Home / Kliping / Edukasi untuk Mengelola dan Mengurangi Sampah
edukasi sampah

Edukasi untuk Mengelola dan Mengurangi Sampah

Warga RT 003 RW 004 Kelurahan Blotongan, Kecamatan Sidorejo, Salatiga, Jawa Tengah, tidak hanya membersihkan lingkungan dari sampah. Mereka menjual sampah, mengelola, dan memanfaatkannya. Sampah di tempat ini tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga edukasi.Kebun sayur milik warga RT 003 RW 004 Kelurahan Blotongan, Sidorejo, Salatiga, Jawa Tengah, yang memanfaatkan pengelolaan sampah.

Kegiatan itu pada awalnya dimotori Sugito (46), warga yang bekerja sebagai pengangkut sampah. Tahun 2012, ia mengikuti seminar yang diadakan Dinas Cipta Karya Salatiga tentang persoalan sampah. Ia kemudian mengajak tetangganya, Kumedi Saleh (46).

Dari mereka, pengelolaan sampah dimulai. Sugito bertugas memilah sampah dan membuat kompos. Sementara Kumedi menampung sampah non-organik yang tidak bisa dijual, tetapi masih dapat digunakan, untuk dibuat aneka kreasi.

Sugito hanya coba-coba membuat kompos hingga akhirnya berhasil. Ia pun mulai rutin mengelola sampah yang ia dikumpulkan dari rumah ke rumah. Ia mulai memilah sampah mana yang dapat dibuat kompos, yang masih laku dijual, dan yang tidak dapat dijual, tetapi dapat didaur ulang. Sisanya, sampah yang tidak bisa dijual dan tidak bisa didaur ulang, dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS).

“Kami setidaknya bisa mengurangi pembuangan sampah ke TPS hingga 80 persen. Sisa 20 persen itu biasanya sampah seperti popok sekali pakai atau pembalut yang tidak bisa diapa-apakan. Sampah B3, yang bisa kami gunakan untuk membuat suvenir, pun tidak kami buang ke TPS karena berbahaya,” papar Sugito yang ditemui pada akhir Desember lalu.

Sampah seperti styrofoam, tergolong sampah B3, sangat berbahaya jika dibakar dan tidak bisa terurai di dalam tanah. Sampah seperti botol kemasan perlengkapan rumah tangga, juga spanduk dari bahan plastik, dibuat kembali menjadi suvenir oleh Kumedi. Spanduk plastik dijahit menjadi polybag untuk tempat penanaman sayur.

Perlahan, kelompok kecil itu mulai membesar dan mereka menamakan diri sebagai Bank Sampah Makmur. Meski bernama bank sampah, aktivitas mereka tidak hanya membeli rosok dari warga yang menjual sampah. Kompos yang dibuat oleh unit pengelolaan kompos pun dimanfaatkan ibu-ibu yang mendapat dana dari program Kawasan Rumah Pangan Lestari dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Dengan program itu, ibu-ibu rumah tangga secara mandiri menanam tanaman pangan di halaman rumah. Siti (56), misalnya, menyediakan halaman belakang rumahnya yang berukuran sekitar 6 meter x 10 meter untuk menjadi green house. Tanaman sayur, seperti brokoli, kembang kol, daun bawang, bayam, sawi, selada, juga cabai, ditanam di polybag yang dibuat dari spanduk plastik.

Dengan begitu, sampah organik rumah tangga yang dihasilkan tidak dibuang, tetapi berguna untuk kembali menghasilkan pangan. Tanaman yang dihasilkan secara organik itu dibeli kembali oleh ibu-bu dengan harga murah. Sebagian ibu rumah tangga menanam secara mandiri di halaman rumah mereka.

Siti mengatakan, saat ini ia sangat jarang belanja ke tukang sayur karena banyak sayur telah tersedia dalam kondisi segar dan aman sebab ditanam secara organik dan tidak diberi pestisida yang membahayakan tubuh. Harganya juga jauh lebih murah daripada membeli di pasar atau tukang sayur. “Sekarang saya hanya belanja sayur yang tidak ada di sini saja,” ujarnya.

