Home / Kliping / 1.000 Halte Baru Segera Dibangun
Halte yang terletak di Jalan Cempaka Putih Raya, Jakarta Pusat, ini masih bernama Halte Sekolahan, Rabu (17/2). Padahal, gedung sekolah di belakang halte ini telah dirobohkan sekitar empat tahun yang lalu.
Halte yang terletak di Jalan Cempaka Putih Raya, Jakarta Pusat, ini masih bernama Halte Sekolahan, Rabu (17/2). Padahal, gedung sekolah di belakang halte ini telah dirobohkan sekitar empat tahun yang lalu.

1.000 Halte Baru Segera Dibangun

Banyak Halte Beralih Fungsi, Calon Penumpang Enggan Memakai

Jakarta, kompasDinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta hingga kini masih menunggu realisasi program pembangunan 1.000 halte. Jika terlaksana, keberadaan 1.000 halte baru ini bisa menjawab persoalan tidak memadainya bentuk dan fungsi halte yang ada sekarang.

Halte yang terletak di Jalan Cempaka Putih Raya, Jakarta Pusat, ini masih bernama Halte Sekolahan, Rabu (17/2). Padahal, gedung sekolah di belakang halte ini telah dirobohkan sekitar empat tahun yang lalu.
Halte yang terletak di Jalan Cempaka Putih Raya, Jakarta Pusat, ini masih bernama Halte Sekolahan, Rabu (17/2). Padahal, gedung sekolah di belakang halte ini telah dirobohkan sekitar empat tahun yang lalu.

Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Andri Yansyah mengatakan, tahun lalu pengadaan 1.000 halte ini mengalami gagal lelang. “Sekarang akan diadakan lelang ulang. Kami sudah serahkan semua persyaratan yang diperlukan kepada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah supaya lelang segera berjalan dan 1.000 halte segera dibangun,” tuturnya, Sabtu (20/2).

Andri mengatakan, kondisi halte yang ada sekarang memang jauh dari memadai. Dengan banyaknya pekerjaan yang harus ditangani, perawatan sarana pendukung transportasi ini menjadi terabaikan.

Pengamatan Kompas pada pekan lalu di sejumlah wilayah di Jakarta menunjukkan, banyak halte bus yang diokupasi pihak lain atau dalam kondisi tidak layak. Hal itu membuat calon penumpang enggan menunggu angkutan umum di halte-halte tersebut.

Sejumlah halte di sepanjang Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, misalnya, dipenuhi tukang bajaj dan tukang ojek, seperti di Halte Mangga Dua dan Halte Jembatan Merah. Hal yang sama juga terjadi di Halte Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jalan Jenderal Sudirman.

Akibatnya, calon penumpang enggan atau tak bisa menunggu bus di halte-halte tersebut. Reni (29), calon penumpang bus di Mangga Dua, Jakarta Utara, mengatakan, banyak halte yang dipenuhi tukang ojek. Mereka duduk di kursi halte yang seharusnya digunakan calon penumpang. “Kalaupun di halte juga berdiri, lebih baik saya berdiri (menunggu bus) di sini tanpa harus berjalan sampai halte,” kata Reni.

Agus (33), calon penumpang Kopaja S66, menuturkan, ia lebih senang menunggu bus di kursi taman daripada harus menunggu di halte di depan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman. Menurut dia, tempat duduk di halte tak lebih nyaman daripada kursi taman. “Kalau menunggu di kursi taman, pasti bisa duduk dengan tenang. Tidak ada pedagang dan pembeli berkeliaran. Lagi pula, nanti busnya juga tetap akan berhenti di sini, kok,” ujar Agus.

Ada pula halte-halte yang namanya sudah tak sesuai dengan lokasinya. Halte di depan Panti Asuhan Vincentius Putera di Jalan Kramat, Jakarta Pusat, misalnya, diberi nama Halte Kanisius. Halte di depan Hutan Kota Dukuh, Jakarta Timur, diberi nama Halte SDN 06. Padahal, sekolah yang berada di seberang halte tersebut adalah SDN Dukuh 01 Pagi.

