Home / Kliping / Limbah yang Menghijaukan Kampung
limbah

Limbah yang Menghijaukan Kampung

Air kotor dari kamar mandi atau air sisa cucian pakaian dari permukiman padat pada umumnya langsung masuk ke selokan dan mengalir ke sungai. Padahal, limbah cair dari rumah tangga itu masih bisa dimanfaatkan, seperti di Kampung Margodadi, Kelurahan Gundih, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur.

Di kampung yang dekat dengan Stasiun Pasar Turi itu, air kotor dari selokan ditampung, diolah lagi, dan kemudian digunakan untuk menyiram tanaman milik warga di pekarangan rumah. Ketika menyiram tanaman, sebagian air jatuh ke jalan kampung yang terbuat dari paving block dan meresap ke dalam tanah. Sebagian lagi jatuh ke selokan dan kembali digunakan untuk menyiram tanaman. Kampung Margodadi lalu menciptakan siklus airnya sendiri.

Untuk dapat melakukan itu, warga Margodadi hanya membutuhkan teknologi sederhana yang disebut alat pengolah air limbah (APAL). Keseluruhan sistem APAL itu terdiri dari tiga bak endapan air yang ditanam di dalam tanah dan satu alat penyaring yang diperkuat pompa air.

Warga yang menjadi pelopor APAL di kampung itu, Edi Martono, Jumat (8/1), mengatakan, air dari selokan ditampung di bak penampung berdiamater sekitar 80 sentimeter. Bak pertama dan kedua sedalam 1 meter, sedangkan bak ketiga sedalam 3 meter. Dasar setiap bak penampung diberi bahan penyaring, seperti ijuk, batu koral, dan karbon aktif.

Setelah tiga tahap pengendapan, air itu kemudian ditarik menggunakan pompa menuju alat penyaring yang berada di atas tanah. Alat penyaring itu terbuat dari empat pipa paralon yang dicat biru. Air dari bawah dialirkan melalui ke setiap tabung yang masing-masing juga berisi ijuk dan karbon aktif. Tabung terakhir diisi batu zeolit yang berfungsi menjernihkan air dan menghilangkan bau.

Air yang sudah bersih kemudian dialirkan ke pipa yang disalurkan ke beberapa titik di sepanjang gang kampung dan dimanfaatkan warga satu RT atau sekitar 60 keluarga. Setiap pagi atau sore, pompa air dinyalakan dan air itu dapat digunakan warga untuk menyiram tanaman hias ataupun tanaman buah, membuat sepanjang jalan di gang yang cukup dilewati satu mobil itu teduh.

Air yang mengalir memang tidak lagi bau, terkesan seperti air bersih dari perusahaan air minum. Melalui proses penyaringan, kadar asam dapat direduksi sehingga tidak merugikan tanaman. Dari APAL itu, air yang dapat dihasilkan sebanyak 34 liter per menit.

“Tahun 2010, kami mulai membuat APAL ini secara swadaya, dengan ide kami dan uang kami,” kata Edi. Ide itu muncul ketika penghijauan di kampung yang dirintis pada 2008 membuat mereka menjadi pemenang lomba-lomba lingkungan tingkat kota.

Setelah memiliki kampung yang penuh dengan tanaman, mereka kemudian memikirkan bagaimana cara menyiram tanaman itu. Dengan hadiah dari lomba, mereka membuat tiga unit APAL. Dua unit dipasang di Kampung Margorukun, yang juga masih di wilayah Kelurahan Gundih. Mereka membuat APAL secara bergotong royong di salah satu rumah warga, siang dan malam.

Keberadaan APAL membuat Gundih semakin tersohor karena terus memenangi lomba lingkungan di Surabaya. Pada 2012, Boediono yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Presiden menyempatkan diri melihat kampung itu. Selanjutnya, silih berganti tamu dari sejumlah daerah di Jawa Timur dan bahkan luar negeri, seperti Jepang, Brasil, dan Amerika Serikat, juga datang untuk mengamati kampung itu.

