Home / Kliping / Balada Bus Kota di Jalanan Jakarta.
KOMPAS/JULIAN SIHOMBING
Bus tingkat, salah satu moda angkutan umum yang pernah ada di Jakarta, dioperasikan penyelenggara bus kota terbesar di ibu kota, Perum PPD. Bus ini pada zamannya, siang malam tidak pernah sepi dari jejalan penumpang.
KOMPAS/JULIAN SIHOMBING Bus tingkat, salah satu moda angkutan umum yang pernah ada di Jakarta, dioperasikan penyelenggara bus kota terbesar di ibu kota, Perum PPD. Bus ini pada zamannya, siang malam tidak pernah sepi dari jejalan penumpang.

Balada Bus Kota di Jalanan Jakarta.

Bus kota telah menguasai jalanan Jakarta dari masa ke masa sejak berakhirnya era trem, yang diikuti kemunculan bus-bus bermerek Dodge dan Robur hingga era bus tingkat Si Jangkung. Kini, Jakarta memiliki 12 koridor bus transjakarta yang modern. Semua mengisi dinamika Jakarta.

KOMPAS/JULIAN SIHOMBING Bus tingkat, salah satu moda angkutan umum yang pernah ada di Jakarta, dioperasikan penyelenggara bus kota terbesar di ibu kota, Perum PPD. Bus ini pada zamannya, siang malam tidak pernah sepi dari jejalan penumpang.
KOMPAS/JULIAN SIHOMBING
Bus tingkat, salah satu moda angkutan umum yang pernah ada di Jakarta, dioperasikan penyelenggara bus kota terbesar di ibu kota, Perum PPD. Bus ini pada zamannya, siang malam tidak pernah sepi dari jejalan penumpang.

Berdasarkan sejumlah sumber sejarah yang dimiliki Perusahaan Umum Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD), balada angkutan massal di jalanan Jakarta ini berangkat dari pengoperasian trem yang dijalankan Pemerintah Belanda. Bataviasche Verkeers Maatchappij (BVMNV) adalah perusahaan Pemerintah Belanda yang terakhir mengoperasikan trem di Jakarta.

BVMNV ini menjadi awal kisah PPD, perusahaan bus yang begitu legendaris bagi masyarakat Jakarta.

Cikal bakal PPD bisa ditelusuri hingga 1920-an, yaitu sejak penggabungan dua perusahaan operator trem di Batavia kala itu, Nederlandsch Indische Tram Maatschappij dan Bataviach Eletische Tram Maatsxhappij, menjadi BVMNV. Penggabungan itu atas saran Kepala Pemerintahan Kota Batavia saat itu, Ir Voornerman.

Pada perkembangannya, mengikuti kebutuhan Batavia yang terus tumbuh, BVMNV tidak hanya menjalankan trem, tetapi juga mulai mengoperasikan bus-bus yang melayani angkutan di sekitar permukiman di Batavia.

Pada era penjajahan Jepang mulai 1942, perusahaan itu beralih nama menjadi Djakarta Shiden. Di zaman Jepang, Djakarta Shiden kembali hanya mengoperasikan trem karena bus-busnya dipakai militer Jepang.

Tiga hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, barulah perusahaan operator trem itu diserahkan ke Pemerintah Republik Indonesia dan dikelola Perusahaan Jawatan Kereta Api bagian trem. Hanya dua tahun perusahaan trem itu dikuasai Indonesia. Pada 1947-1954, trem kota kembali dikuasai Belanda dengan pengelola BVMNV.

Pada 1954, BVMNV dinasionalisasi berdasarkan Undang-Undang Darurat 10 Tahun 1954. Maka, lahirlah nama Perusahaan Pengangkutan Djakarta yang mengoperasikan trem bertenaga listrik di Jakarta.

Bus pertama yang dioperasikan PPD adalah bus Leyland bantuan Australia pada 1956. Pada 1960, Presiden Soekarno memerintahkan penghapusan trem. Maka, sejak saat itu, berakhirlah era trem dan dimulailah era bus sebagai raja jalanan Ibu Kota.