Di Jalan Cempaka Putih Raya, Jakarta Pusat, terdapat Halte Sekolahan dan Halte Akademi Kebidanan yang terletak saling berseberangan. Menurut warga setempat, sekitar sepuluh tahun lalu di dekat kedua halte tersebut memang ada akademi kebidanan. Namun, institusi pendidikan itu sudah pindah dan bangunannya dirobohkan sekitar empat tahun yang lalu.

Selain soal ketidaksesuaian nama halte, beberapa halte juga tak memiliki akses langsung ke jalur bus umum. Halte Pertanian di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, misalnya, terhalang dua baris mobil yang diparkir secara liar. Saat ini, halte tersebut digunakan untuk tempat berjualan pedagang kaki lima dan tempat duduk-duduk sopir ojek.

Halte RS Carolus yang terletak sekitar 300 meter dari Halte Pertanian juga kerap terganggu parkir liar. Padahal, halte ini masih digunakan calon penumpang untuk menunggu angkutan umum.

Ada pula halte bus reguler yang aksesnya terganggu jalur bus transjakarta. Jalur transjakarta Koridor II, misalnya, melintas tepat di depan Halte Katedral di seberang Gereja Katedral, Jakarta Pusat. Akibatnya, calon penumpang harus berjalan melintasi jalur busway agar dapat naik ke bus umum yang dihentikannya.

Di beberapa titik, halte bus dalam kondisi tak terawat. Di Halte Bluebird di Pertigaan Hek, Jakarta Timur, misalnya, terdapat coretan-coretan di tiang dan langit-langitnya. Satu penutup lampu copot, memperlihatkan dudukan lampu yang telah kehilangan lampunya. Penutup lampu lainnya masih utuh, tetapi terlihat kusam dan kotor. Lantainya yang terbuat dari beton pun kotor oleh debu tanah.

Sekitar 3 kilometer dari Halte Bluebird ke arah Cililitan, ada Halte 10 Nof yang diapit kios-kios pedagang kaki lima di sebelah kanan dan belakangnya. Halte ini tak memiliki lampu dan lantainya berdebu. Di salah satu sudutnya terdapat tumpukan sampah daun kering. Samar-samar tercium bau pesing dan kotoran kucing.

Halte-halte bus di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman menuju Hotel Indonesia masih tetap digunakan calon penumpang. Sayangnya, halte-halte tersebut tidak memiliki papan nama halte dan papan rute bus.

Dikelola swasta

Andri Yansyah mengatakan, 1.000 halte baru yang akan dibangun nanti sudah ditentukan spesifikasinya, yaitu panjang 5 meter dan lebar 2,5 meter. Di situ terdapat tempat duduk bagi penumpang saat menunggu angkutan umum. Di halte itu juga terdapat ruang bagi pemasang iklan yang nantinya ikut bertanggung jawab atas perawatan halte.

Andri mencontohkan spesifikasi halte itu mirip dengan halte di depan Balai Kota Jakarta. Tiang dan tempat duduk di halte terbuat dari besi anti karat. Di salah satu sisinya terdapat ruang untuk pemasang iklan.

“Pengelolaan halte ini sudah tidak bisa kami cakup karena pekerjaan sudah terlalu banyak. Perbaikan dan perawatan halte ini harus diserahkan kepada swasta. Jika pihak swasta yang membangun, mereka mendapat ruang reklame. Dengan memasang iklan, otomatis mereka akan merawat dan memberi penerangan jika tak ingin mendapat keluhan,” ujar Andri.

(FRO/C09/C10)

Check Also

Jalur 10 di Stasiun Manggarai ditutup sejak 23 Januari 2019. Hal itu dilakukan guna mempercepat revitalisasi Stasiun Manggarai. Jalur 10 yang biasa ditempati oleh KRL jurusan Jakarta-Depok/Bekasi akan dialihkan ke jalur 8, 5, dan 4. Meski penutupan telah berlansung selama tiga hari, tidak tampak adanya penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai. Sejumlah penunjuk arah dipasang begitu juga dengan petugas stasiun yang mengarahkan para penumpang, Sabtu (26/1/2019).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

Pemindahan KA Jarak Jauh dari Stasiun Gambir ke Manggarai, Wujudkan Konsep Lama…

JAKARTA, KOMPAS.com – Stasiun Gambir, Jakarta Pusat tak lagi melayani angkutan Kereta Api (KA) jarak …