Home / Kliping / Ke Jakarta, Komuter Kan Datang

Ke Jakarta, Komuter Kan Datang

DKI Jakarta tumbuh sebagai jantung ekonomi dan politik negeri ini. Perusahaan nasional dan multinasional terus bermunculan menarik pencari kerja dari seantero negeri. Seiring dengan bermunculannya wilayah pinggiran Jakarta, pola transportasi komuter pun terbentuk.

Sumbangan DKI Jakarta terhadap total kegiatan ekonomi Indonesia paling besar dibandingkan wilayah lain. Pada 2014, 16,5 persen kegiatan ekonomi negeri ini berasal dari wilayah Ibu Kota. Kegiatan perekonomian Bogor, Depok, Bekasi, serta Tangerang dan Tangerang Selatan pun ikut menggeliat.

Sayangnya, pertumbuhan perekonomian di kota sekitar Jakarta tak berarti beban DKI berkurang. Dari segi mata pencarian, DKI Jakarta tetap jadi magnet terbesar. Maka, pada pagi dan sore tampaklah pemandangan para pelaju (komuter) yang bekerja di Jakarta dari kota-kota di sekitarnya.

Oleh Badan Pusat Statistik (BPS), komuter didefinisikan sebagai, “orang yang pergi-pulang keluar kota atau kabupaten secara rutin karena bekerja atau bersekolah”. Atau gampangnya, orang yang tempat tinggalnya berbeda kota atau kabupaten dengan tempat kerja atau sekolahnya.

3,6 juta komuter

Hasil Survei Komuter se-Jabodetabek tahun 2014 yang diadakan BPS menunjukkan adanya 3,6 juta komuter. Dari jumlah tersebut, hampir 70 persen atau sebanyak 2,4 juta orang, baik dari wilayah Jakarta maupun Bodetabek, setiap hari beraktivitas di lima kota di dalam DKI Jakarta. Angka selebihnya adalah warga Jabodetabek yang pergi beraktivitas di wilayah Bodetabek dan luar Jabodetabek.

Jika diteliti lebih jauh, komuter asal Bodetabek yang tiap pagi pergi menuju ke wilayah DKI adalah sebanyak 1,4 juta. Sementara itu, terdapat sekitar 1 juta penduduk yang biasa berkomuter di internal wilayah DKI Jakarta, misalnya warga yang tinggal di Jakarta Barat, tetapi bekerja di Jakarta Pusat.

Hasil jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas yang dilakukan pada April 2016 ternyata juga menunjukkan tingginya angka komuter di wilayah metropolitan. Tak kurang dari separuh responden mengaku harus pergi ke kota atau kabupaten lain di area Jabobetabek untuk bekerja ataupun bersekolah.

Meski diadakan dua tahun setelah survei BPS, hasil jajak pendapat hanya menghasilkan perbedaan yang tipis. Pola pergerakan komuter ternyata belum banyak mengalami perubahan. Sebanyak 72 persen responden jajak pendapat yang dihubungi lewat telepon ini menyatakan setiap hari pergi ke wilayah DKI Jakarta untuk bekerja ataupun bersekolah.

Bangkit dari pinggiran

Fenomena urban transition atau perpindahan penduduk ke wilayah muncul, salah satunya, karena harga rumah dan tanah yang relatif lebih murah di pinggiran. Apalagi, ketersediaan sarana dan prasarana transportasi semakin lengkap. Wilayah “pinggiran” di kota-kota sekitar Jakarta menjadi pilihan favorit tempat tinggal perantau. Akibatnya, daerah sekeliling Jakarta tumbuh pesat.

Permukiman baru, pusat perbelanjaan baru, rumah sakit, dan berbagai sarana penunjang lainnya muncul. Berdasarkan kajian Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 2001, penduduk yang semula tinggal di Jakarta Selatan cenderung bermigrasi ke wilayah Bogor dan Tangerang. Penduduk yang sebelumnya tinggal di Jakarta Timur cenderung pindah ke Bekasi. Sementara itu, penduduk Jakarta Barat memilih berdomisili di Tangerang. Penduduk Jakarta Utara cenderung bermigrasi ke kawasan Tangerang.