Kepala Divisi Hukum dan Humas Perusahaan Umum PPD Joko Lelono mengatakan, stasiun trem terakhir PPD berada di Jalan Kramat Raya 21. Saat ini, lokasi itu digunakan sebagai kantor PT Angkasa Pura II.

Pada awalnya, bus-bus yang dioperasikan PPD kebanyakan dari pabrikan Dodge di Amerika Serikat. Namun, ada pula sejumlah tipe bus lain yang turut mewarnai jalanan Ibu Kota waktu itu.

Mulai dari “Si Jangkung”, bus tingkat pertama yang benar-benar jangkung dan berwarna merah dari Inggris. Salah satu Si Jangkung yang tersisa, dengan nomor polisi B 6629 X, kini menjadi koleksi Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah.

Salah satu rute yang dilayani bus jangkung ini adalah rute PPD 14 jurusan Blok M-Salemba-Pasar Senen. Dengan kapasitas angkut 83 orang, bus ini berlalu lalang sejak 1968 sampai 1982.

Kemudian, pada era 1984-1995, PPD mengoperasikan sekitar 80 bus tingkat keluaran Leyland dan Volvo hingga masa bus tingkat ini berakhir.

PPD mencapai masa keemasan sekitar tahun 1985-1991. Puncaknya pada 1987 saat perusahaan BUMN itu memiliki 1.882 bus. Jumlah penumpang pun mencapai puncak pada 1991 sebanyak 249.948 orang.

Pada 1970, operator bus kota di Jakarta bertambah dengan mulai beroperasinya perusahaan swasta Mayasari Bakti. Corporate Secretary Mayasari Bakti Arifin Ashari mengungkapkan, trayek pertama Mayasari Bakti pada 1970 melayani perjalanan dari Bekasi ke Pasar Senen, Pasar Baru, dan Tanjung Priok.

Bekasi dipilih sebagai lokasi awal perjalanan karena Jalan Raya Bekasi merupakan jalan paling lebar pada masa itu dan menjadi jalur vital dari Jawa Barat ke Jakarta melalui pantura.

“Kalau sekarang Jalan Raya Bekasi itu kelihatan sempit karena kendaraan yang lewat juga semakin banyak,” katanya.

Bus B 6629 X Leyland pernah menjadi satu-satunya bus bertingkat di Jakarta, bahkan di Indonesia.  Bus ini terakhir melayani rute trayek 14 PPD jurusan Lapangan Banteng-Kebayoran Baru-Blok M lewat Jalan Diponegoro  hingga  Jalan Sisingamangaraja.
KOMPAS/JB SURATNO
Tahun 1975  kondisi keamanan di Jakarta masih dianggap rawan. Oleh karena itu, di jalanan sering terjadi razia terhadap kendaraan yang dicurigai. Terlihat sebuah bus
KOMPAS/KARTONO RYADI

Dalam perkembangannya, Mayasari Bakti juga melayani penumpang dari arah selatan Jakarta dengan trayek Kampung Rambutan-Kota. Trayek itu pun merupakan hasil relokasi bus-bus besar dari Terminal Cililitan ke Terminal Kampung Rambutan.

Bus mini

Selain bus-bus kota ukuran besar yang dioperasikan PPD dan Mayasari Bakti, Jakarta juga terkenal dengan armada bus-bus mininya. Mereka yang sudah tinggal di Jakarta lebih dari 40 tahun pasti masih ingat bus-bus Robur yang berbentuk seperti roti tawar.

Bus-bus buatan Jerman Timur ini didatangkan pada 1962, dan oleh Presiden Soekarno digunakan untuk mengangkut para peserta Pesta Olahraga Ganefo.

Setelah perhelatan olahraga itu usai, bus-bus mini itu beredar tanpa ada pengelolaan dan mengisi trayek yang belum diisi bus. Hingga 1976, pemerintah mengeluarkan kebijakan agar bus-bus itu bernaung pada badan pengelola yang berbadan hukum, yakni PT Metro Mini yang dibentuk Pemerintah DKI. Masa itu, sebagian pengusaha bus mini juga membentuk Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja).

Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya pada masa itu mencatat ada 152 orang yang mengoperasikan 313 bus mini, baik yang tergabung dalam PT Metro Mini maupun Kopaja. Umumnya bus yang dioperasikan buatan 1962 sehingga kedua badan pengelola itu pun didorong melakukan peremajaan bus.

Pada 1978, oleh Gubernur DKI Tjokropranolo, PT Metro Mini dan Kopaja diresmikan sebagai badan pengelola bus mini. Bus-bus Robur kemudian diremajakan dengan menggunakan bus-bus Mitsubishi buatan Jepang.

Direktur PT Metro Mini Nofrialdi, pekan lalu, mengungkapkan, tahun 1990 menjadi puncak bisnis metro mini. Kala itu, bus warna oranye ini menguasai 60 trayek bus di Jakarta dengan armada mencapai 3.000 bus.

Namun, kemudian metro mini menjadi cibiran penumpang, bahkan momok bagi pengguna jalan, karena ulah sopirnya yang kerap ugal-ugalan dan kondisi bus yang semakin tak layak. Orang pun naik metro mini hanya karena tak memiliki pilihan lain.

“Dulu, setiap kali berangkat ke sekolah, selalu naik bus metro mini T58 Cililitan-Klender. Namun, ya, begitu, sebetulnya saya tidak suka karena sopirnya ugal-ugalan,” kata Yosa (48), warga Cipinang, Jakarta Timur.

Mulai meredup

Era bus sebagai andalan angkutan umum di Jakarta mulai meredup memasuki era tahun 2000-an. Selain karena semakin kencangnya pemasaran sepeda motor, berbagai permasalahan di dalam perusahaan hingga buruknya layanan yang banyak dikeluhkan masyarakat menjadi faktor utama kemunduran ini.

PPD, misalnya, tahun 2.000 tinggal memiliki sekitar 700 bus dan terus menyusut hingga pada 2012 tinggal 375 bus. Jumlah trayek yang sebelumnya 48 trayek menyusut menjadi 18 lintasan.

Untuk metro mini, setiap pemilik bus lebih berlomba-lomba mengejar setoran. Kelesuan mulai terjadi pada 2000 dan hingga kini, tinggal 1.000 bus yang beroperasi di Jakarta dari 3.000 bus. Dari 60 trayek, kini hanya separuhnya yang masih bertahan. Metro mini T58 yang dulu ditumpangi Yosa pun kini sudah tak lagi tampak di jalanan.

Kelesuan sama juga dialami Mayasari Bakti. Memasuki tahun 2000, armadanya berkurang dari sebelumnya 1.500 bus menjadi hanya sekitar 800 bus. Kemacetan yang semakin parah di Jakarta juga menyebabkan perjalanan setiap bus berkurang cukup signifikan. Sebelumnya satu bus bisa melakukan 5-6 perjalanan pergi-pulang, tetapi kini tak lebih dari 3 kali perjalanan pergi-pulang setiap hari.

Munculnya layanan bus transjakarta dan kebangkitan kereta rel listrik komuter yang dikembangkan PT Kereta Api Indonesia membuat bus-bus lawas ini kian terdesak. Apalagi, dalam waktu tak lama lagi juga akan beroperasi transportasi massal cepat (MRT) dan kereta ringan (LRT).

Kini, seolah tak ada pilihan lain bagi mereka untuk bertahan kecuali bergabung dalam pengelolaan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) yang lebih modern dan profesional. Tanpa pembenahan dan perbaikan layanan, riwayat bus kota di Jakarta mungkin akan segera tamat….


KOMPAS/KARTONO RYADI
Bus kota melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (28/2). Bus kota masih menjadi moda transportasi andalan warga Ibu Kota.
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Check Also

Pekerja akan memindahkan sejumlah tiang yang menghalangi jalur sepeda di Jalan Asia Afrika, Jakarta, Rabu (01/08/2018). Jalur sepeda di sepanjang jalan ini terhalang beberapa tiang lampu penerangan jalan umum (PJU), tiang lampu lalu lintas, hingga tiang rambu penunjuk jalan.(KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI)

Perluasan Jalur Sepeda, Efektifkah untuk Mengurangi Polusi Udara?

KOMPAS.com – Bersepeda sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat DKI Jakarta. Ada yang menggunakannya …