Home / Kliping / Jakarta Masuk Puncak Hujan
Petugas kebersihan memindahkan ranting dari pohon yang tumbang di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (1/2). Pohon dengan diameter setengah meter itu tumbang saat hujan deras mengguyur Ibu Kota dan menimpa satu mobil yang tengah melintas. Tak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Petugas kebersihan memindahkan ranting dari pohon yang tumbang di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (1/2). Pohon dengan diameter setengah meter itu tumbang saat hujan deras mengguyur Ibu Kota dan menimpa satu mobil yang tengah melintas. Tak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Jakarta Masuk Puncak Hujan

Hujan di Hulu dan Hilir Disertai Pasang Laut, Banjir Diprediksi Terjadi 1-2 Pekan Lagi

JAKARTA, KOMPAS — Cuaca di Jakarta diprediksi mulai memasuki puncak musim hujan. Curah hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya mulai menunjukkan intensitas yang meningkat meski curah hujan masih dalam intensitas sedang. Diperkirakan, puncak musim hujan akan turun pada minggu kedua Februari.

Petugas kebersihan memindahkan ranting dari pohon yang tumbang di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (1/2). Pohon dengan diameter setengah meter itu tumbang saat hujan deras mengguyur Ibu Kota dan menimpa satu mobil yang tengah melintas. Tak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Petugas kebersihan memindahkan ranting dari pohon yang tumbang di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (1/2). Pohon dengan diameter setengah meter itu tumbang saat hujan deras mengguyur Ibu Kota dan menimpa satu mobil yang tengah melintas. Tak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) A Fachri Radjab memperkirakan, wilayah Jabodetabek saat ini telah memasuki puncak musim hujan. Potensi terjadinya hujan dengan intensitas tingi hingga ekstrem mulai terlihat.

“Kondisi massa udara di utara terus bergerak ke selatan. Sementara angin dari selatan, yaitu Samudra Hindia, juga bergerak ke wilayah Indonesia. Dalam perkiraan kami, puncak musim hujan mulai minggu pertama hingga pertengahan Februari,” tutur Fachri, Senin (1/2).

Puncak musim hujan saat ini mundur jika dibandingkan dengan tahun lalu. Potensi hujan tinggi yang turun dalam waktu singkat semakin besar. Selain itu, lanjut Fachri, bisa terjadi hujan lebat di bagian hulu (Puncak dan Bogor), bersamaan dengan hujan di Jakarta. “Sementara puncak rob juga terjadi, maka banjir pasti terjadi,” ujarnya. Puncak rob terjadi sekitar 12 hari ke depan.

Jika melihat data Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok BMKG, curah hujan pada Januari lalu sebesar 156,7 milimeter (mm) atau sekitar 11,2 mm setiap hari. Jumlah hari hujan tercatat selama 14 hari.

“Sejauh ini masih normal. Belum ada peningkatan yang signifikan,” ucap Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok BMKG Yudi Suryadarma.

Dari catatan tahun 2015, di sekitar wilayah Jakarta Utara, curah hujan ekstrem terjadi pada 22 Januari. Hujan yang turun mencapai 111,4 mm. Saat itu, banjir menggenangi sekitar 80 persen wilayah Jakarta Utara.

Curah hujan yang tinggi lalu kembali terjadi pada 1 Februari 2015 dengan angka lebih dari 100 mm. Akan tetapi, curah hujan paling ekstrem terjadi pada 9 Februari, mencapai 361,4 mm.

Untuk mengantisipasi munculnya genangan selama musim hujan, Pemerintah Kota Jakarta Selatan mengeruk aliran Kali Cideng, yang terletak di belakang Gedung SMESCO Indonesia, di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Kali Cideng mengalir di Kelurahan Mampang, Tegal Parang, Pancoran, dan Duren Tiga. Kali selebar 6 meter itu berkelok-kelok di antara permukiman padat penduduk.

Kemarin, puluhan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) mengeruk sedimentasi Kali Cideng. Keterbatasan lahan membuat pengerukan dilakukan secara manual. Kedalaman sungai yang tadinya hanya 10-20 cm kini 50 cm.

Perlu normalisasi

Hamdani, Ketua RT 009 RW 004, Kelurahan Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, mengatakan, lebih dari 10 tahun Kali Cideng tidak pernah dikeruk. Lurah Mampang Ramli menambahkan, pengerukan Kali Cideng harus hati-hati. “Kali berada di antara permukiman warga. Kalau pengerukan dilakukan terlalu dalam, bisa-bisa rumah warga tergerus,” katanya.

Menurut Ramli, untuk membersihkan Kali Cideng secara keseluruhan, perlu ada normalisasi. Lahan di kiri kanan kali harus dibebaskan sehingga pengerukan bisa dilakukan secara maksimal.

Harapan serupa diucapkan warga Kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta Timur, yang masih dibayangi banjir luapan Kali Sunter. Banjir diyakini terjadi karena pekerjaan normalisasi Kali Sunter, khususnya di RW 003 dan 004, berhenti karena terkendala pembebasan lahan.

Lurah Cipinang Melayu Eko Kusdaryanti mengatakan, warga bersedia swadaya membiayai pengerukan Kali Sunter dengan meminjam alat berat dari Suku Dinas Tata Air Jakarta Timur. Namun, permintaan warga tidak dikabulkan karena normalisasi Sunter dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum.

“Kemudian, kami meminta bantuan PT Wijaya Karya yang sedang mengerjakan Tol Becakayu (Bekasi, Cakung, Kampung Melayu), dan diperbolehkan. Sekarang kami sedang menunggu alat berat itu,” ujar Eko.

Normalisasi Kali Sunter sejak 2012 menjadi bagian dari proyek normalisasi Kali Pesanggrahan, Angke, Sunter, dan ditargetkan selesai 2014. Namun, hingga awal 2016, belum juga selesai.

Drainase buruk

SDN Srengseng 005 Pagi, di Jalan Srengseng Raya, Kembangan, Jakarta Barat, menurut Kosim (46), penjaga sekolah, jadi langganan banjir sejak tahun 2009. Menurut dia, wilayah itu rutin tergenang karena saluran air menyempit dan maraknya pembangunan di lokasi tersebut. Sebelum dibangun, wilayah itu berupa rawa dan sawah. Saluran yang semula 2 meter menjadi 1 meter-1,5 meter. Saluran air juga dipenuhi sampah plastik dan endapan lumpur.

Di Kota Bekasi, masalah drainase buruk juga menyebabkan sejumlah genangan muncul akibat hujan Minggu hingga Senin kemarin. Genangan air itu antara lain terdapat di persimpangan Komsen Jalan Raya Wibawa Mukti Jatiasih, Jalan Raya Jatimakmur, Kompleks Dosen IKIP Jatikramat, Perumahan Pondok Hijau Permai, Kompleks Duta Kranji, Kompleks Naga Mas, dan Teluk Pucung.

Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Air Kota Bekasi Tri Adhianto mengakui, Pemerintah Kota Bekasi akan mengeruk dan memperbaiki drainase secara bertahap di lokasi yang kerap tergenang saat hujan. Perbaikan tidak bisa dilakukan secara serentak karena keterbatasan alat berat. “Yang biasanya kerap menyumbat drainase itu sampah sehingga air hujan tidak bisa langsung mengalir,” ujar Tri.

(JAL/MDN/DNA/ILO/DEA)

Check Also

Foto udara hunian warga disekitar bantaran Kali Ciliwung yang membelah Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Bukit Duri, Jakarta Selatan, Selasa (26/6/2018). DPRD DKI Jakarta meminta Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta segera memulai lagi normalisasi sungai. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 26-06-2018 *** Local Caption *** Foto udara hunian warga disekitar bantaran Kali Ciliwung yang membelah Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Bukit Duri, Jakarta Selatan, Selasa (26/6/2018). DPRD DKI Jakarta meminta Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta segera memulai lagi normalisasi sungai. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 26-6-2018(KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pemprov DKI Bagikan Karung Agar Warga Tak Buang Sampah ke Kali", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/11/18/14160901/pemprov-dki-bagikan-karung-agar-warga-tak-buang-sampah-ke-kali. 
Penulis : Nursita Sari
Editor : Andri Donnal Putera

Pemprov DKI Bagikan Karung Agar Warga Tak Buang Sampah ke Kali

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji mengimbau warga untuk tidak …