Home / Kliping / Moojen Mengubah Batavia
Capture

Moojen Mengubah Batavia

Di antara deretan bangunan di Jalan Juanda Raya, di lingkungan Kelurahan Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat, ada satu gedung yang pasti menyita perhatian jika Anda melintas jalan tersebut. Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya, Nomor 35.

Gedung Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya, Jalan Juanda Raya Nomor 35, Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat.
KOMPAS/WINDORO ADIGedung Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya, Jalan Juanda Raya Nomor 35, Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat.

Bangunannya memanjang tampak depan, bergaya Indische Bouwstijl (bangunan Hindia Belanda untuk iklim tropis). Meski sudah berdiri sejak 1909, tampilan gedung ini masih indah dan cemerlang. Maklum, gedung dengan menara jam ini baru selesai direstorasi tahun lalu.

Trotoar luarnya pun tampak baru, lebar, bersih, dan rapi berbatu konblok warna merah bata. Trotoar dilengkapi bangku dan lampu taman serta deretan pepohonan. Kehadiran bangku-bangku taman tak mengganggu pejalan kaki karena di sampingnya masih ada selasar trotoar.

Kepala Bagian Pengelolaan Aktiva dan Gedung Dudiet Isfiantoro yang ditemui, Jumat (18/3), menjelaskan, peremajaan trotoar selesai tahun lalu. “Kami sudah meminta instansi terkait memindahkan kabel-kabel di atas yang mengganggu penampakan gedung, ke dalam tanah. Pembuatan lorong kabel akan kami biayai,” tutur Dudiet.

Bangunan berlantai dua ini memiliki luas lantai 8.800 meter persegi. Berdiri di atas lahan seluas 8.800 meter persegi. Sejak 2005, gedung, termasuk trotoar, mulai direstorasi dengan biaya Rp 10 miliar. Jendela besar berkaca patri yang dulunya rusak kini utuh kembali, indah menyala oleh terik matahari seperti siang itu.

Demikian pula sejumlah prasasti berbahan keramik bakar bertulis kata mutiara di dinding sekitar tangga lebar menuju balkon. Beberapa prasasti di antaranya bertulis “Het is goed vooreen man dat hy het juk in zyne jeugd draagt” (Sebaiknya berusahalah sejak muda); “Die eene gouden pporte wil maken breng er el, kendageen nageltoe” (Siapa yang ingin mendirikan gerbang emas, ia harus mengumpulkan emas sedikit demi sedikit setiap hari); dan “Die den tyd verbeeien kan van een jongen wordt een man” (Waktu akan memperbaiki seorang anak menjadi dewasa).

Sejenak kami berdiri di bawah tangga induk menuju balkon lantai dua dengan kepungan jendela-jendela kaca patri dan prasasti-prasasti berkata mutiara nan elok. Di lantai dua, kami disambut lorong-lorong dengan ruang berplafon tinggi dan pintu-pintu besar yang semuanya sudah tersentuh restorasi.

Sebelum dinasionalisasi, gedung ini adalah milik konglomerat asuransi Hindia Belanda, NILLMIJ (Nederlandsch Indische Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij) van 1859. Perusahaan raksasa ini, seperti ditulis dalam bukuJiwasraya, 150 Tahun Kokoh Melintas Zaman (Delapan Publisher, Jakarta 2010) diresmikan pada 31 Desember 1859,

Belum banyak orang tahu bahwa gedung ini adalah karya pertama arsitek Pieter Adriaan Jacobus (PAJ) Moojen (1879-1955) di Indonesia. Sosok Moojen masih lebih melekat di Gedung Kunskring di Jalan Teuku Umar Nomor 1, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, yang selesai dibangun tahun 1914.

Lalu apa keistimewaan karya-karya Moojen? “Moojen adalah arsitek pertama yang menerapkan konstruksi beton besi bertulang di Indonesia. Ketika kami mengupas sebagian tembok dinding gedung, tampak besi bertulang berdiameter 18-20 milimeter di dalam tembok. Kami juga menemukan adanya jaringan kawat ram di bagian tersebut,” papar Dudiet.

Nah, terjawab sudah mengapa Moojen suka membuat kanopi (arcade) beton melengkung di atas jendela-jendela dan pintu atau membuat plafon berkubah melengkung tanpa disangga kayu di lorong-lorong bangunan karyanya. Aksentuasi kanopi dan dinding melengkung membuat karya-karya Moojen tampak indah, hangat, luwes tidak kaku, serta tentu saja kokoh dan lebih bersih tanpa aksentuasi rangka-rangka kayu.

Selain aksentuasi kanopi, kubah dan lengkungan bagian bangunan lainnya dengan konstruksi besi bertulang serta besi ram, karya Moojen juga ditandai dengan adanya bagian selasar, baik di lantai bawah atau atas. Bagian selasar ini menandai jenis bangunan untuk iklim tropis, dan Moojen-lah pelopornya di Hindia Belanda. Meski demikian, ia tak pernah meninggalkan aksentuasi art decopada kaca-kaca patri bangunan karyanya.