Sugito mengatakan, sistem pengelolaan sampah itu perlahan mengubah perilaku warga. Tanpa diminta, warga mulai memisahkan jenis sampah mereka sebelum diangkut Sugito. Anak- anak muda juga tergerak untuk mulai peduli dan melihat bahwa sampah bisa menghasilkan.

Pemuda karang taruna setempat, beberapa waktu lalu, bisa mendapat uang untuk pergi jalan-jalan ke Yogyakarta dari hasil mengumpulkan sampah bungkus air mineral dari penyelenggaraan hajatan di wilayah itu.

Wiji Lestari, Sekretaris Bank Sampah Makmur, mengungkapkan, yang paling utama dari gerakan yang mereka lakukan adalah pola pikir masyarakat yang berubah terhadap sampah. Saat ini, katanya, membuang sampah di tempatnya saja tidak cukup. Sekarang, yang harus dilakukan adalah mengurangi dan mengelola sampah. “Sekarang, mulai anak-anak sudah mengerti kalau menemui sampah harus diapakan,” katanya.

Selain bertugas membuat aneka kreasi dari sampah, Kumedi, yang bertanggung jawab atas divisi sumber daya manusia, juga melatih berbagai pihak yang datang untuk belajar mengelola sampah. Ia memperlihatkan, sampah yang tidak dapat terurai, seperti styrofoam, kemasan plastik, kaleng, atau botol kaca, dapat disulap menjadi aneka suvenir. Suvenir itu dapat dijual dan menghasilkan uang.

“Karena sering mendapat kunjungan dari sejumlah daerah, kami berencana membuat semacam wisata sampah. Selama ini, jika ada anak-anak sekolah berkunjung, kami sekaligus mengadakan pelatihan. Anak-anak membuat mobil-mobilan dari sampah. Mereka hanya membayar Rp 4.500 untuk pembuatan mobil-mobilan dari kardus atau styrofoam yang dapat mereka bawa pulang,” tutur Sugito.

Terlebih, saat ini ada aturan, bank sampah harus berupa badan hukum. Padahal, untuk membentuk badan hukum dibutuhkan uang yang tidak sedikit, minimal Rp 10 juta. Sementara aktivitas pengelolaan sampah itu tidak menghasilkan banyak uang.

“Memang target utama pengelolaan sampah ini tidak untuk menghasilkan keuntungan, tetapi mengatasi persoalan sampah. Dapat mengurangi sampah yang dibuang ke TPA saja sebenarnya sudah sangat baik. Jika harus dibebani lagi akan lebih berat. Warga bisa tidak bersemangat lagi mengelola sampah,” katanya.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Salatiga Prasetyo mengatakan, sampah memang menjadi persoalan yang masih sulit diatasi. Namun, beberapa kelompok masyarakat berinisiatif mengurangi sampah dengan membuat bank sampah. Tercatat ada 42 bank sampah di Salatiga.

Namun, Prasetyo menilai, bank sampah saja tidak cukup untuk mengatasi sampah yang terus menumpuk. Di Salatiga, produksi sampah mencapai 8 ton per hari. Karena itu, ke depan dibutuhkan inovasi untuk dapat mengatasi sampah.

“Kami sedang dalam penjajakan dengan investor yang akan membuat insinerator di Salatiga. Insinerator ini nantinya akan menghasilkan listrik dari pembakaran sampah dengan teknologi tinggi,” ungkapnya. (UTI)

Check Also

Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Saefullah di Lapangan IRTI, Monas, Jakarta Pusat, Senin (30/10/2017).(KOMPAS.com/NURSITA SARI)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Tugas Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum ", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/08/15/17314601/ini-tugas-tim-evaluasi-tata-kelola-air-minum. 
Penulis : Nibras Nada Nailufar
Editor : Dian Maharani

Ini Tugas Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum

JAKARTA, KOMPAS.com – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membentuk Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum. …