Home / Kliping / Amdal Tanggul Sudah Disetujui

Amdal Tanggul Sudah Disetujui

JAKARTA, KOMPAS — Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta mengungkapkan bahwa dokumen analisis mengenai dampak lingkungan terkait pembangunan tanggul pantai dan tanggul sungai fase A NCICD pada dasarnya sudah selesai dikaji dan dinilai. Hanya ada sebagian amdal yang perlu diperbaiki.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Banjir karena air pasang laut, atau rob, kembali terjadi di kawasan Muara Baru, Jakarta Utara, Selasa (7/6)
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Banjir karena air pasang laut, atau rob, kembali terjadi di kawasan Muara Baru, Jakarta Utara, Selasa (7/6)

Saat ini, BPLHD DKI sedang meminta pihak Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) untuk melakukan sedikit perbaikan pada dokumen amdalnya. Apabila dokumen yang perlu diperbaiki sudah dikembalikan dalam pekan ini, izin lingkungan bisa diterbitkan sehingga pembangunan tanggul fase A sudah bisa dimulai.

Andono Warih, Kepala Bidang Pencegahan Dampak Lingkungan BPLHD DKI, Selasa (7/6), menjelaskan, dalam penyusunan amdal, ada prosedur yang harus dilalui. Dalam hal amdal tanggul pantai dan tanggul sungai fase A Pembangunan Kawasan Pesisir Terpadu Ibu Kota Nasional (NCICD), BBWSCC menjadi pemrakarsa.

Sebagai pemrakarsa, BBWSCC menyusun dokumen amdal yang kemudian diserahkan kepada BPLHD DKI Jakarta selaku komite penilai untuk dinilai. Awalnya, imbuh Andono, karena tanggul itu akan dibangun melintasi tiga provinsi, yakni Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, amdalnya seharusnya dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Namun, KLHK melimpahkan penilaian kepada BPLHD DKI karena DKI yang paling siap melakukan pembangunan tanggul.

B BWSCC selaku pemrakarsa, imbuh Andono, sudah menyerahkan dokumen amdal itu kepada BPLHD DKI. Dokumen dari BBWSCC itu juga sudah selesai melewati proses pembahasan dan penilaian.

Posisi pada Selasa kemarin, dokumen itu dikembalikan kepada BBWSCC untuk diperbaiki. Menurut Andono, pihaknya memberi batas waktu minggu ini kepada BBWSCC untuk memperbaiki dokumen amdal tersebut.

Apabila sudah diperbaiki dan diserahkan kembali kepada BPLHD, izin lingkungan pembangunan tanggul sudah bisa diterbitkan. Artinya, pembangunan tanggul fase A sudah bisa dimulai. “Prinsipnya, amdal sudah disetujui. Namun, BBWSCC masih perlu memperbaiki dokumen tersebut,” ujar Andono.

Penanggung jawab

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Beberapa catatan dalam dokumen amdal yang mesti diperbaiki, antara lain, adalah penanggung jawab pembangunan tanggul. Seperti diberitakan sebelumnya, tanggul pantai dan tanggul sungai sepanjang 90 kilometer itu tidak hanya dibangun oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan BBWSCC, tetapi juga dibangun oleh pihak swasta, BUMN, dan BUMD.

“Karena pembangunan dibagi dalam beberapa segmen, penanggung jawab pembangunan itu perlu disebutkan dalam dokumen amdal itu,” kata Andono.

Tuty Kusumawati, Kepala Bappeda DKI Jakarta, membenarkan pembangunan tanggul pantai dan tanggul sungai fase A NCICD itu tidak sepenuhnya ditanggung Pemprov DKI dan BBWSCC saja.

Seperti dipaparkan BBWSCC kepada Bappeda DKI pada 29 Januari 2016, pembangunan tanggul sepanjang 90 km di wilayah DKI Jakarta itu dibagi-bagi dalam sejumlah segmen.