Adolf Heuken SJ dan Grace Pamungkas ST dalam Menteng: Kota Taman Pertama di Indonesia (Yayasan Cipta Loka Jakarta, 2001) menyebutkan, gaya bangunan tropis modern Moojen mampu mengintegrasikan unsur bangunan tradisional Indonesia. Melalui karyanya, tulis buku Jiwasraya, sejarah arsitektur Indonesia mulai memasuki era modernisme.

Prinsip kesesuaian bangunan dengan kondisi iklim setempat, lokasi, ketersediaan material, dan kebutuhan tenaga kerja mulai diterapkan. Tiga prinsip arsitektur modern pun diterapkan, yaitu kesederhanaan, kesungguhan, kebenaran.

Karya indah Moojen lainnya adalah gedung Bouwploeg yang kini menjadi Masjid Cut Meutia di Jalan Cut Meutia Nomor 1, Jakarta Pusat. Gedung ini seperti ditulis Heuken dan Grace, menandai dibangunnya Menteng (Nieuw Gondangdia) sebagai kota taman (tuinstad) pertama di Indonesia pada 1912.

Gedung Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya, Jalan Juanda Raya Nomor 35, Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat.
KOMPAS/WINDORO ADI
Salah satu bagian Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya, Jalan Juanda Raya Nomor 35, Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat.
KOMPAS/WINDORO ADI

Perancangnya tak lain Moojen dan Bouwmaatschappij NV de Bouwploeg. Kala itu Moojen, seperti ditulis Heuken dan Grace, menjadi anggota Dewan Kotapraja dan Commissie van toezicht op het beheer van het Land Menteng (Komisi Pengawasan Pengurusan Tanah Menteng) atau Gondangdia Commissie. Komisi bertugas merencanakan dan membangun Menteng.

Inilah untuk pertama kalinya satu bagian kota dibuat dengan perencanaan lebih matang dibanding kota kembar Batavia yang dirancang arsitek Simon Stevin pada era Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen (Batavia 1740:Menyisir Jejak Betawi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2010). Rancangan permukiman di Menteng ini menjadi contoh pembangunan Kota Surabaya dan Semarang.

Karya indah Moojen lainnya di luar Jakarta adalah Stasiun Kereta Api (KA) Cirebon di Jawa Barat yang dibuka pada 3 Juni 1912. Pembukaan stasiun tersebut bersamaan dengan dibukanya KA Cikampek-Cirebon sejauh 137 kilometer milik perusahaan KA Staatsspoorwegen. Sampai sekarang, stasiun ini masih menjadi salah satu stasiun tercantik koleksi PT Kereta Api Indonesia.

Ekspresi arsitek

Pada era kolonialisme, perubahan wajah kota tecermin dari perubahan ekspresi segelintir arsitek yang memonopoli penataan ruang serta pembangunan gedung dan permukiman di Jakarta. Pada awal pembangunan jantung Kota Batavia di kawasan Kali Besar, Kota Tua, Jakarta Barat, misalnya.

Sebagian wajah kota di sana mencerminkan ekspresi arsitek Eduard Cuypers (1859-1927), sang pemuja gaya arsitektur neo-renaissance. Dua karyanya yang menonjol adalah Gedung Museum Bank Indonesia (1912) di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 3 Jakbar dan Gedung Chartered Bank (1921) di Jalan Kali Besar Barat Nomor 1-2, Jakarta Barat.

Moojen menilai, gaya arsitektur di Kota Tua ini usang. Sebab, hanya menjiplak meletakkan pilar-pilar besar bergaya Yunani-Romawi, tanpa konsep atau fungsi yang bermakna. Ketika pembangunan Kota Tua di perluas ke Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, Moojen memanfaatkan peluang ini dengan mengubah wajah kota di Kota Taman, Menteng.

Di tangan Moojen, perubahan wajah kota itu ia awali dengan membangun kantor pusat NILLMIJ yang kini menjadi kantor pusat PT Asuransi Jiwasraya. Oleh karena itu, patut diapresiasi jika jajaran direksi perusahaan asuransi tersebut menginginkan gedung karya awal Moojen ini satu saat bisa menjadi ikon perubahan riwayat kota Batavia.

Check Also

Pekerja akan memindahkan sejumlah tiang yang menghalangi jalur sepeda di Jalan Asia Afrika, Jakarta, Rabu (01/08/2018). Jalur sepeda di sepanjang jalan ini terhalang beberapa tiang lampu penerangan jalan umum (PJU), tiang lampu lalu lintas, hingga tiang rambu penunjuk jalan.(KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI)

Perluasan Jalur Sepeda, Efektifkah untuk Mengurangi Polusi Udara?

KOMPAS.com – Bersepeda sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat DKI Jakarta. Ada yang menggunakannya …