Home / Kliping / Manusia Dulu, Baru yang Lain Mengikuti
poskotanews.com
poskotanews.com

Manusia Dulu, Baru yang Lain Mengikuti

Setiap tahun, sejumlah lembaga mengeluarkan peringkat kota-kota di seluruh dunia yang paling layak untuk ditinggali. Tahun 2015, urutan pertama kota paling layak ditinggali versi Economist Intelligence Unit’s Global Livability Ranking adalah Melbourne, Australia.

poskotanews.com
Sumber : poskotanews.com

Daftar ini bergengsi sehingga kota-kota mulai berlomba agar bisa masuk ke daftar pendek tersebut. Dengan semakin banyaknya megapolitan yang muncul, pemerintah kota mulai berbenah dengan mengubah paradigma pengelolaan sebuah kota. Economist Intelligence Unit (EIU) menyebutkan, kota-kota yang naik tingkat kelayakan huninya antara lain Bratislava (Slowakia), Warsawa (Polandia), Beijing (Tiongkok), dan Baku (Azerbaijan).

Michael King, konsultan pada Nelson/Nygaard Consulting Associates, saat menjadi pembicara di seminar bertajuk “Transforming Lives: Human and Cities” di Jakarta, akhir Februari lalu, mengatakan, perencanaan sebuah kota menuju kota layak huni (livable city) harus dimulai dari manusia atau warga kota yang bersangkutan. “Wahai warga Jakarta, kota seperti apa yang kalian inginkan? Pertanyaan ini bisa menjadi permulaan pembangunan kota,” katanya.

Sebuah kota tak melulu soal bentuk fisik. Segala pembangunan fisik tak akan berguna jika tidak sesuai dengan kebutuhan dan perspektif warganya.

King mencontohkan, ketersediaan banyak area parkir tidak efektif untuk menciptakan kota layak huni karena akan memicu orang berkendara. Salah satu langkah perencanaan kota berorientasi pada warga bisa dimulai dari desain jalan yang ramah, tidak memanjakan pengguna kendaraan bermotor.

EIU, seperti dikutip bbc.com, menyebutkan alasan Melbourne bisa menjadi kota yang paling layak huni. Di Melbourne, harga rumah terjangkau, jaringan transportasi publik tertata baik, jalanan penuh tempat makan dan minum, ruang terbuka hijau memadai, kalender penuh acara seni budaya, tersedia tempat pembauran beragam latar belakang sosial budaya, serta sistem kesehatan yang baik.

Secara umum, penilaian atas kota layak huni dilihat dari faktor keselamatan, pelayanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan lingkungan hidup. Dalam daftar 10 besar, sebagian besar kota-kota paling layak huni berada di Australia dan Kanada.

Disebutkan lebih jauh, sejak 2010, rata-rata tingkat kelayakan huni kota-kota di dunia menurun 1 persen karena faktor stabilitas dan keamanan. Kota-kota seperti London (Inggris), Detroit (Amerika Serikat), Athena (Yunani), dan Moskwa (Rusia) sudah menurun tingkat kelayakan huninya.

Ame Engelhart, rekanan pada Skidmore, Owings & Merrill LLP, menyoroti desain perkotaan yang bisa menjawab berbagai persoalan yang dialami kota besar sebagai dampak urbanisasi dan pertumbuhan kota yang cepat. Jakarta, begitu juga kota-kota yang tengah tumbuh di dunia, sekarang harus berhadapan dengan kebutuhan mengurangi kemacetan lalu lintas, pelestarian sumber daya air, pengelolaan sampah dan limbah, serta kepadatan area hunian.

“EIU Safe Cities Index 2015 menempatkan Jakarta di urutan terakhir dan Tokyo di urutan pertama. Kedua kota ini ukurannya hampir sama,” ujarnya.

Empat terbawah

Di Indonesia, Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) juga merilis Most Livable City Index untuk mengukur tingkat kelayakan huni sejumlah kota. Terakhir, indeks tersebut dirilis tahun 2014. Berdasarkan survei terhadap 17 kota di Indonesia, rata-rata indeks kenyamanan kota adalah 63,62. Kota paling nyaman adalah Balikpapan, Kalimantan Timur. Adapun DKI Jakarta berada di empat besar terbawah dengan indeks kenyamanan di bawah rata-rata nasional.

Ketua IAP Bernardus Djonoputro mengatakan, kota layak huni di Indonesia dilihat dari beberapa aspek, yakni kualitas perencanaan kota, lingkungan, transportasi, fasilitas publik, infrastruktur, ekonomi, dan kondisi sosial. Khusus Jakarta, banyak upaya telah dilakukan untuk memperbaiki berbagai aspek tersebut, tetapi masih banyak kekurangan yang harus dikejar.

“Di Jakarta masih banyak kantong-kantong di mana tingkat kelayakan huninya berbeda jauh dengan kantong-kantong lainnya. Ada kantong-kantong yang sudah mendekati kenyamanan kota-kota di dunia, tetapi banyak pula yang kurang layak ditinggali. Ada pula kantong yang kurang layak karena sifatnya yang rentan bencana, seperti di utara Jakarta,” tuturnya.

Selama tiga tahun terakhir, dia melihat ada upaya untuk mengangkat kantong-kantong yang kurang layak huni itu menjadi lebih layak. Ada perbaikan infrastruktur, keberpihakan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah, dan perbaikan lingkungan.

Bernardus mengatakan, DKI Jakarta sudah memiliki rencana detail tata ruang (RDTR) untuk 44 kecamatan, termasuk peraturan tentang zonasi. Jika ingin menuju kota layak huni, Jakarta harus taat pada RDTR tersebut.

(FRANSISCA ROMANA NINIK)

Check Also

Jalur 10 di Stasiun Manggarai ditutup sejak 23 Januari 2019. Hal itu dilakukan guna mempercepat revitalisasi Stasiun Manggarai. Jalur 10 yang biasa ditempati oleh KRL jurusan Jakarta-Depok/Bekasi akan dialihkan ke jalur 8, 5, dan 4. Meski penutupan telah berlansung selama tiga hari, tidak tampak adanya penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai. Sejumlah penunjuk arah dipasang begitu juga dengan petugas stasiun yang mengarahkan para penumpang, Sabtu (26/1/2019).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

Pemindahan KA Jarak Jauh dari Stasiun Gambir ke Manggarai, Wujudkan Konsep Lama…

JAKARTA, KOMPAS.com – Stasiun Gambir, Jakarta Pusat tak lagi melayani angkutan Kereta Api (KA) jarak …