Home / Suara Anda / Berlari Kalahkan Bermobil

Berlari Kalahkan Bermobil

Jumat (24/6) malam, lebih dari 150 penggemar olahraga lari dari berbagai komunitas lari mengikuti acara “Sahur on the Run”. Mereka berlari dari kawasan FX Sudirman Jakarta menuju kawasan The Breeze BSD Serpong, Tangerang, sejauh 37 kilometer. Acara yang merupakan ketiga kalinya diadakan setiap pekan sejak 11 Juni lalu itu untuk menggenapkan jarak 100 kilometer setelah lari 30 kilometer dari FX ke Bintaro via Ciledug dan 33 kilometer dari FX ke Bekasi lewat Kanal Timur.

Tidak mudah berlari di jalanan Jakarta. Para pelari memerlukan “daya juang” tersendiri mengingat Ibu Kota yang baru berulang tahun ke-489 tersebut belum menjadi kota yang ramah terhadap warganya. Selain memerlukan mental dan fisik yang terlatih, para pelari juga dihadapkan pada kondisi jalanan dan lalu lintas Ibu Kota. Mereka harus ekstra waspada terhadap keamanan dirinya.

Mereka yang berlari malam itu memiliki dua pilihan, berlari di bahu jalan atau trotoar. Berlari di bahu jalan, para pengguna kendaraan bermotor, baik beroda empat maupun beroda dua, belum tentu memberikan jalan atau mendahulukan para pelari-juga pejalan kaki-seperti seharusnya.

Kebiasaan saling serobot, main potong, dan hobi membunyikan klakson para pengguna kendaraan bermotor adalah teror tersendiri yang harus dihadapi warga pejalan kaki, termasuk pelari. Tidak jarang, hal tersebut disertai teriakan caci maki atau penyebutan segala isi kebun binatang.

Baiklah, kita memilih berlari atau berjalan di trotoar. Tetapi, itu juga memerlukan keterampilan tersendiri. Fasilitas jalur pedestrian di Ibu Kota bisa lebih berbahaya daripada lintasan trail di alam bebas. Trotoar di pinggiran Jakarta umumnya dibangun dengan menggunakan paving block. Pemasangan yang asal-asalan, bekas bongkar pasang, akan membuat permukaan yang tidak rata dan sama sekali tidak nyaman dijejak kaki. Lubang-lubang menganga bisa tiba-tiba mengancam para penggunanya, menjadi ranjau siapa pun yang meleng. Para pengguna trotoar di Ibu Kota juga harus ekstra waspada karena di sejumlah lokasi tidak saja sempit, tetapi juga berbagai benda, dari tiang listrik hingga patok, bertebaran sehingga pelari harus meliuk-liuk menghindarinya. Malam itu, para pelari saling mengingatkan: hati-hati, awas lubang!

Kalaupun ada “kebahagiaan” di antara mereka yang berlari, Jumat malam tersebut, adalah bisa terus bergerak melewati jalanan yang macet luar biasa.

Kini, kemacetan bukan lagi saat jam sibuk (peak hour) saat jam pergi atau pulang kantor. Waktu kemacetan kini semakin panjang hingga di atas pukul 22.00! Boleh jadi saat pengguna kendaraan pribadi yang tengah didera kemacetan menyaksikan sejumlah pelari dengan kelap-kelip lampu di kepala dan backpack, muncul “kecemburuan”.

Dari kawasan Senayan hingga Gandaria di Jakarta Selatan, berkisar 4-5 kilometer, ditempuh dengan bermobil bisa 1,5 jam lebih. Jumat malam lalu, terbukti berlari di jalanan dan jarak yang sama cukup ditempuh sekitar 30 menit saja dengan “pace” normal sekitar 8 menit per km.

Jakarta baru saja memperingati Hari Ulang Tahun Ke-489 tanpa hura-hura malam muda-mudi lagi. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama kini lebih memilih meluncurkan sejumlah program saat HUT Jakarta yang kali ini mengusung tema “Jakarta Bersih, Maju, dan Melayani” tersebut.

Tahu diri memang lebih baik. Jakarta belum layak merayakan diri karena masih banyak yang harus dibenahi. Jika berlari saja masih lebih cepat dibandingkan mereka yang berkendaraan bermotor, sepertinya memang ada yang salah dengan sistem dan manajemen lalu lintas Ibu Kota kita.

Check Also

Pelayanan Sosial Paling Baik

Satu tahun enam bulan pasangan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat memimpin Ibu …