Home / Kliping / Kota, Asap Knalpot, dan Cinta nan Rumit…
e703d1d31e84485280deb0b527f57748

Kota, Asap Knalpot, dan Cinta nan Rumit…

Kemacetan parah di Jakarta sering dikatakan dipicu oleh para pengguna kendaraan bermotor, baik itu mobil maupun sepeda motor. Mereka disalahkan karena enggan beralih ke angkutan umum sehingga membuat jalan penuh sesak. Sejak kapan sebenarnya kisah cinta yang rumit ini berawal?

e703d1d31e84485280deb0b527f57748

Sejarah mencatat, kendaraan bermotor pertama hadir di Tanah Air sejak akhir abad ke-19. Kira-kira di era yang sama kendaraan bermotor mulai mewarnai sejarah dunia.

Dalam buku Sejarah Mobil & Kisah Kehadiran Mobil di Negeri Ini (Penerbit Buku Kompas, 2012) yang ditulis James Luhulima disebutkan, kendaraan bermotor pertama yang masuk Nusantara adalah sepeda motor Hildebrand und Wolfmuller buatan Jerman.

Sepeda motor itu masuk di awal tahun 1890-an dan didatangkan John C Potter, seorang warga negara Inggris. Potter kala itu bekerja sebagai Masinis Pertama di Pabrik Gula Oemboel, Probolinggo, Jawa Timur.

Buku yang sama mencatat, mobil pertama tiba di Tanah Air pada 1894, atau hanya delapan tahun sejak mobil modern pertama (dengan mesin pembakaran internal) dibuat di Jerman. Mobil bermerek Benz Viktoria itu adalah pesanan Paku Buwono X, Raja Keraton Surakarta waktu itu.

Sejak kedua benda itu ditemukan, terjalinlah sebuah kisah cinta yang sulit dijelaskan antara manusia dan mesin-mesin ini. Hidup manusia seolah tak lengkap tanpa kehadiran mesin-mesin yang menggantikan kuda untuk bepergian itu.

“Keluarga saya, sejak kakek saya, semua gila mobil. Bahkan, mobil kakek, mereknya Packard, yang didatangkan tahun 1940-an, menjadi mobil pertama di Pekalongan (Jawa Tengah). Padahal, kakek tidak bisa nyetir,” tutur promotor acara otomotif nasional, Helmy Sungkar (64), Rabu (27/4). Kini dua anak Helmy, Rifat dan Rizal Sungkar, juga menjadi nama yang tak asing di dunia olahraga otomotif.

Sejak kedatangan Benz pertama itu, sepeda motor dan mobil-mobil lain berdatangan ke Tanah Air. “Setiap ada onderneming (perkebunan), pasti ada mobil dan kereta api. Jadi, pada awalnya mobil masuk ke sini untuk angkutan barang, bukan penumpang,” tutur Hartawan Setjodiningrat (61), kolektor mobil antik dan salah satu pelopor Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI), di Jakarta, Minggu (1/5).

Setelah Benz, masih menurut buku Sejarah Mobil, merek-merek mobil asal Eropa dan Amerika menyusul berdatangan ke Hindia Belanda waktu itu. Mulai dari Peugeot, Albion, Berliet, Fiat, Ford, sampai Chevrolet.

Seiring dengan bertambahnya jumlah mobil, demikian pula jumlah sepeda motor. Merek motor yang populer saat itu, antara lain, adalah Harley Davidson, Norton, dan Excelsior.

Tentu saja pada zaman itu barang-barang ini hanya ada di tangan orang-orang tertentu. Warga biasa, apalagi orang pribumi, belum bisa memiliki mobil. “Tahun 1906, bupati Brebes waktu itu menjadi orang pribumi pertama (di luar keraton) yang boleh memiliki mobil,” ujar Hauwke, panggilan akrab Hartawan.

Memasuki Jakarta

Sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan kolonial saat itu, Jakarta pun tak luput dari kedatangan mobil dan motor. Bahkan, tahun 1927, raksasa otomotif dari AS, General Motors (GM), sudah mendirikan pabrik perakitan mobil-mobil buatannya di Jakarta.

Menurut laman GM Heritage Center (history.gmheritagecenter.com), pabrik itu dijalankan oleh perusahaan NV General Motors Java Handel Maatschappij yang didirikan pada 3 Februari 1927. “Lokasinya di Tanjung Priok. Waktu itu, bodi mobil masih dibuat dari kayu. Jadi, GM mencari tempat perakitan yang dekat sumber kayu,” imbuh Hauwke.

