara panjang proyek seluruhnya, termasuk depo, tempat perawatan kereta, kantor, dan tempat langsir, akan mencapai hampir 1 kilometer, mulai dari batas Point Square hingga mencapai batas Kali Pesanggrahan, perbatasan Jakarta Selatan dengan Tangerang Selatan.

Dono Boestami mengatakan, meski saat ini Stasiun Lebak Bulus merupakan stasiun terakhir, tidak menutup kemungkinan jalur MRT diperpanjang ke selatan jika ada pihak lain yang tertarik memperpanjangnya.

Perubahan lanskap

Pembangunan stasiun dan depo MRT di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, mengubah lanskap wilayah di sekitar kawasan tersebut. Meski proses pembangunan masih dalam tahap awal, perubahan sudah terlihat.

Di lahan itu, dulu ada Stadion Lebak Bulus. Stadion yang tidak hanya terkait dengan sepak bola, tetapi juga konser beberapa musisi mancanegara, sekaligus lapangan yang akrab sebagai pusat kegiatan masyarakat sekitar.

Di kawasan bekas stadion sekarang tengah berlangsung proses pembersihan dari bangunan yang sebelumnya ada. Sementara di kawasan yang sebelumnya adalah bekas terminal tengah berlangsung penimbunan tanah sebagai depo kereta.

Perubahan lanskap di Lebak Bulus juga di sepanjang jalur proyek MRT menunjukkan Kota Jakarta yang sedang berbenah.

(ART/RAY)

About indradetra

Check Also

pdam diminta penuhi

PDAM Diminta Penuhi Kebutuhan Air Bersih Warga Muara Karang

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Mohammad Taufik meminta PDAM Jaya memberikan …