Home / Tokoh / ”Pendekar” Konservasi Sungai Ciliwung
Usman Firdaus

”Pendekar” Konservasi Sungai Ciliwung

Hampir 45 menit lamanya, delapan pria berendam dalam keruhnya air Sungai Ciliwung. Mereka tidak sedang berenang. Mereka mencari dan mengangkat sampah di dasar sungai. Sampah berbagai jenis itu berbentuk gelondongan karena sudah lama ”menginap” di dasar sungai.

Itu potret sebagian dari aktivitas anggota komunitas Masyarakat Peduli Ciliwung (Mat Peci) di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (24/12). Kelompok tersebut dibentuk Usman Firdaus (47) dengan perhatian dan keprihatian atas kondisi Sungai Ciliwung. Mereka ingin Sungai Ciliwung bersih dari sampah. Saban hari, mereka melaksanakan aktivitas serupa.

Kondisi Sungai Ciliwung yang bak lautan sampah mengusik Usman, anak Betawi yang tinggal di Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Itu kontras dengan situasi masa kecilnya. Saat masih belia, ia sempat menikmati Sungai Ciliwung yang airnya bening, teduh, dan penuh ikan.

”Dulu, saya rasakan Sungai Ciliwung sebagai sumber kehidupan. Dengan kondisi saat ini, sungai berubah menjadi sumber malapetaka dalam bentuk banjir dan pencemaran. Sangat sulit rasanya untuk menikmati Sungai Ciliwung biarpun sekadar untuk berenang,” ujarnya di sela-sela pembersihan sampah di Srengseng Sawah.

Usman memulai ikhtiar melindungi Sungai Ciliwung pada tahun 2006 dengan membentuk Kelompok Tani Cikoko Lestari di Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Satu pos dibangun untuk koordinasi dan berbagi informasi tentang aktivitas kelompok. Saat itu, jumlah relawan yang bergabung hanya enam orang. Luas wilayah sungai yang dijadikan area konservasi sekitar 6.000 meter persegi.

Selain mengangkat dan mengangkut sampah dari pinggir dan dalam sungai, kelompok itu juga menanam berbagai jenis pohon, seperti sengon dan mangga. Lambat laun, pos tersebut menjadi tempat bermain anak-anak.

”Situasi tersebut saya lihat sebagai harapan untuk merangkul lebih banyak orang dalam menjaga kelestarian Sungai Ciliwung,” ujar alumnus program strata satu Manajemen Informasi Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Kuwera di Pasar Minggu, Jakarta.

Melihat tingginya antusiasme kelompok, Usman melebarkan sayap pengaruh. Pada 2009, ia merangkul lebih banyak warga pinggiran Sungai Ciliwung. Komunitas peduli tersebut tumbuh di sepanjang aliran sungai dari Srengseng Sawah hingga Manggarai. Saat ini, tercatat 16 komunitas yang bergabung dalam komunitas Mat Peci dengan personel sebanyak 110 orang. Rute konservasi memanjang 16 kilometer. Sejak saat itu, komunitas berganti nama menjadi Masyarakat Peduli Ciliwung (Mat Peci).

Di sekitar pos Mat Peci di RT 005 RW 002, Kelurahan Srengseng Sawah, misalnya, anggota komunitas menyulap lahan yang sebelumnya menjadi tempat pembuangan sampah liar menjadi lahan produktif. Berbagai jenis sayuran dan pepohonan ditanam. Warga sekitar pun dapat memetik sayuran secara gratis.

Daerah pinggiran Sungai Ciliwung yang dinaungi rumpun bambu itu menjadi tempat anak-anak bermain. Anggota komunitas juga membangun tenda bambu hingga ke permukaan sungai. Tempat itu dipakai untuk memancing ikan.

Belakangan, populasi ikan mujair dan lele bertambah pesat di Sungai Ciliwung yang diintervensi Mat Peci. Padahal, sebelumnya, ikan sangat sulit didapat. Alur sungai tampak melebar hingga 10 meter, dari sekitar 6 meter sebelum diintervensi.

Usman menyebutkan, pendekatan persuasif dengan menciptakan lingkungan yang nyaman terbukti membangkitkan kesadaran masyarakat untuk mengambil bagian dalam konservasi. Warga sudah menunjukkan perubahan perilaku hidup.

”Namun, tetap saja ada warga yang refleks membuang sampah ke sungai. Ini memotivasi kami untuk bekerja lebih giat lagi,” kata penerima penghargaan Kalpataru dari Gubernur DKI Jakarta sebagai Pembina Lingkungan pada 2012 itu.

Pria yang sejak sekolah menengah pertama senang menanam pohon di pinggir Sungai Ciliwung itu sering menghadapi bencana. Saat banjir tiba, pohon yang ditanam dan pos-pos komunitas roboh. Namun, ia tidak kapok. Baginya, bencana alam menjadi pertanda sungai masih bermasalah. Artinya, kesadaran warga pinggiran sungai masih perlu dibangkitkan terus.

Saat ini, komunitas mengembangkan sejumlah program penyelamatan Sungai Ciliwung, antara lain, penanaman sayur di bantaran sungai, pemilahan dan pengolahan sampah menjadi berbagai produk, tanggap darurat bencana, dan konservasi budaya sungai. Program terakhir terselenggara dengan merangkul pegiat seni. Lenong atau silat dipentaskan di pos- pos dengan menyisipkan pesan konservasi sungai.

”Semua bertujuan untuk membangkitkan kepedulian dan semangat konservasi. Kami yakin kesadaran selalu ada, hanya perlu diingatkan terus-menerus,” ucap suami dari Dina Brihandini.

Tak hanya warga Jakarta, Mat Peci berencana menggalang pembentukan komunitas konservasi di Depok, Jawa Barat. Wilayah itu termasuk salah satu daerah hulu Sungai Ciliwung.

Bapak tiga anak itu mengangankan suatu saat nanti Sungai Ciliwung menjadi tempat warga Jakarta untuk berwisata dan menjadi contoh pengelolaan sungai di perkotaan. Menurut dia, hal itu tidak mustahil kalau semua orang merasa memiliki sungai.

Berkat keswadayaan melindungi Sungai Ciliwung, Pemerintah DKI Jakarta mengangkat anggota komunitas Mat Peci menjadi tenaga honorer dengan upah mengikuti upah minimum provinsi sejak 2014. Tentu hal itu bukan tujuan utama komunitas. Itu sebentuk apresiasi yang layak atas usaha mereka menggalang spirit satu kata, satu hati, dan satu gerakan menyelamatkan Sungai Ciliwung.