Setelah sempat dibekukan selama Perang Dunia II, operasi GM dilanjutkan dengan membentuk GM Cabang Jakarta (Djakarta Branch) pada 1946. Perusahaan ini hanya bertahan tujuh tahun sebelum dilikuidasi pada 1953 dan kemudian dijual ke perusahaan Indonesia, Gaja Motors (Gaya Motors) pada 1955.

Menurut Hauwke, pabrik perakitan PT Gaya Motor di Sunter, Jakarta Utara, saat ini, bisa dirunut kehadirannya sejak era itu.

Masih menurut laman tersebut, selama tujuh tahun operasinya, GM Djakarta Branch telah memproduksi 5.306 mobil penumpang (sedan dan sejenisnya), 14.050 mobil niaga, 3.811 bodi mobil niaga, dan 1.794 mobil rekondisi.

Wajar jika mobil-mobil buatan GM yang dipasarkan dalam berbagai merek, seperti Chevrolet, Cadillac, Oldsmobile, Pontiac, menjadi mobil yang populer di Tanah Air di era 1950-1960-an. Demikian juga mobil-mobil lain buatan Amerika, seperti Ford, Buick, Plymouth, Chrysler, dan Dodge.

Bahkan, Cadillac sempat menjadi pilihan mobil kepresidenan di era Bung Karno. Soal Cadillac, simak kisah berikut ini.

Suatu hari di tahun 1955, Kwee Tjun Sioe membawa koran yang memasang foto Presiden Soekarno sedang turun dari mobil Cadillac 75 Fleetwood di depan gedung Konferensi Asia Afrika di Bandung. Ia lalu menghampiri anaknya, Oei Lo Sing (6).

“Lihat mobil ini. Sama, kan, sama mobil papa yang berwarna kuning di garasi?” kata Kwee seperti ditirukan Oei. Oei yang akrab dipanggil Ceceng kini telah berusia 67 tahun.

Suasana pameran mobil di arena Djakarta Fair, Jakarta, 7 Februari 1972. Pameran digelar oleh agen tunggal kendaraan bekerja sama dengan Gakindo (Gabungan Agen Tunggal Kendaraan Bermotor Indonesia). Indonesia terus dipandang sebagai pasar potensial bagi produsen kendaraan bermotor.
KOMPAS/PAT HENDRANTO
Kawasan Segitiga Glodok, Jakarta Barat, pada 16 November 1978. Tampak jalanan masih didominasi mobil dan baru ada segelintir sepeda motor di pusat perniagaan Ibu Kota ini.
KOMPAS/KARTONO RYADI

“Kata papa, saat itu hanya ada dua mobil Cadillac di Indonesia. Satu milik Bung Karno, dan satu milik papa yang berwarna kuning tersebut,” lanjut Ceceng yang lahir di lingkungan pedagang di Jakarta Barat.

Sebagai saudagar opium, ayah Ceceng dulu sangat kaya dan mengoleksi mobil-mobil mewah ini. Namun, di antara mobil mobil-mobil mewah itu, Kwee paling bangga pada Cadillac kuningnya. “Tapi cuman bertahan tiga tahun. Tahun 1958 saya sudah enggak lihat Cadillac kuning itu lagi,” ujar Ceceng.

Ia lantas bercerita tentang perkembangan peredaran mobil di jalanan Jakarta. Menurut dia, tahun 1950-1960-an, mobil paling tinggi populasinya adalah dua mobil buatan Inggris, yaitu Morris dan Austin.

Mobil Chevrolet Impala dan Chevrolet Bel Air, lanjut Ceceng, pernah boomingdi akhir 1950-an hingga awal 1960-an. Sebagian Bel Air ini masih dirawat dengan baik oleh para anggota PPMKI, bahkan pekan depan akan mengikuti turing dari Jakarta ke Sabang, Aceh.

Sementara sepeda motor yang populer kala itu adalah BSA, Norton, NSU, BMW, dan Ducati. Waktu itu, jalanan Jakarta belum macet meski jumlah mobil dan motor mulai banyak.

Helmy Sungkar mengenang, tahun 1961, saat masih berusia 9 tahun, ia masih bisa balapan motor di Jalan Jenderal Sudirman hingga Bundaran HI karena jalanan masih lengang.

Start-nya dari arah Semanggi. Saya waktu itu pakai Vespa 125cc. Sampai Bundaran HI, belok kanan ke arah (Kali) Gresik, Menteng. Vespa saya rebahinseperti balapan beneran, sampai pedal starter-nya rusak,” ujar Helmy terkekeh.