Tuty menjelaskan, Pemprov DKI sudah menyiapkan anggaran Rp 377 miliar tahun ini untuk pembangunan tanggul fase A itu. Anggaran itu untuk melakukan pembangunan tanggul sungai di subaliran barat (Kamal Muara), aliran tengah (Kali Adem), dan aliran timur (Kali Blencong).

Tuty menambahkan, untuk bisa memulai pembangunan tanggul, Pemprov DKI tinggal menunggu dokumen amdal yang saat ini sedang diperbaiki oleh BBWSCC. Amdal sudah dievaluasi, termasuk mitigasi terkait dengan nelayan dan bangunan-bangunan yang ada di situ.

Terkait kehidupan nelayan, mitigasi dilakukan Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (KPKP) DKI, serta mitigasi gedung oleh Dinas Tata Air

Tak mampu menahan

Di lapangan, kondisi tanggul laut di pesisir Jakarta sebagian sudah tak mampu menampung limpasan pasang air laut. Tanggul di sekitar Muara Baru, Jakarta Utara, jebol menyusul jebolnya tanggul di Pantai Mutiara dan Muara Angke.

Tanggul di sisi timur kawasan Pelabuhan Perikanan Nizam Zachman itu ambruk pada Senin (6/6) dini hari. Pasang air laut yang tinggi lalu limpas dan menggenangi kawasan tersebut.

Yono (32), warga Muara Baru, menuturkan, aktivitas di dalam pelabuhan terganggu akibat banjir rob yang melanda kawasan itu. Menurut dia, banjir rob biasa terjadi, tetapi baru kali ini menggenangi kawasan pelabuhan hingga ketinggian 50 sentimeter.

“Sudah dua hari ini terganggu, mau dagang ikan juga susah. Apalagi kendaraan bisa rusak kalau dipakai melewati genangan air laut,” ucap pedagang ikan ini, Selasa.

Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Rahmat Irawan, menyampaikan, pihaknya telah berupaya melakukan perbaikan sementara agar air pasang tidak limpas. Dua pompa juga disiagakan untuk menyedot air limpasan di kawasan pelabuhan.

“Tanggul itu dibangun tahun 2000. Tentu untuk memperbaiki permanen membutuhkan biaya yang jauh lebih besar lagi,” ucap Rahmat.

Dalam rencananya, tanggul laut tersebut akan dibuat ulang dengan ketinggian yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya. Saat ini ketinggian tanggul hanya sekitar 1,5 meter di atas permukaan air laut saat normal.

Sebelumnya, kejadian tanggul jebol berturut-turut terjadi pada Jumat dan Sabtu malam pekan lalu. Kejadian pertama di Pantai Mutiara merendam ratusan rumah mewah di kompleks itu. Sehari berselang, pagar pembatas Pelabuhan Muara Angke juga jebol setelah tak mampu membendung limpasan air laut. Banjir rob lalu menggenangi permukiman dan jalan-jalan di perkampungan nelayan itu. (HLN/JAL)

Check Also

Jalur 10 di Stasiun Manggarai ditutup sejak 23 Januari 2019. Hal itu dilakukan guna mempercepat revitalisasi Stasiun Manggarai. Jalur 10 yang biasa ditempati oleh KRL jurusan Jakarta-Depok/Bekasi akan dialihkan ke jalur 8, 5, dan 4. Meski penutupan telah berlansung selama tiga hari, tidak tampak adanya penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai. Sejumlah penunjuk arah dipasang begitu juga dengan petugas stasiun yang mengarahkan para penumpang, Sabtu (26/1/2019).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

Pemindahan KA Jarak Jauh dari Stasiun Gambir ke Manggarai, Wujudkan Konsep Lama…

JAKARTA, KOMPAS.com – Stasiun Gambir, Jakarta Pusat tak lagi melayani angkutan Kereta Api (KA) jarak …