Home / Kliping / Jakarta Tidak Siap Mengelola Air
mengelola air jakarta

Jakarta Tidak Siap Mengelola Air

mengelola air jakarta

CIANJUR, KOMPAS — Kebutuhan air 10 juta jiwa warga DKI Jakarta mencapai 26.000 liter per detik. Dengan produksi sebanyak 17.000 liter per detik, defisit 9.000 liter per detik menandakan Ibu Kota tidak siap mengelola air sendiri.

Pasokan air ke Jakarta diperoleh dari luar Ibu Kota sebanyak 94,3 persen, sisanya dari sungai lokal yang hanya 5,7 persen. Di Jakarta, ada 817.000 pelanggan air bersih yang terdiri atas 412.000 pelanggan PT Aetra Air Jakarta dan 405.000 pelanggan PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja). Demikian terungkap dalam lokakarya jurnalis oleh Palyja di Puncak Pass, Cianjur, Kamis (21/1).

Kekurangan air mengakibatkan terus terjadi pemanfaatan air tanah dan menyebabkan permukaan tanah turun 7 sentimeter per tahun. Selain itu, pencurian air dari jaringan pipa milik Palyja dan Aetra pun marak.

Ketidaksiapan itu, menurut anggota Dewan Pengarah Kemitraan Air Indonesia, Firdaus Ali, akibat belum ada satu badan terpadu yang mengelola air tanah, air minum, dan air limbah. Untuk air minum, Ibu Kota mengandalkan Palyja yang melayani pelanggan di sisi barat Ciliwung dan Aetra untuk pelanggan di sisi timur Ciliwung.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki dan menghidupkan kembali Perusahaan Daerah PAM Jaya dan PD PAL Jaya. PAM dan PAL dalam proses penggabungan yang pada masa datang didorong untuk mengambil alih peran Palyja dan Aetra. Masa kontrak kedua operator swasta itu berakhir pada 2023.

Direktur Utama PD PAM Jaya Erlan Hidayat mengatakan, lembaga ini tertidur selama 18 tahun. Aset-aset selama ini dikelola Palyja dan Aetra. “Jika mendadak diminta operasional, jelas tidak siap,” katanya di sela lokakarya.

Dalam konteks itulah layanan Palyja dan Aetra masih dibutuhkan. Namun, PAM dan PAL harus segera bergabung dan berbenah agar siap jika harus mengambil alih peran swasta. Kini, PAM bekerja sama dengan PT Jakarta Propertindo membangun dan mengoperasikan instalasi pengolahan air di Taman Kota, Jakarta Barat, berkapasitas 200-300 liter per detik.

Erlan mengatakan, PAM memerlukan investasi baru untuk membangun jaringan pipa terpadu. Namun, keinginan mendapat suntikan dana dari penyertaan modal pemerintah ditolak. “Jadi kurang lincah,” katanya.

Saat gerak PAM tersendat, Presiden Direktur Palyja Alan Thompson mengungkapkan, tahun ini akan berinvestasi Rp 120 miliar di produksi, pemipaan, dan meter pengukur, antara lain di Fatmawati, Kuningan, dan Cilandak (Jakarta Selatan) serta Muara Baru (Jakarta Utara).

Selain itu, menurunkan kehilangan air dari 39,3 persen tahun lalu ke 37,8 persen tahun ini. Caranya, perbaikan jaringan pipa dari 13 kilometer (km) ke 20 km, penutupan kebocoran dari 28.000 lokasi ke 30.000 lokasi, pemutusan pipa lama dari 80 km ke 100 km, penanganan kasus pencurian air dari 2.600 temuan ke 5.000 temuan. (BRO)

Check Also

Foto udara hunian warga disekitar bantaran Kali Ciliwung yang membelah Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Bukit Duri, Jakarta Selatan, Selasa (26/6/2018). DPRD DKI Jakarta meminta Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta segera memulai lagi normalisasi sungai. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 26-06-2018 *** Local Caption *** Foto udara hunian warga disekitar bantaran Kali Ciliwung yang membelah Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Bukit Duri, Jakarta Selatan, Selasa (26/6/2018). DPRD DKI Jakarta meminta Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta segera memulai lagi normalisasi sungai. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 26-6-2018(KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pemprov DKI Bagikan Karung Agar Warga Tak Buang Sampah ke Kali", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/11/18/14160901/pemprov-dki-bagikan-karung-agar-warga-tak-buang-sampah-ke-kali. 
Penulis : Nursita Sari
Editor : Andri Donnal Putera

Pemprov DKI Bagikan Karung Agar Warga Tak Buang Sampah ke Kali

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji mengimbau warga untuk tidak …