Home / Kliping / DKI Datangkan Alat Berat ke Bantargebang
be56374d477f402a902590492eaf6041

DKI Datangkan Alat Berat ke Bantargebang

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengelola sendiri Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, setelah kontrak dengan PT Godang Tua Jaya dan PT Navigat Organic Energy Indonesia diputus. DKI sudah mendatangkan alat-alat berat.

ADITYA PUTRA PERDANA Sampah menutupi separuh jalan dekat Zona II Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (20/7). Transisi pengelolaan dari PT Godang Tua Jaya (GTJ) dan Navigat Organic Energy Indonesia kepada Pemprov DKI Jakarta membuat aktivitas di kawasan itu terganggu. Alat-alat berat milik PT GTJ sudah tidak ada di lokasi, sejumlah sopir truk pun menurunkan sampah di jalan.
ADITYA PUTRA PERDANA
Sampah menutupi separuh jalan dekat Zona II Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (20/7). Transisi pengelolaan dari PT Godang Tua Jaya (GTJ) dan Navigat Organic Energy Indonesia kepada Pemprov DKI Jakarta membuat aktivitas di kawasan itu terganggu. Alat-alat berat milik PT GTJ sudah tidak ada di lokasi, sejumlah sopir truk pun menurunkan sampah di jalan.

Namun, perpindahan pengelolaan itu menyebabkan aktivitas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang sempat terhenti pada Rabu (20/7). Alat-alat berat milik PT Godang Tua Jaya (GTJ) sudah tidak dioperasikan dan membuat truk-truk sampah mengantre tak terlayani untuk menurunkan sampah. Sejumlah truk membuang sampah di jalan.

”Pengelolaan TPST Bantargebang menjadi tanggung jawab sepenuhnya Pemprov DKI, dalam hal ini Dinas Kebersihan. Kami akan swakelola dulu karena saat ini masih masa transisi,” kata Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Isnawa Adji di TPST Bantargebang, kemarin.

Isnawa menambahkan, ada kesepakatan bahwa 381 pekerja yang sebelumnya di bawah PT GTJ akan menjadi pekerja harian lepas (PHL) Dinas Kebersihan DKI. Hingga Rabu malam, Dinas Kebersihan DKI masih melakukan pendataan. Pada Kamis hari ini, para PHL mulai bekerja di bawah Dinas DKI.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT GTJ Rekson Sitorus menuturkan, belum semua aset dipindahkan dari TPST Bantargebang. Pihaknya akan mengikuti waktu yang diberikan Pemprov bagi PT GTJ untuk meninggalkan TPST, yaitu 60 hari.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan DKI Hari Nugroho menuturkan, penyediaan sarana akan dilakukan secara bertahap. ”Ada 6shovel, 2 buldoser, dan 15 ekskavator. Saat ini, kami masih melakukan pemetaan tentang kebutuhan alat berat,” katanya.

Hingga Rabu pukul 18.45, sudah ada 10 alat berat, terdiri dari shovel, buldoser, dan ekskavator, masuk ke parkiran TPST Bantargebang. Hari mengemukakan, Dinas Kebersihan menurut rencana akan mendatangkan juga refuse compactoruntuk mendorong dan memadatkan sampah.

Sampah menumpuk

Sejak menerima surat pemutusan kontrak, PT GTJ menurunkan secara bertahap 53 alat berat di TPST Bantargebang sejak Rabu pukul 00.00. Tidak adanya aktivitas pengerukan menggunakan ekskavator membuat sampah menumpuk. Truk-truk pengangkut sampah mengantre.

ADITYA PUTRA PERDANA
ADITYA PUTRA PERDANA
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Pantauan Kompas, puluhan truk sampah mengantre hingga lebih dari 1 kilometer di jalan samping Zona I TPST Bantargebang. Bahkan, pada dini hari hingga subuh, sejumlah truk membuang sampah di jalan belakang Zona I, yang membuat sampah menutupi separuh jalan.

Salah seorang pengemudi truk mengatakan, beberapa sopir sengaja membuang sampah di jalan karena tidak ingin lama-lama mengantre. ”Kesal juga hanya menunggu. Uang habis karena harus makan dan jajan,” ucapnya.

Terkait dengan hal itu, Isnawa mengakui ada kekurangan dalam masa pengalihan ini. Untuk sementara, sejumlah truk dari sejumlah wilayah di Jakarta tidak membuang sampah di TPST Bantargebang, tetapi ditahan di wilayah masing-masing.

”Peralihan ini membutuhkan proses dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, kami usahakan secepatnya pengolahan sampah kembali normal. Yang pasti, kami datangkan alat berat. Saat ini, (ekskavator) 15 dulu,” tutur Isnawa.

Ketika ditanya kurangnya persiapan dan kedatangan alat-alat berat yang terlambat, Isnawa mengatakan, hal tersebut berdasarkan pertimbangan hukum. Selain itu, para pekerja pun sebelumnya masih berada di bawah PT GTJ.

Sebelumnya, keterangan dari salah satu pimpinan PT GTJ lainnya, Douglas Manurung, pihaknya telah menarik sekitar 62 alat berat dari TPST mulai sekitar pukul 00.00. ”Jadi, setelah kami terima surat pengakhiran perjanjian tanggal 19 Juli, maka sesuai dengan kontrak yang ada, kami wajib menarik semua alat berat,” ujarnya.

Kompensasi dinaikkan

Isnawa Adji sebelumnya menegaskan, selain menaikkan jumlah warga penerima kompensasi dari sekitar 15.000 orang di sekitar Bantargebang menjadi 18.000 orang, pihaknya menambah besaran kompensasi dari Rp 300.000 menjadi Rp 500.000 per tiga bulan. DKI juga berencana membangun fasilitas pelayanan kesehatan bagi pemulung, pekerja, dan warga di sekitar TPST Bantargebang.

Dinas Kebersihan bersiap mengambil alih pengelolaan dengan menambah alat berat hingga berjumlah 45 unit. DKI juga menganggarkan dana untuk membeli 18 unit alat berat baru tahun ini. (MKN/C03/*)

ADITYA PUTRA PERDANA Sampah menutupi separuh jalan dekat Zona II Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (20/7). Transisi pengelolaan dari PT Godang Tua Jaya dan Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI) ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuat aktivitas di Bantargebang terganggu. Alat-alat berat milik PT GTJ diturunkan. Sejumlah sopir truk pun menurunkan sampah di jalan.
ADITYA PUTRA PERDANA
Sampah menutupi separuh jalan dekat Zona II Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (20/7). Transisi pengelolaan dari PT Godang Tua Jaya dan Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI) ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuat aktivitas di Bantargebang terganggu. Alat-alat berat milik PT GTJ diturunkan. Sejumlah sopir truk pun menurunkan sampah di jalan.

Check Also

Warga menjala ikan di Waduk Poncol, Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (20/9/2018).(KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFAR)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pengerukan Waduk Poncol Diharap Atasi Banjir Tahunan di Ragunan ", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/09/20/20140591/pengerukan-waduk-poncol-diharap-atasi-banjir-tahunan-di-ragunan. 
Penulis : Nibras Nada Nailufar
Editor : Dian Maharani

Pengerukan Waduk Poncol Diharap Atasi Banjir Tahunan di Ragunan

JAKARTA, KOMPAS.com – Waduk Poncol di Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tengah dikeruk untuk menghadapi …