Era Jepang tiba

Lalu sejak kapan kepadatan kendaraan pribadi mulai menyesaki jalanan dan memicu macet di Ibu Kota?

Para pengamat dan pencinta otomotif ini tak bisa menunjuk kerangka waktu yang pasti saat macet mulai jadi menu sehari-hari di Jakarta.

Namun, mereka sepakat pada satu hal: kendaraan pribadi di Ibu Kota makin padat sejak mobil-mobil dan motor buatan Jepang mulai masuk Tanah Air.

Robert Permadi (66), pengamat sejarah otomotif dan salah satu tokoh PPMKI, mengatakan, mobil-mobil Jepang mulai masuk akhir 1950-an dan awal 1960-an, tetapi belum masif. “Mobil Jepang pertama masuk tahun 1959, yakni Mitsubishi Jupiter yang bentuknya truk kecil. Lalu disusul Mazda R360 dan Toyopet Tiara buatan Toyota. Lalu Toyota Land Cruiser setelah itu,” kenangnya.

Sepeda motor Jepang juga mulai masuk, seperti buatan Honda. Menurut Robert, motor-motor buatan Jepang langsung disukai karena sudah dilengkapi berbagai fitur keselamatan, seperti spatbor plastik dan lampu sein. “Itu semua sebelumnya tidak ada di motor buatan Italia atau Inggris,” kata Robert.

Keandalan mobil-motor Jepang, ditambah harganya yang berada di bawah mobil-motor Eropa-Amerika, langsung membuatnya disenangi publik Indonesia. “Kalau mobil Eropa, malam dinaiki lancar, esok paginya sudah harus didorong. Kalau mobil Jepang tidak,” ujar Anton Sulaiman (71), juga anggota PPMKI.

Mobil dan motor Jepang makin merajalela setelah era 1970-an saat agen-agen tunggal pemegang merek mereka mulai berdiri di Tanah Air. Ceceng mengenang, seusai peristiwa Malari (15 Januari 1974), yang digelar mahasiswa saat itu untuk menentang masuknya modal asing dari Jepang, kendaraan buatan Jepang justru makin populer.

“Anehnya, justru setelah peristiwa tersebut, terjadi banjir mobil-mobil Jepang, terutama produk Toyota. Lalu lintas di Jakarta pun mulai padat,” kata Ceceng.

Helmy, yang pernah mengalami sendiri berkecimpung di bisnis keagenan mobil, juga mencatat satu hal terkait suksesnya mobil Jepang ini. “Orang-orang Eropa dan Amerika sangat kaku saat diajak bisnis. Semua harus ikut cara mereka, kemauan mereka. Nah, orang-orang Jepang tidak. Lebih luwes dan pandai mengambil hati orang sini,” tuturnya.

Ia mencontohkan, saat Honda hendak memasukkan Honda Civic pertama, mereka melakukan survei dulu ke publik Indonesia. “Dari survei itu, mereka tahu orang Indonesia ingin mobil yang kecil, tetapi bisa jalan kenceng. Dimasukkanlah Civic,” ujarnya.

Memasuki tahun 1980-an, kepadatan kendaraan bermotor di Jakarta mulai berubah menjadi kemacetan di sana-sini. Belakangan, dengan kemudahan membeli mobil/motor secara kredit, jumlah kendaraan bermotor pun makin banyak dan jalanan Jakarta makin macet.

Di saat yang sama, angkutan publik yang nyaman, aman, dan bisa diandalkan juga belum tersedia.

Dalam bahasa Facebook, kisah cinta manusia dengan mesin penebar asap knalpot kini telah berstatus it’s complicated. Rumit.

Pengendara terjebak kemacetan saat jam pulang kerja di persimpangan Jalan Salemba Raya, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (22/4). Jumlah kendaraan pribadi yang terus bertambah membuat kemacetan di Jakarta semakin parah.
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Pengunjung memadati arena Indonesia International Motor Show di JIExpo Kemayoran, Jakarta, saat libur akhir pekan, Sabtu (9/4). Pameran otomotif selain memacu pertumbuhan industri di sisi lain mendorong peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang beredar di jalanan yang berpotensi menambah kemacetan.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Check Also

Pendataan Aset Pemprov DKI Sudah 75 Persen

Pendataan aset-aset milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah mencapai 75 persen. Kepastian aset tersebut …