Home / Kliping / Pengerukan Waduk Tersendat
waduk_keruk

Pengerukan Waduk Tersendat

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah waduk yang direncanakan dibangun tahun 2014 hingga kini belum jelas kelanjutannya. Sebagian lahan untuk waduk sudah dikeruk, tetapi pekerjaan di lapangan terhenti. Penyebabnya, antara lain, alat berat dicuri dan lahan belum dibebaskan.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Rabu (20/1), mengungkapkan hal itu di Balai Kota Jakarta.

Pemprov DKI berencana membangun sembilan waduk baru semasa pemerintahan mantan Gubernur DKI Joko Widodo. Lokasinya di Rorotan, Marunda, Cengkareng, Brigif di Jagakarsa, Pondok Rangon (dua waduk), Giri Kencana, dan Rambutan (dua waduk).

Menurut rencana, waduk-waduk itu akan digunakan sebagai tempat penampungan dari saluran air di sekitarnya sebelum dialirkan ke laut. Sembilan waduk itu diperkirakan mampu menampung hingga 3,4 juta meter kubik air per kedalaman 1 meter. Jika rata-rata kedalaman waduk 5 meter, sembilan waduk itu bisa menampung 17 juta meter kubik air.

Namun, di beberapa lokasi tersebut tidak tampak aktivitas pekerjaan pembuatan waduk. Di Marunda, Jakarta Utara, misalnya, pekerjaan pengerukan yang telah dilakukan tahun 2014 belum dilanjutkan. Hal yang sama juga terjadi di Waduk Brigif. Alat berat yang berada di lokasi juga tidak dipakai.

Basuki menambahkan, ada pihak tertentu di Dinas Tata Air DKI yang menghendaki pembangunan waduk dikerjakan swasta. Sementara Basuki menginginkan pembangunan waduk dikerjakan secara swakelola.

Dia telah mencopot oknum-oknum tersebut dan menggantinya dengan pejabat baru. Kepala dinas yang baru telah diperintahkan untuk segera membereskan pekerjaan yang terbengkalai. “(Waduk) yang terbengkalai segera dibereskan. (Waduk) yang baru segera dibangun,” ujar Basuki.

Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta Teguh Hendarwan mengatakan, berdasarkan inventarisasi terakhir pada Desember 2015, terdapat 108 waduk, embung, dan situ yang ada di Jakarta. “Pembuatan waduk tidak boleh berhenti, tetap harus berlanjut. Hal terpenting yang harus dilakukan selain itu adalah mengamankan tanah aset yang sudah dibebaskan untuk waduk. Waduk harus dikembalikan fungsinya sebagai tampungan air,” ujarnya.

Tahun ini Pemprov DKI berencana membangun 19 waduk baru untuk menambah lokasi tampungan air. Teguh belum menyebutkan lokasi waduk yang akan dibangun secara rinci. “Mudah-mudahan tahun ini bisa direalisasikan. Aset (lahan) yang sudah dibayarkan pembeliannya belum dieksekusi,” kata Teguh.

Normalisasi Cisadane

Normalisasi Sungai Cisadane tahap awal sepanjang 6 kilometer dimulai awal 2016 ini. Program yang sempat tertunda itu dianggarkan Rp 250 miliar. “Tahun ini normalisasi Sungai Cisadane tahap awal dimulai. Progresnya saat ini sudah masuk dalam persiapan tahap pelelangan. Bulan Juni atau Juli diharapkan mulai dilakukan pembangunan konstruksi,” kata Kepala Balai Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane T Iskandar seusai diskusi Jakarta Kota Sungai di redaksi harian Kompas, Selasa.

Iskandar mengatakan, normalisasi akan dilakukan secara bertahap. “Dari semua titik yang akan dinormalisasi, yang sangat diprioritaskan adalah hilir, yakni Tanjung Burung. Kondisi sedimentasi hilir sungai ini sangat parah,” ujarnya.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Mudjiadi membenarkan, normalisasi Sungai Cisadane sudah diwacanakan sejak 2014. Dalam rencana itu, normalisasi akan dilakukan tahun 2015-2018.

“Proyek normalisasi ini memang telat dimulai. Seharusnya sudah dimulai dua tahun lalu, satu paket dengan sodetan Ciliwung-Cisadane. Dananya bersumber dari bantuan Jepang. Namun, karena pembangunan sodetan ditolak Wali Kota dan Bupati Tangerang, proyek itu urung dilakukan dan ditunda,” kata Mudjiadi.

Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar menyambut baik realisasi normalisasi sungai tersebut. Terkait akan dimulainya proyek berkesinambungan itu, Zaki menjelaskan, pihaknya segera mengambil langkah menertibkan sempadan sungai. “Mudah-mudahan normalisasi segera dilakukan. Kalau benar-benar sudah siap, kami akan menertibkan sempadan sungai,” katanya.

Jika normalisasi dilakukan, banjir yang setiap tahun berulang terjadi di Tanjung Burung dan sekitarnya akan teratasi.

Turap jadi area publik

Pemerintah Kota Tangerang menurap dan menata sepanjang 1.450 meter pinggiran Sungai Cisadane. Kawasan sempadan itu akan dijadikan area publik taman, khususnya di sekitar Jembatan Unis dan Jalan GJA Karawaci. “Akhir tahun mudah-mudahan sudah kelar sehingga masyarakat bisa menikmati keindahan Kali Cisadane sambil bermain di taman yang telah terbangun,” kata Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah.

Di lokasi proyek penurapan, kata Arief, juga akan dibangun masjid terapung sebagai ikon baru Kota Tangerang.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang Ivan Yudhianto menjelaskan, penataan kawasan pinggiran Sungai Cisadane mulai dilakukan pada semester kedua tahun 2015. Di antaranya meliputi pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) yang tersebar di empat lokasi dan pembangunan penerangan jalan umum (PJU) di empat kawasan.

Dalam rencana, kata Ivan, RTH akan dilengkapi Tugu Benteng, air mancur meriam, air mancur Plaza Benteng Jaya, dan tribune di Taman Dadang Suprapto.

Sementara pembangunan PJU, kata Ivan, akan disebar di Jalan Benteng Jaya dan Dadang Suprapto. Normalisasi Sungai Cisadane akan melintasi Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang (hilir).

Berdasarkan hasil kajian BBWSCC, pinggiran sungai itu yang akan dinormalisasi membentang sepanjang 26 km.

Anggaran normalisasi tersebut diperkirakan mencapai Rp 1,8 triliun. Namun, pada tahap awal senilai Rp 250 miliar.

Konsep normalisasi Sungai Cisadane sama dengan Sungai Ciliwung, yakni pengerukan untuk bagian sungai yang dangkal (terjadi sedimentasi) disertai pembangunan turap di pinggir sungai yang longsor.

Tanggul laut

Tanggul laut tipe A yang membentengi pesisir Jakarta baru sebagian kecil dibangun pada 2015. Data Dinas Tata Air DKI menunjukkan, tanggul yang selesai baru 1,8 km.

Tanggul ini direncanakan dibangun sepanjang 95,188 km, melibatkan pemerintah pusat, swasta, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. DKI sendiri memiliki kewajiban sepanjang 9,6 km.

Pemerintah akan mengintensifkan pembangunan tanggul laut pada 2016 ini. Meski begitu, sejumlah warga, terutama yang tinggal di dekat lokasi tanggul, belum mengetahui rencana pembangunan tanggul tersebut.

Tanggul laut tipe A telah terlihat berdiri di daerah Muara Baru hingga sekitar Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu. Tanggul setinggi lebih kurang 3 meter terbentang di pesisir pantai, dari tepian laut di depan Pelabuhan Sunda Kelapa hingga di bagian ujung dekat Pelabuhan Muara Baru. Kelak, setelah tanggul berdiri, lautan atau muara di seberang tidak lagi terlihat oleh warga dari daratan Jakarta.

Rudin (65), warga RT 003 RW 003, Luar Batang, Penjaringan, menuturkan, pengerjaan itu selesai sekitar satu bulan lalu. Puluhan pekerja bekerja terus setiap hari sehingga akhirnya tanggul dengan tinggi 3 meter lebih itu terbangun. “Selama ini, belum ada pemberitahuan dari pemerintah,” ucap Rudin yang sehari-hari bekerja mengantar warga menyeberang dari Luar Batang ke Sunda Kelapa.

Rudin khawatir akan tergusur hingga akhirnya tidak mempunyai tempat. Selain itu, mata pencariannya sebagai ojek kapal juga hilang dengan adanya tanggul yang tinggi. (FRO/PIN/JAL)

About hildaje

Check Also

sampah di pulau tidung

Sampah di Pulau Tidung Diangkut

Sampah di Pulau Tidung telah berhasil diangkut petugas Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu. Pengangkutan …