Sejak pertengahan 1980-an, DKI Jakarta memang menjadi daerah pengirim orang. Pada periode 1985-1995, jumlah penduduk yang masuk ke DKI Jakarta adalah 833.028 orang. Sementara itu, warga yang pindah keluar dari Jakarta berjumlah 933.377 orang. Oleh sebab itu, migrasi neto DKI Jakarta menjadi negatif 100.348 orang.

Hasil survei BPS tentang komuter menunjukkan Kota Bekasi dan Kota Depok sebagai pencetak komuter terbanyak di antara wilayah tetangga DKI. Kota Bekasi menyumbang hampir 15 persen dan Kota Depok mencetak sekitar 12 persen bangkitan komuter menuju Ibu Kota. Setelah kedua kota ini, Tangerang Selatan muncul sebagai penyumbang nomor tiga.

Kian terbangunnya infrastruktur, seperti tol dan kereta komuter, adalah alasan mendasar tingginya komuter asal ketiga daerah ini. Dari arah Bekasi, misalnya, ada jalur tol Cawang-Cikampek. Demikian pula dengan arah Tangerang dan Tangerang Selatan, ada jalur tol Jakarta-Tangerang. Adapun jalur rel kereta tersedia untuk tiga penjuru, yaitu jalur ke arah Selatan (Depok, Bogor), arah Timur (Bekasi), dan ke arah Barat (Tangerang).

Tak hanya itu, angkutan pengumpan atau bus feeder dan berbagai jenis angkot tersedia untuk sarana para komuter masuk-keluar Jakarta. Meskipun demikian, separuh lebih responden survei BPS ternyata menggunakan sepeda motor untuk bekerja di atau dari arah Jakarta. Kepraktisan dan hemat ongkos transportasi menjadi alasan mereka.

Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan

Dibandingkan dengan lima kota lainnya di Ibu Kota, Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan ternyata menjadi tujuan utama para komuter. Dilihat dari aktivitas ekonomi, kedua kota ini memang lebih maju dibandingkan wilayah lainnya.

Kontribusi terhadap kegiatan ekonomi total DKI Jakarta dari dua kota ini lebih dominan ketimbang daerah lain, yakni Jakarta Pusat menyumbang 26,9 persen dan Jakarta Selatan berpartisipasi 22 persen.

Pada 2013, pertumbuhan ekonomi Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan pun lebih kencang dibandingkan dengan tiga kota lainnya di wilayah Ibu Kota, yakni di atas 6 persen pada 2013.

Saat ini, Jakarta Pusat telah berkembang menjadi pusat aktivitas perdagangan, jasa, perkantoran, sekaligus pusat pemerintahan. Suplai gedung dan ruang kantor menandai tingginya kegiatan ekonomi. Kawasan pusat bisnis di wilayah ini mendapat tambahan 13 gedung perkantoran baru pada tahun lalu.

Sementara itu, Jakarta Selatan juga muncul sebagai pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan. Bagian DKI Jakarta ini telah berkembang menjadi kawasan bisnis modern.

Pada 2014, luas gedung perkantoran di Jakarta Selatan telah mencapai 1,16 juta meter persegi. Menurut Collier International Indonesia, Jakarta Selatan akan menjadi penyumbang terbesar perkantoran.

Wilayah sepanjang Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, diproyeksikan akan menyumbang lebih dari 68 persen gedung perkantoran baru di Ibu Kota. Selain kegiatan bisnis, aktivitas pendidikan juga berkembang pesat di Jakarta Selatan.

(SUSANTI AGUSTINA S DAN PUTRI ARUM SARI/LITBANG KOMPAS)

Check Also

Permukiman padat di Bidaracina, di sepanjang bantaran Kali Ciliwung, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (27/8/2015). Bidaracina merupakan kawasan yang akan digusur terkait proyek normalisasi dan sodetan Kali Ciliwung.(KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES)

Proyek Sodetan Ciliwung Dimulai, Ini Proses Ganti Rugi terhadap Warga Bidara Cina

JAKARTA, KOMPAS.com – Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan …