Home / Kliping / Trotoar yang Manusiawi

Trotoar yang Manusiawi

Lihat, Pak, tukang tanaman hias udah enggak ada lagi. Mereka harus pindah,” ujar seorang sopir taksi saat melintas di Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Selatan, pekan lalu. Para pedagang tanaman hias, pot, dan batu-batu ornamen rumah yang biasa berdagang di pinggir jalan seputaran kawasan Gelora Senayan tersebut kini tidak ada lagi.

Penertiban tersebut merupakan langkah Pusat Pengelola Kompleks Gelora Bung Karno untuk menertibkan pedagang tanaman hias yang selama ini berada di sepanjang Jalan Gerbang Pemuda dan Jalan Asia Afrika, Jakarta. Penertiban para pedagang tanaman hias dan sebagainya tersebut merupakan bagian dari persiapan pelaksanaan Asian Games 2018.

Sebanyak 115 pedagang tanaman hias, yang berjejer menyita pinggiran kedua ruas jalan tersebut, sudah bertahun-tahun berdagang di situ. Setelah bertahun-tahun berdagang di situ, mereka akan ditempatkan di lokasi baru di kawasan Parkir Timur Gelora Bung Karno. Bagi mereka yang biasa berjalan kaki atau berolahraga lari di seputaran Senayan, tahu persis bagaimana harus berjalan hati-hati di pinggir jalan karena trotoar penuh oleh dagangan tanaman hias atau pot-pot.

Memang di ruas Jalan Asia Afrika, antara tanaman dan pagar pembatasan kawasan Gelora Senayan ada lorong yang bisa dilalui pejalan kaki. Namun, berjalan kaki di “koridor” tersebut sama sekali tidak nyaman. Apalagi, malam hari karena para pedestrian harus bergegas dalam suasana gelap dan sepi di antara kerumunan tanaman hias.

Mereka yang biasa melintas di kawasan tersebut tentu tahu, penertiban fasilitas pedestrian tersebut bukan pertama kali terjadi. Di pinggiran Jalan Asia Afrika, dulu, pernah berjejer warung-warung pedagang makanan dan minuman. Saat ditertibkan, mereka dipindahkan dan dikumpulkan di kawasan dekat Lapangan Tembak Senayan.

Kini, saat jam makan siang tiba, warga Ibu Kota yang datang ke tempat tersebut memarkir kendaraannya di jalanan atau di tengah jalan, di antara tiang beton pembangunan kereta massal yang terbengkalai. Kemacetan lalu lintas di Jalan Gelora, tepat di belakang Gedung DPR/MPR, biasa terjadi.

Kawasan yang ditinggalkan para pedagang makanan di Jalan Asia Afrika tersebut kemudian lambat laun berganti menjadi tempat pedagang tanaman hias, pot, dan lainnya. “Waktu dibongkar, kemarin, malah ada yang sepertinya tinggal di situ bersama keluarganya. Ada yang bangun tempat tinggal di belakang barang jualannya,” ujar sopir taksi.

Kehadiran warga, seperti para pedagang tanaman hias yang mengokupasi fasilitas pedestrian di Ibu Kota, bukanlah hal aneh. Di tempat lain, bisa dengan gampang ditemui para pedagang kaki lima makanan minuman, bengkel, toko, hingga tempat mainan yang memakan trotoar. Tentu saja mereka hadir dan bisa bertahan seperti itu tidak dengan sendirinya. Banyak di antaranya mendapat “restu” dari oknum di kawasan tersebut.

Namun, ada juga yang memang membayar retribusi resmi seperti para pedagang tanaman hias yang membayar retribusi Rp 120.000 setiap bulan untuk biaya lapak. Jika malam tiba, para PKL penjual beragam makanan dan minuman pun beroperasi di pinggiran jalan tersebut.

Walaupun sudah mulai berbenah diri, fasilitas untuk pedestrian di Ibu Kota belum patut diacungi jempol. Para pejalan kaki bukan melulu harus ekstra waspada karena trotoar diserobot para pesepeda motor yang semakin bertindak seenaknya. Mereka juga harus ekstra hati-hati karena kondisi trotoar yang tidak nyaman. Jangan sekali-kali bermain gawai saat berjalan kaki di trotoar Ibu Kota. Salah langkah kejeblos, keseleo.

Ke depannya, DKI Jakarta sudah harus lebih memperhatikan fasilitas pejalan kaki sebagai bagian dari manajemen lalu lintas. Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama yang dikenal tegas semestinya mewujudkan harapan Jakarta memiliki trotoar aman dan nyaman.

Jakarta harus terus tumbuh menjadi kota yang humanis, mengedepankan keselamatan warganya. Bukan melulu membangun jalann layang dan tol untuk melancarkan perjalanan para pemilik kendaraan pribadi semata

About hildaje

Check Also

pdam diminta penuhi

PDAM Diminta Penuhi Kebutuhan Air Bersih Warga Muara Karang

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Mohammad Taufik meminta PDAM Jaya memberikan …