Home / Kliping / Puncak Hujan, Pompa Air Rusak
642x413x2-10-Persen-Pompa-Air-di-Jakarta-Rusak.jpg.pagespeed.ic.EZ8jalpoDd

Puncak Hujan, Pompa Air Rusak

Jakarta, Kompas – Memasuki puncak musim hujan, sejumlah pompa air di Jakarta masih rusak. Akibatnya, kerja infrastruktur penanggulangan banjir tidak maksimal. Perbaikan mesin pompa akan dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

642x413x2-10-Persen-Pompa-Air-di-Jakarta-Rusak.jpg.pagespeed.ic.EZ8jalpoDd

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Rabu (3/2), memastikan kerusakan pompa air di sejumlah titik di Jakarta Barat, yaitu pompa Tomang Barat, Tanjungan, dan Wijaya Kusuma, segera diperbaiki. Ia meminta semua pompa di kawasan itu bisa digunakan optimal pada puncak musim hujan.

Di gedung pompa Setiabudi Timur, Jakarta Selatan, dua dari enam pompa air rusak. Pembenahan pompa rusak dibutuhkan agar waduk Setiabudi Timur dapat bekerja optimal.

Komarudin, penanggung jawab Pompa Setiabudi Timur, mengatakan, dua pompa yang rusak berada di gedung lama. Pompa nomor 3 tidak berfungsi sejak tiga bulan lalu karena ada kabel yang putus dan komponen yang perlu diganti. !Untuk pompa nomor 1, sejak Januari lalu, kadang nyala kadang mati,” ujarnya.

Pompa di gedung lama berkapasitas masing-masing 1,1 meter kubik per detik. Sejak gedung baru didirikan pada 2004, pompa-pompa di gedung lama difungsikan sebagai cadangan jika debit air melebihi kapasitas ketiga pompa baru.

Jika semua pompa di gedung pompa ini tidak berfungsi, air dari waduk akan meluber ke daerah Kuningan yang berada di sebelah selatan.

Sampah

Ibnu, pegawai harian lepas di gedung pompa tersebut, mengatakan, selama bertugas, ia kerap menemukan sampah terhanyut di waduk. “Yang paling sering adalah botol plastik dan plastik bungkus makanan,” ujarnya.

Setiap pompa mempunyai sistem pembersihan sendiri. Sampah yang tersaring di bibir pompa diangkat oleh alat seperti sisir yang membawanya ke ban berjalan. Dari situ, sampah disalurkan ke bak sampah yang terletak sekitar 50 meter dari pompa air. Ibnu bertugas mengawasi jangan sampai sampah tersangkut di alat pembersih. “Kalau sedang hujan deras, alat pengangkut sampai tidak muat. Harus dibantu dengan menggunakan galah,” ujar Ibnu.

Komarudin mengatakan, Waduk Setiabudi Timur pada dasarnya berfungsi sebagai penampung air limbah daerah Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.

Dalam menjaga kebersihan waduk, petugas rumah pompa dibantu dinas kebersihan. “Sekitar seminggu sekali bak sampah di sini mereka angkut,” ujarnya.

Pada Rabu, air di waduk masih pada ketinggian 250 sentimeter, sedangkan batas aman waduk ini adalah 350 sentimeter. Lewat dari ketinggian itu, keenam pompa harus dinyalakan. “Saat ini memang masih aman,” ujar Komarudin.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebutkan, banjir menggenangi 20 RW di delapan kelurahan akibat luapan Kali Ciliwung.

Banjir terparah berada di Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur, dengan ketinggian air 10-120 cm. Akibatnya, 6.187 orang terkena dampaknya. Banjir dengan ketinggian hingga 120 cm juga menggenangi Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, mengakibatkan genangan di tujuh RW.

Kepala Bidang Informatika dan Pengendalian BPBD DKI Jakarta Bambang Surya Putra mengatakan, banjir menggenangi lokasi lain, yaitu Kelurahan Bidaracina, Kelurahan Pasar Minggu, Kelurahan Pejaten, Kelurahan Pengadegan, dan Kelurahan Rawajati, Kelurahan Kebon Baru, dan Kelurahan Bukit Duri. Hingga siang kemarin, air yang menggenangi permukiman masih disedot dengan pompa.

Di Jakarta Barat, Suku Dinas Tata Air sedang berfokus membongkar inrit atau jembatan penghubung di atas saluran yang mengganggu aliran air.

Kepala Seksi Pemeliharaan Sudin Tata Air Jakarta Barat Santo menuturkan, pembongkaran inrit akan dilakukan di Kelurahan Krendang, Jelambar, Maphar, dan Krukut. Inrit yang terpasang di rumah-rumah warga terbuat dari beton dan sering menghambat saluran air.

(C10/FRO/DEA)

Check Also

Pekerja akan memindahkan sejumlah tiang yang menghalangi jalur sepeda di Jalan Asia Afrika, Jakarta, Rabu (01/08/2018). Jalur sepeda di sepanjang jalan ini terhalang beberapa tiang lampu penerangan jalan umum (PJU), tiang lampu lalu lintas, hingga tiang rambu penunjuk jalan.(KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI)

Perluasan Jalur Sepeda, Efektifkah untuk Mengurangi Polusi Udara?

KOMPAS.com – Bersepeda sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat DKI Jakarta. Ada yang menggunakannya …