Home / Kliping / Salah Kasta di Ibu Kota

Salah Kasta di Ibu Kota

Di antara begitu banyak hal ingar-bingar di media sosial, video pesohor kenes menyeberang jalan di zebra crossing, di sebuah tempat di kota Eropa, adalah salah satunya. Artis, penyanyi-atau apalah itu-menyeberang jalan di depan deretan mobil yang rapi berhenti, konon di Geneva, Swiss. Perempuan itu melenggak-lenggok sambil menyeberang jalan seorang diri. Sementara sejumlah orang lainnya tidak ikut menyeberang.

Ditelisik lebih rinci, ternyata saat pesohor itu menyeberang, lampu lalu lintas menyala merah buat pejalan kaki. Artinya, pejalan kaki dilarang menyeberang. Sejumlah orang lokal yang tidak menyeberang rupanya menunggu lampu hijau.

Seperti layaknya dunia media sosial yang berisik, komentar soal bagaimana orang itu melanggar aturan lalu lintas pun berseliweran. Namun, yang jelas, video itu sedikit menggambarkan bagaimana para pengemudi mobil sangat menghargai nyawa.

Mereka menahan untuk tidak bergerak, sementara si pelanggar aturan menyeberang saat lampu pejalan kaki merah. Jangankan bergerak, membunyikan klakson pun tidak. Merasa aneh, mungkin iya, ya?

Di saat yang sama, di Jakarta kejadian sebaliknya terjadi. Dua nyawa melayang sia-sia, Sabtu (9/1) akhir pekan lalu. Seorang pejalan kaki dan pesepeda tewas ditabrak sebuah sedan di Jalan Boulevard Artha Gading, Jakarta Timur. Sedan itu menabrak dua orang yang berjalan searah di depannya.

Kasus tewasnya pejalan kaki atau pesepeda yang disambar atau ditabrak kendaraan bermotor sering terjadi di Ibu Kota. Desember tahun lalu, seperti diwartakan Kompas, seorang pejalan kaki juga tewas disambar bus kopaja.

Dua kejadian berbeda di negeri orang dan Ibu Kota tadi sedikit menggambarkan bagaimana nyawa manusia dihargai. Di negara maju dan beradab, pejalan kaki dan pesepeda menempati hierarki paling tinggi di antara pengguna jalan lainnya. Penghargaan terhadap manusia itu diimplementasikan dalam penyediaan fasilitas buat para pejalan kaki dan pesepeda yang baik.

Di Jakarta, pejalan kaki sering kali terpaksa melipir turun ke badan jalan karena trotoar habis diokupasi oleh warung, parkir mobil, dan bengkel tambal ban. Pedestarian juga harus waspada melangkah karena permukaan trotoar yang tidak nyaman. Belum lagi, para pengendara sepeda motor dengan leluasa menaiki trotoar untuk menghindari kemacetan di badan jalan.

Nasib pesepeda setali tiga uang. Kampanye bersepeda ke kantor yang digelorakan komunitas Bike to Work harus melawan kenyataan bahwa bersepeda di kesemrawutan lalu lintas Ibu Kota perlu keberanian tersendiri. Bukan melulu karena cuaca panas Jakarta yang tanpa kompromi, tantangan lainnya adalah perilaku ugal-ugalan pengemudi kendaraan bermotor dan tidak tersedianya lajur sepeda.

Salah kaprah

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebaiknya tidak turut serta dalam paradigma yang salah kaprah di masyarakat. Pesepeda dan pejalan kaki di Jakarta, seperti juga di kota lainnya di negeri ini, masih diidentikkan dengan warga berstatus sosial yang rendah.

Biarpun lebih sering parkir di jalan, orang lebih memilih bermobil, mencoba menaikkan status. Pelayanan angkutan umum yang belum memadai menjadi alasan paling umum. Alih-alih membuat fasilitas pedestarian dan pesepeda dibuat semakin nyaman, fasilitas buat pengguna kendaraan bermotor juga lebih pesat dibangun.

Padahal, seperti pernah diungkapkan oleh Enrique Penalosa yang pernah menjadi Wali Kota Bogota, Kolombia, “Lajur sepeda yang baik dan nyaman mencerminkan warga dengan sepeda seharga 30 dollar sama pentingnya dengan mereka yang bermobil seharga 30.000 dollar.”

Walau baru sebatas di atas kertas, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) pun menyebutkan pejalan kaki mendapatkan hierarki tertinggi. Namun, perlakuan masyarakat ataupun perhatian pemerintah terhadap mereka masih memprihatinkan. Sebuah penelitian oleh Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menunjukkan, hanya 30 persen pengemudi kendaraan bermotor yang memberikan prioritas menyeberang kepada pejalan kaki.

Soal video si selebritas tadi, belakangan ada yang “mengoreksi” disesuaikan dengan kekinian lalu lintas Jakarta. Seseorang telah mencoba mengedit video pendek itu. Digambarkan, saat menyeberang dan melenggak-lenggok, sebuah kopaja melintas ngebut. Penyeberang jalan itu pun tersambar bus kopaja, menyisakan sepatu dan tas mewahnya.

Sesuatu yang bukan tidak mungkin terjadi di Ibu Kota.

Duuh…. Sesuatu banget…!

About indradetra

Check Also

pdam diminta penuhi

PDAM Diminta Penuhi Kebutuhan Air Bersih Warga Muara Karang

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Mohammad Taufik meminta PDAM Jaya memberikan …