Home / Kliping / Sistem Drainase Belum Terhubung
drainase

Sistem Drainase Belum Terhubung

JAKARTA, KOMPAS — Sistem aliran air di sekitar Waduk Pluit, Jakarta Utara, belum tersambung meski kapasitas waduk terus bertambah. Dengan intensitas hujan yang cukup tinggi, kawasan sekitar waduk, khususnya di Muara Baru, dapat dipastikan terendam.

Hujan yang mengguyur wilayah Muara Baru, awal bulan lalu, misalnya, telah merendam sebagian besar wilayah di RW 017, Penjaringan, Jakarta Utara. Ketinggian air bisa mencapai 50 sentimeter.

Sari (35), warga RT 019/RW 017, menyampaikan, genangan di sekitar rumahnya acap kali terjadi saat hujan tiba. Meski demikian, air jauh lebih cepat surut dibandingkan dengan sebelumnya.

“Tingginya bisa sampai selutut, tergantung lamanya hujan juga. Turunnya bisa setengah jam setelah hujan reda,” ucap ibu dua anak ini saat ditemui di rumahnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Sari, kondisi seperti ini masih sama sejak dia tinggal di wilayah itu tujuh tahun lalu. Genangan selalu muncul setiap hujan tiba. Bahkan, pada 2013, banjir merendam wilayah itu selama beberapa hari.

Untuk menanggulangi banjir, pemerintah terus mengupayakan normalisasi saluran air sekaligus pengerukan dan penyedotan lumpur di Waduk Pluit. Penertiban bangunan dilakukan untuk mengembalikan fungsi sempadan waduk dan mengantisipasi bangunan yang roboh saat penyedotan lumpur dilakukan.

Sejak pertengahan tahun lalu, pengerukan dan penyedotan lumpur waduk diintensifkan. Dua mesin penyedot lumpur yang terhubung dengan tongkang melalui selang panjang terus bekerja di waduk seluas 78 hektar itu.

Pemerintah menargetkan penyedotan 1,2 juta meter kubik lumpur hingga akhir tahun bisa terselesaikan. Harapannya, waduk berfungsi maksimal sebelum memasuki musim hujan.

Kepala Bidang Sungai dan Pantai Sistem Aliran Timur Dinas Tata Air Provinsi DKI Jakarta Heria Suwandi menuturkan, volume lumpur yang telah dikeruk mencapai 900.000 meter kubik. Kedalaman waduk telah mencapai sekitar 5 meter.

Menurut Suwandi, pengerjaan yang dilakukan swasta itu terhambat karena sejumlah hal. Salah satu yang paling menghambat adalah sampah di waduk sangat banyak. Meski demikian, sejauh ini, volume waduk telah bertambah dan bisa menampung jauh lebih banyak air.

“Untuk daerah sisi selatan dan barat waduk tidak terlalu masalah karena aliran air tidak terhambat. Dari sisi timur, waduk belum terhubung. Apalagi, Kali Gendong belum selesai dinormalisasi. Selain itu, sistem drainase dari saluran air belum terkoneksi dengan baik,” ucapnya. Kali Gendong yang panjangnya lebih dari 2 kilometer baru dikerjakan sekitar 700 meter. Pengerjaan sheet pile kali itu baru sekitar 500 meter dengan lebar 10 meter.

Sementara sekitar 2 kilometer kali yang lain masih penuh bangunan. Lebar kali hanya 1 meter, penuh sampah dan tiang-tiang bangunan milik warga. (JAL)

Check Also

Jalur 10 di Stasiun Manggarai ditutup sejak 23 Januari 2019. Hal itu dilakukan guna mempercepat revitalisasi Stasiun Manggarai. Jalur 10 yang biasa ditempati oleh KRL jurusan Jakarta-Depok/Bekasi akan dialihkan ke jalur 8, 5, dan 4. Meski penutupan telah berlansung selama tiga hari, tidak tampak adanya penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai. Sejumlah penunjuk arah dipasang begitu juga dengan petugas stasiun yang mengarahkan para penumpang, Sabtu (26/1/2019).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

Pemindahan KA Jarak Jauh dari Stasiun Gambir ke Manggarai, Wujudkan Konsep Lama…

JAKARTA, KOMPAS.com – Stasiun Gambir, Jakarta Pusat tak lagi melayani angkutan Kereta Api (KA) jarak …