Home / Kliping / Tinggi Tanggul Fase A 3,8 Meter

Tinggi Tanggul Fase A 3,8 Meter

JAKARTA, KOMPAS — Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Rabu (8/6), mengatakan, Jakarta sangat membutuhkan tanggul di sepanjang pantai utara Jakarta. Tanggul fase A NCICD yang dibangun di tepi pantai dan sungai itu diperhitungkan bisa melindungi Jakarta dari ancaman rob karena pasang laut yang tinggi.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Pesisir utara Jakarta terlihat dari udara, awal Mei lalu. Menurut analisis konsultan Belanda, PU, dan Bappenas, diputuskan tanggul Pembangunan Kawasan Pesisir Terpadu Ibu Kota Nasional (NCICD) fase A akan dibangun setinggi 3,8 meter. Ketinggian itu dinilai bisa menanggulangi penurunan tanah di muara sungai dan kawasan utara Jakarta yang saat ini sudah lebih rendah dari muka air laut.
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Pesisir utara Jakarta terlihat dari udara, awal Mei lalu. Menurut analisis konsultan Belanda, PU, dan Bappenas, diputuskan tanggul Pembangunan Kawasan Pesisir Terpadu Ibu Kota Nasional (NCICD) fase A akan dibangun setinggi 3,8 meter. Ketinggian itu dinilai bisa menanggulangi penurunan tanah di muara sungai dan kawasan utara Jakarta yang saat ini sudah lebih rendah dari muka air laut.

“Kita butuh bangun tanggul NCICD (fase) A sepanjang (wilayah) utara. Karena setelah ada penurunan muka tanah, seluruh tanggul yang sudah dibangun tidak cukup tinggi,” ujar Basuki.

Menurut analisis konsultan Belanda, PU, dan Bappenas, ujar Basuki, diputuskan tanggul Pembangunan Kawasan Pesisir Terpadu Ibu Kota Nasional (NCICD) fase A akan dibangun setinggi 3,8 meter. Ketinggian itu dinilai bisa menanggulangi penurunan tanah di muara sungai dan kawasan utara Jakarta yang saat ini sudah lebih rendah dari muka air laut.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta Tuty Kusumawati menambahkan, tanggul fase A NCICD itu juga bisa disebut tanggul pantai dan tanggul sungai karena mengikuti kelok-kelok muara sungai dan pantai. “Sehingga kalau muara menekuk ke dalam, tanggul juga akan dibangun menekuk ke dalam,” ujarnya, kemarin.

Basuki melanjutkan, hingga saat ini ada sejumlah kendala yang menyertai pembangunan tanggul fase A. Kendala itu di antaranya warga pesisir atau di muara sungai enggan dipindahkan. “Untuk bisa membangun tanggul, warga-warga yang tinggal di pesisir ataupun muara sungai mesti dipindahkan. Mereka mesti dipindahkan lebih dulu sehingga tanggul bisa dibangun dan selesai tahun ini,” ujar Basuki.

Dengan tanggul baru tersebut, wilayah yang semula hanya dilindungi tanggul pendek bisa semakin terlindung. Sebab, tanggul baru akan lebih tinggi dari pasang laut tertinggi yang selama ini diperhitungkan bisa mencapai lebih dari 2,5 meter.

Berdiri di tanggul

Pantauan di lapangan menunjukkan, ada ratusan hingga ribuan warga yang menetap di sekitar lokasi pembangunan tanggul fase A.

Di Muara Angke, tepatnya di Kampung Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, ada ratusan rumah yang berdiri di sisi tanggul laut. Rumah-rumah warga yang bertiang bambu memadati kawasan itu hingga tanggul lama tidak lagi terlihat.

Udin (47), salah satu warga, mengaku telah puluhan tahun menetap di wilayah Muara Angke. Sekitar pertengahan tahun 2.000-an, dia pindah ke rumah yang ditempati saat ini.

“Kalau pasang, air laut limpas sampai ke atas tanggul. Apalagi beberapa hari terakhir, sampai di sini,” ucapnya sembari menunjuk sebuah tanda setinggi 10 sentimeter (cm) di atas tanggul. Tinggi tanggul yang ada saat ini hanya sekitar 1 meter dari posisi muka air laut saat ketinggian air normal.

Udin juga mengakui, saat ini sudah beredar isu wilayah tempatnya tinggal akan dibersihkan untuk pembangunan tanggul baru. Ia mengatakan, pada prinsipnya setuju dipindah asal ada solusi yang baik.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan Perikanan Muara Angke Abdhul Kholik menyampaikan, wilayah yang berisi 552 rumah semipermanen tersebut memang masuk dalam program pematangan lahan tahun ini. Bahkan, pembangunan yang akan dilaksanakan telah dilelang dan sudah ada pemenang tender.

“Ada tiga program yang akan dilaksanakan, yaitu pematangan lahan pasar ikan Muara Angke, program instalasi air laut menjadi air bersih, dan pemasangansheet pile untuk memperkuat tanggul,” ucap Kholik.

Program-program tersebut, tambahnya, berada di Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (KPKP) DKI Jakarta. “Informasinya saat ini sedang negosiasi. Untuk waktu tepatnya pelaksanaan program berada di pihak dinas,” ujarnya.

Rob juga terus menggenangi kawasan pesisir seiring jebolnya sejumlah tanggul. Di Muara Baru, Jakarta Utara, rob terus menggenangi wilayah pelabuhan walau ketinggian air lebih rendah dari sebelumnya. Rabu siang, ketinggian air masih terlihat setinggi 10-40 cm.

Turap longsor

Turap yang terbuat dari bronjong kawat berisi batu kali longsor hingga menutup Sungai Cibalok di RT 003 RW 004, Kelurahan Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Selasa (7/6) sekitar pukul 17.00. Kejadian ini membuat tujuh rumah ikut longsor.

Hingga Rabu siang, sebagian tebing tanah yang terbuka sudah ditutupi terpal untuk mencegah longsor melebar. “Hujan deras sekali Selasa sore itu. Saya lihat air keluar dari turap. Tidak lama, turap melorot menutup sungai. Air sungai langsung meluap setinggi lebih dari 1 meter,” kata Yanti (24), penghuni salah satu rumah di pinggir sungai.

Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Kota Bogor Budi Hendrawan berpendapat, tujuh rumah itu sebaiknya direlokasi. “Tetapi, relokasi itu bukan wewenang kami. Kami meminta mereka mengungsi,” kata Budi.

Ketua RT 003 Wiliah Bibih (61) mengatakan, longsor turap di tebing itu setidaknya sudah empat kali terjadi. (RTS/JAL/HLN)

About hildaje

Check Also

sampah di pulau tidung

Sampah di Pulau Tidung Diangkut

Sampah di Pulau Tidung telah berhasil diangkut petugas Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu. Pengangkutan …