Home / Kliping / Kabel di Saluran Diduga Sabotase
Sumber: poskotanews.com
Sumber: poskotanews.com

Kabel di Saluran Diduga Sabotase

Polda Diminta Usut Kasus Itu

JAKARTA, KOMPAS — Temuan gulungan pelapis kabel di gorong-gorong Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, dinilai sebagai hal yang serius. Keberadaannya menyumbat aliran air dan memicu genangan. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menduganya sebagai upaya sabotase.

“Jumlahnya sembilan truk, lho,” kata Basuki di Balai Kota Jakarta, Selasa (1/3). Penemuan gulungan pelapis kabel itu bermula dari petugas harian lepas (PHL) Suku Dinas Tata Air Jakarta Pusat yang menelusuri pemicu genangan di Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (24/2).

Awalnya satu truk. Namun, pembersihan tak segera usai karena karet pelapis atau pembungkus kabel tak habis-habis. Menurut Basuki, selain jenisnya, dia menilai temuan itu tidak wajar karena jumlahnya besar. Oleh karena itu, dia melaporkannya ke kepolisian. Polisi diminta mengusut tuntas kasus tersebut.

Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mujiono yang dihubungi terpisah, semalam, mengatakan, pihaknya sudah membentuk tim untuk menyelidiki kasus ini. “Laporan tentang hal ini belum kami terima. Namun, kami sudah membentuk tim dan menyelidiki kasus ini,” tuturnya.

Timnya telah menghubungi instansi terkait, termasuk pemasok dan pedagang kabel sejenis. “Soal ada tidaknya unsur pidana dalam kasus ini, masih kami selidiki,” ucap Mujiono. Unsur pidana yang ia maksud antara lain kemungkinan pencurian kabel atau unsur sabotase dengan niat mencelakai publik atau merongrong kewibawaan Pemprov DKI.

Kasus serupa terjadi pada 2014. Ketika itu, petugas menemukannya di Jalan Medan Merdeka Barat. Basuki mengira hambatan telah selesai karena ketika itu saluran dibersihkan petugas.

Menurut Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta Teguh Hendarwan, selain jumlahnya yang besar, temuan itu agak janggal karena tumpukan pelapis dari karet itu berada di satu titik. Pihaknya kini tengah mengecek lagi saluran di timur, selatan, utara, dan barat Monumen Nasional.

Selain temuan kabel itu, hasil penelusuran terkait genangan di badan jalan di sejumlah lokasi di Jakarta dinilai janggal. Basuki mencontohkan genangan di kolong Jalan Dukuh Atas, Jakarta Selatan, November 2015, karena pompa air mati tersumbat lumpur. Lalu genangan di jalan lintas bawah Pasar Gembrong, Jakarta Timur, Sabtu (6/2). Genangan timbul karena pompa mati. Informasi awal yang disampaikan ke Basuki, pompa tidak bisa nyala karena kabel digigit tikus.

“Saya curiga, tikus segede apa bisa menggigit kabel, lalu saya sambangi. Ternyata pemasangan kabel terbalik. Lalu, saya tanya kenapa terbalik, katanya habis diperbaiki. Lalu saya tanya, memang tidak dicoba setelah perbaikan, jawabnya tidak karena tidak ada air. Lalu saya tanya, dari mana bisa tahu pompanya rusak? Alasannya kabel atas terbakar. Pokoknya aneh-aneh, deh (alasannya),” kata Basuki.

Temuan “aneh” lain oleh PHL tata air dan petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU) ada di Fatmawati, Jakarta Selatan. “Di Fatmawati malah ada portal jalan, rambu lalu lintas, dan ban di saluran air, tetapi biarlah PPSU dan PHL menelusurinya,” ujarnya.

Berterima kasih

Basuki berterima kasih atas kerja PHL dan PPSU. Menurut dia, keberadaan petugas selama 24 jam di lapangan signifikan mengurangi genangan. Mereka menyisir kawasan ketika hujan turun, siang malam, lalu mengidentifikasi dan cepat mengatasi penyebabnya.

Meski demikian, penanganan banjir dan genangan di Jakarta dinilai tidak akan maksimal tanpa tanggul pantai serta waduk berkapasitas besar di wilayah barat dan timur. Infrastruktur itu dibutuhkan karena tinggi muka tanah di sebagian wilayah berada di bawah permukaan laut.

“Ada 40 persen wilayah Jakarta yang berada di bawah permukaan laut. Saat hujan turun seharian, sementara air laut pasang, banjir atau genangan masih terjadi,” kata Basuki. (MKN/WIN)

Check Also

Jalur 10 di Stasiun Manggarai ditutup sejak 23 Januari 2019. Hal itu dilakukan guna mempercepat revitalisasi Stasiun Manggarai. Jalur 10 yang biasa ditempati oleh KRL jurusan Jakarta-Depok/Bekasi akan dialihkan ke jalur 8, 5, dan 4. Meski penutupan telah berlansung selama tiga hari, tidak tampak adanya penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai. Sejumlah penunjuk arah dipasang begitu juga dengan petugas stasiun yang mengarahkan para penumpang, Sabtu (26/1/2019).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

Pemindahan KA Jarak Jauh dari Stasiun Gambir ke Manggarai, Wujudkan Konsep Lama…

JAKARTA, KOMPAS.com – Stasiun Gambir, Jakarta Pusat tak lagi melayani angkutan Kereta Api (KA) jarak …