Home / Kliping / Tanpa Akses, Warga Bayar Mahal

Tanpa Akses, Warga Bayar Mahal

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah hal masih membatasi tersedianya akses air perpipaan di wilayah Jakarta Utara. Selain debit air yang kurang, penyediaan air perpipaan di sejumlah tempat terbentur status wilayah yang tidak resmi. Akibatnya, pengeluaran warga untuk air menjadi tinggi.

Beberapa RW di Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, misalnya, belum bisa mengakses air perpipaan karena terganjal masalah lahan. Dalam aturan, pemerintah tidak boleh memberi sambungan air perpipaan di lokasi yang kepemilikannya tidak jelas.

Chaeruddin, Ketua RW 022 Kelapa Gading Barat, menuturkan, di wilayahnya terdapat 1.663 keluarga dengan total warga sekitar 4.000 jiwa. Hampir semua warga mendapatkan air dengan cara membeli. “Warga mengeluarkan puluhan ribu untuk air. Kami berharap ke depannya air semakin mudah,” ucapnya, setelah peresmian master meter di wilayah ini, Selasa (2/2).

Master meter merupakan sistem air perpipaan untuk wilayah dengan status area tidak jelas (grey area). Master meter yang mencakup 250 rumah di lingkungan ini difasilitasi oleh Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (Iuwash).

Sebelum ada master meter, warga membeli air dalam jeriken. Untuk 100 liter, warga mengeluarkan Rp 9.000 atau Rp 90.000 untuk satu kubik air. Biaya air ini lebih mahal dari tarif PDAM, yakni Rp 7.500 per meter kubik.

Warga RT 007 RW 022, Gasin Roja (58), menyampaikan, sebelum menggunakan master meter, dia mengeluarkan biaya hingga Rp 300.000 per bulan untuk air. Biasanya, dia membeli delapan jeriken air bersih yang dijajakan pedagang atau sekitar Rp 17.500 dalam sehari.

“Padahal, air itu enggak dipakai minum. Dipakai untuk mandi, nyuci, dan bersih-bersih lainnya. Sekarang lebih terukur. Januari lalu, saya pakai 6,3 kubik air, tinggal dikali Rp 14.000,” katanya.

Tarif air master meter ditetapkan Rp 14.000 sesuai kesepakatan warga. Harga ini sebenarnya masih lebih tinggi dibandingkan yang disyaratkan.

Warga lainnya, Siti (38), menyampaikan hal senada. Dalam sehari, rata-rata dia mengeluarkan Rp 15.000 untuk membeli air pikulan. Meski mempunyai sumur, Siti tetap membeli air karena air sumur telah asin.

Senior Manager Teknik dan Pelayanan PAM Jaya Elly Dermawati menyampaikan, master meter menjadi solusi terbaik untuk wilayah dalam status yang belum jelas karena pemerintah tidak boleh melakukan penyambungan di wilayah yang kepemilikan tanahnya tidak jelas.

Selama program master meter berjalan, ujar Elly, tingkat pencurian air di wilayah itu juga jauh menurun. Hal ini mengindikasikan master meter juga efektif menekan angka kehilangan air karena pencurian.

Foort Bustraan, Deputy Chief of Party Iuwash, menyampaikan, pihaknya ingin mendukung dan melayani warga yang susah dalam mengakses air bersih.

Saat ini, cakupan pelayanan air perpipaan PAM Jaya baru bisa melayani sekitar 60 persen dari total warga Jakarta. Artinya, masih ada jutaan warga yang belum mendapatkan akses air bersih perpipaan. (JAL)

Check Also

Jalur 10 di Stasiun Manggarai ditutup sejak 23 Januari 2019. Hal itu dilakukan guna mempercepat revitalisasi Stasiun Manggarai. Jalur 10 yang biasa ditempati oleh KRL jurusan Jakarta-Depok/Bekasi akan dialihkan ke jalur 8, 5, dan 4. Meski penutupan telah berlansung selama tiga hari, tidak tampak adanya penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai. Sejumlah penunjuk arah dipasang begitu juga dengan petugas stasiun yang mengarahkan para penumpang, Sabtu (26/1/2019).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

Pemindahan KA Jarak Jauh dari Stasiun Gambir ke Manggarai, Wujudkan Konsep Lama…

JAKARTA, KOMPAS.com – Stasiun Gambir, Jakarta Pusat tak lagi melayani angkutan Kereta Api (KA) jarak …