Home / Kliping / Jakarta Rentan, Upaya Mitigasi Belum Jelas
ee872ea3c18a493ca5686a0c10b75124

Jakarta Rentan, Upaya Mitigasi Belum Jelas

JAKARTA, KOMPAS — Data terkait kesiapan bangunan gedung di wilayah DKI Jakarta menghadapi bencana gempa bumi masih buram. Belum ada pengujian, pemetaan, dan persiapan menyeluruh sebagai bentuk mitigasi bencana. Padahal, Jakarta rentan terhadap ancaman gempa berkekuatan besar.

ee872ea3c18a493ca5686a0c10b75124

Peneliti bidang kebencanaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Udrekh, Kamis (11/2), di Jakarta, menyebutkan, Jakarta memiliki kerentanan sangat tinggi terhadap ancaman gempa berkekuatan besar yang berpotensi terjadi di zona subduksi Selat Sunda. Dengan kekuatan sebesar itu, guncangan yang dirasakan Jakarta bisa mencapai skala 8 MMI (modified mercalli intensity).

Sebagai gambaran, kata Udrekh, gempa pada 2007 dan 2009 yang terasa guncangannya di Jakarta berskala 4-5 MMI dan magnitudo momen (Mw) 7. Ketika itu, sejumlah gedung tinggi di Jakarta rusak, termasuk Gedung BPPT di Jalan MH Thamrin yang retak. “Peluang gempa sangat besar. Apalagi, dari sisi waktu, kini telah memasuki siklusnya,” katanya.

Menurut Udrekh, berkaca dari gempa di Taiwan, potensi kerusakan di Jakarta bisa jauh lebih besar. Ancaman datang terutama dari gedung tua yang belum didesain tahan gempa serta bangunan tinggi yang “dikorupsi” mutu strukturnya karena alasan ekonomis. Selain itu, infrastruktur juga belum sepenuhnya siap menghadapi bencana gempa bumi.

Kepala Bidang Informatika dan Pengendalian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Bambang Surya Putra mengatakan, pengujian terhadap kekuatan struktur relatif terbatas, antara lain, karena problem kurangnya dana dan kesadaran terhadap risiko gempa. Sejumlah pengelola gedung juga membatasi akses pihak luar untuk menjangkau data, termasuk aparat pemerintah.

Akhir 2015, BPBD dan BPPT menguji lima gedung bertingkat untuk melihat kondisi dan menguji kekuatannya terhadap guncangan gempa. Pengujian, antara lain, dilakukan di Gedung Blok G dan Blok H Kompleks Balai Kota Jakarta. Hasilnya, struktur gedung dianggap tahan terhadap gempa hingga kekuatan 7 MMI.

Meskipun demikian, pengujian baru menyentuh beberapa gedung dari total lebih dari 700 gedung berlantai lebih dari tujuh di Jakarta. Selain pengujian rutin soal kondisi struktur, Jakarta juga membutuhkan peta kerentanan dan rencana kontingensi untuk menghadapi bencana gempa bumi.

Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah DKI Jakarta Ika Lestari Aji mengatakan, semua gedung dan rumah susun milik pemerintah dibangun dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 1726 tahun 2012, standar terbaru perencanaan bangunan gedung dan nongedung tahan gempa.

Kepala Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Edi Junaedi menambahkan, semua permohonan izin pendirian bangunan menggunakan standar tersebut. Dengan demikian, struktur gedung dan bangunan didesain dan dibangun dengan mempertimbangkan risiko guncangan dan geseran akibat gempa.

Tahan gempa M 8,1

Indonesia sebenarnya sudah memiliki SNI konstruksi tahan gempa yang disesuaikan dengan potensi kekuatan gempa di setiap daerah. Untuk wilayah DKI Jakarta, sesuai dengan standar tahun 2012, konstruksi yang ada harus mampu menahan kekuatan gempa hingga magnitudo (M) 8,1. Bahkan, temuan terbaru potensi gempa yang melanda Jakarta bisa hingga M 8,7.

“Berdasarkan SNI 1726-2012, konstruksi di Jakarta harus bisa menahan beban gempa dari zona subduksi M 8,1 dan gempa sesar darat M 7,2,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Daryono.

Ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano, mengatakan, berdasarkan riset terbaru, kekuatan gempa dari zona subduksi Samudra Hindia yang dapat berdampak hingga Jakarta kekuatannya bisa mencapai M 8,7. “Saat ini sedang diusulkan merevisi peta gempa nasional, termasuk untuk Jakarta, karena sudah ada temuan-temuan terbaru,” katanya.

MRT standar Jepang

Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami menambahkan, desain dasar MRT telah diubah untuk memenuhi berbagai macam kondisi, termasuk gempa bumi. Semula, standar gempa yang digunakan pada desain dasar MRT adalah standar Inggris atau standar Jepang.

“Sejelek-jeleknya standar yang dipakai adalah standar Jepang. Namun, ahli gempa kami mengatakan bahwa standar gempa Indonesia ternyata lebih tinggi sehingga desain dasar diubah,” katanya.

Standar gempa MRT Jakarta antara siklus 100 tahun sampai dengan 1.000 tahun. Artinya, lanjut Dono, apabila gempa masih di bawah 5 skala Richter, kereta masih dapat berfungsi dan tidak berhenti beroperasi. “Ini sudah terbukti sewaktu ada gempa di Jakarta beberapa bulan lalu. Para pekerja kami di bawah tanah tidak merasakan (getaran gempa). Hasil inspeksi di lapangan menunjukkan semua struktur kami tidak ada yang retak,” ujarnya.

Kereta akan berhenti beroperasi otomatis apabila gempa mencapai kekuatan 8 skala Richter. Kereta juga akan berhenti jika ada gempa dengan kekuatan antara 5 dan 8 skala Richter. “Jika dibutuhkan, kami akan melakukan pemeriksaan dan perbaikan,” katanya.

(AIK/FRO/MKN/MDN/DNA)

Check Also

Jalur 10 di Stasiun Manggarai ditutup sejak 23 Januari 2019. Hal itu dilakukan guna mempercepat revitalisasi Stasiun Manggarai. Jalur 10 yang biasa ditempati oleh KRL jurusan Jakarta-Depok/Bekasi akan dialihkan ke jalur 8, 5, dan 4. Meski penutupan telah berlansung selama tiga hari, tidak tampak adanya penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai. Sejumlah penunjuk arah dipasang begitu juga dengan petugas stasiun yang mengarahkan para penumpang, Sabtu (26/1/2019).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

Pemindahan KA Jarak Jauh dari Stasiun Gambir ke Manggarai, Wujudkan Konsep Lama…

JAKARTA, KOMPAS.com – Stasiun Gambir, Jakarta Pusat tak lagi melayani angkutan Kereta Api (KA) jarak …