Home / Inovasi / Menghijaukan Bantaran Kota Sungai
bantaran kali

Menghijaukan Bantaran Kota Sungai

Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dikenal dengan julukan “Kota Seribu Sungai”. Paling tidak ada 195 sungai yang mengalir di kota seluas 98,46 kilometer persegi itu. Namun, sebagian besar sungai yang ada masih jauh dari kesan asri. Kondisi itulah yang mendorong komunitas warga turun ke sungai dan menghijaukan bantaran sungai.

Hujan yang turun sejak subuh, akhir Desember lalu, masih menyisakan gerimis. Namun, pagi bergerimis itu tidak menyurutkan tekad puluhan warga yang tergabung dalam Forum Komunitas Hijau Kota Banjarmasin turun ke sungai. Mereka bersiap menanam pohon rambai padi (Sonneratia sp) di bantaran Sungai Kerokan yang sejajar dengan Jalan Jafri Zam-zam di Banjarmasin Tengah.

Di Sungai Kerokan, beberapa orang mulai mendorong sebuah sampan yang sarat dengan bibit pohon rambai padi dan potongan-potongan kayu galam (Melaleuca cajuputi) berukuran panjang kira-kira 2 meter. Pakaian mereka basah karena berendam di sungai dengan kedalaman antara 50 sentimeter (cm) dan 150 cm.

Saat sampan menepi, anggota komunitas yang masih berada di tanggul turun untuk membantu rekannya menanam pohon rambai padi. Dengan menggunakan potongan kayu galam, mereka membuat lubang di lumpur sungai, kemudian memasukkan bibit pohon rambai padi ke lubang itu. Supaya tanaman rambai padi tetap berdiri tegak, mereka menancapkan sepotong kayu galam dan mengikatnya dengan bibit pohon yang baru ditanam.

Bibit pohon rambai padi ditanam dengan jarak antarpohon sekitar 2 meter. Hampir dua jam, warga berkubang di lumpur sungai untuk menanam pohon rambai padi di sisi kiri dan kanan Sungai Kerokan.

“Kami menanam 110 bibit pohon rambai padi di sepanjang bantaran Sungai Kerokan. Aksi ini merupakan lanjutan dari aksi kami sebelumnya. Lima bulan yang lalu, di bantaran sungai ini, kami menanam 200 pohon rambai padi. Alhamdulillah, hasilnya bagus,” kata Wakil Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin Muhammad Ary.

Ary mengatakan, kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian warga masyarakat yang ingin menyukseskan Banjarmasin sebagai kota hijau. Apalagi, Pemerintah Kota Banjarmasin sudah berkomitmen menjadikan Banjarmasin sebagai kota hijau.

“Kami pun dengan ikhlas dan sukarela menyumbangkan tenaga kami untuk membuat sungai menjadi bersih, lingkungan menjadi hijau, dan jalanan menjadi teduh,” ujarnya.

Karena saat ini musim hujan, warga dari berbagai profesi yang tergabung dalam FKH pun gencar menanam pohon, terutama di bantaran sungai. Tujuannya untuk mengembalikan keindahan sungai di Kota Banjarmasin.

Berdasarkan data Dinas Sumber Daya Air dan Drainase Pemkot Banjarmasin, dari 195 sungai di Banjarmasin, ada 102 sungai yang airnya masih mengalir secara optimal. Sejumlah sungai tidak terlihat lagi karena tertutup bangunan dan permukiman.

Sekretaris FKH Banjarmasin Hasan Zainuddin mengatakan, penanaman pohon rambai padi di bantaran sungai gencar dilakukan setahun terakhir. Sebelumnya, FKH lebih banyak menanam pohon di pinggir-pinggir jalan protokol. Aksi penghijauan kota ini sudah mereka lakukan selama lebih dari lima tahun.

Menahan abrasi

“Khusus untuk menghijaukan sungai-sungai yang ada di Banjarmasin, kami menanam pohon rambai padi, sejenis mangrove yang bisa menahan abrasi. Tanaman rambai padi ini juga bisa menyerap polutan dan menghasilkan oksigen. Selain itu, pucuk dan buahnya merupakan makanan kesukaan bekantan (Nasalis larvatus),” kata Hasan.

Menurut Hasan, penanaman pohon rambai padi sudah dilakukan di beberapa bantaran sungai. Selain di bantaran Sungai Kerokan, penanaman dilakukan di bantaran Sungai Pangeran, Sungai Kedaung, dan Sungai Martapura.

Namun, tidak semua pohon rambai padi yang ditanam tumbuh dengan baik. Ada yang mati karena air sungai berubah menjadi asin akibat terintrusi air laut, ada pula yang mati karena dicabut warga. “Namun, kami tidak menyerah. Kami terus berusaha menghijaukan sungai-sungai di Banjarmasin dengan pohon rambai padi agar sungai-sungai kembali hijau seperti semula,” ujar Hasan.

Ary mengatakan, masih ada beberapa sungai yang menjadi perhatian mereka dan menjadi target penghijauan berikutnya. Sungai-sungai tersebut menjadi cermin kekumuhan perkotaan di Banjarmasin. “Karena itu, melalui aksi nyata, kami mengajak warga lainnya terlibat membersihkan dan menghijaukan sungai-sungai yang ada,” katanya.

Kepala Bidang Pengembangan Wisata Dinas Pariwisata, Seni, dan Kebudayaan Kota Banjarmasin Khuzaimi mengatakan, pihaknya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas inisiatif dan kepedulian warga yang tergabung dalam FKH membersihkan dan menghijaukan sungai. “Keterlibatan masyarakat ini merupakan bentuk sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam membangun kota,” katanya.

Menurut Khuzaimi, sungai yang menjadi ciri khas kota Banjarmasin perlu dipercantik untuk menjadi daya tarik wisata. Khusus untuk kawasan di sekitar Sungai Kerokan, Pemkot Banjarmasin akan mengembangkannya menjadi kawasan kota pusaka. “Kami bekerja sama dengan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan membuat jalur wisata susur sungai di Sungai Kerokan,” katanya.

Pemkot Banjarmasin dalam rancangan pembangunannya ingin semakin menegaskan Banjarmasin sebagai kota tematik sungai. Sungai-sungai yang ada dijaga kebersihan dan keindahannya. Sungai yang bersih dan hijau tentunya akan menjadi magnet wisata.

“Kami mengundang generasi muda di Kota Banjarmasin yang jumlahnya hampir 200.000 orang terlibat dan melakukan aksi nyata,” ujar Ary.

About hildaje