APAL yang semula hanya ada tiga kemudian bertambah menjadi banyak dan total saat ini ada sekitar 30 unit APAL di Gundih. Pembuatan APAL itu didukung dengan pembiayaan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri. Jika pembuatan satu unit APAL membutuhkan sekitar Rp 10 juta, warga tinggal mengeluarkan biaya Rp 2 juta.

“Bahkan, saya kemudian sering diminta membantu membuatkan APAL di beberapa sekolah di Surabaya. Saya semakin senang,” ucap Edi. Semakin banyak tempat yang menggunakan APAL, ujarnya, semakin terjaga pula kondisi air bawah tanah di Surabaya karena penggunaan air bersih dapat dihemat.

Edwin Murdhani, putra Edi Martono yang menjadi kader lingkungan di wilayah itu, menyebutkan, warga bisa menghemat sekitar 3 galon air bersih setiap hari ketika ada APAL. Mereka tidak lagi membuang air bersih untuk menyiram tanaman.

Perumahan

Di Surabaya, konsep pemanfaatan limbah cair rumah tangga itu mulai diadopsi perumahan untuk warga kelas menengah ke atas, seperti yang dilakukan PT Intiland Development Tbk melalui proyek Graha Natura di kawasan barat Surabaya. Perumahan itu tidak menggunakan septic tank. Semua limbah cair juga langsung diolah dan digunakan untuk menyiram taman.

Kepala Deputi Proyek Graha Natura Renny Mariska mengatakan, model pengolahan limbah yang menggunakan teknik isap (vacuum) itu sudah banyak diterapkan di Eropa. Semua peralatan yang digunakan di Graha Natura juga diimpor dari Belanda dengan total investasi sekitar Rp 15 miliar.

Limbah cair diolah dalam tiga tahap. Semua limbah cair, terutama dari kamar mandi atau tempat cucian, akan masuk ke bak penampung yang ditanam di luar rumah. Bak penampung itu digunakan oleh 4-5 rumah.

Jika ketinggian limbah cair di bak penampung sudah mencapai sekitar 30 sentimeter, secara otomatis limbah akan terisap ke bak penampung selanjutnya. Setelah ditampung, limbah cair itu kemudian dialirkan lagi ke pusat pengolahan yang disebut sewage treatment plant. Selanjutnya, air hasil pengolahan limbah dapat dipakai lagi untuk menyiram taman.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya Musdiq Ali Suhudi mengatakan, belum banyak kawasan hunian di Surabaya yang mampu mengolah dan memanfaatkan limbah cair. “Tahun ini, kami mulai menyiapkan aturan bahwa nanti semua wilayah wajib memiliki alat pengolah limbah rumah tangga,” katanya.

Musdiq menyadari, upaya mendorong pemanfaatan limbah cair rumah tangga itu tidak mudah. Setidaknya komitmen yang ditunjukkan warga Gundih bisa menjadi harapan dan diharapkan terus menular.

(HERPIN DEWANTO)

Check Also

Foto udara hunian warga disekitar bantaran Kali Ciliwung yang membelah Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Bukit Duri, Jakarta Selatan, Selasa (26/6/2018). DPRD DKI Jakarta meminta Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta segera memulai lagi normalisasi sungai. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 26-06-2018 *** Local Caption *** Foto udara hunian warga disekitar bantaran Kali Ciliwung yang membelah Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Bukit Duri, Jakarta Selatan, Selasa (26/6/2018). DPRD DKI Jakarta meminta Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta segera memulai lagi normalisasi sungai. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 26-6-2018(KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pemprov DKI Bagikan Karung Agar Warga Tak Buang Sampah ke Kali", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/11/18/14160901/pemprov-dki-bagikan-karung-agar-warga-tak-buang-sampah-ke-kali. 
Penulis : Nursita Sari
Editor : Andri Donnal Putera

Pemprov DKI Bagikan Karung Agar Warga Tak Buang Sampah ke Kali

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji mengimbau warga untuk tidak …