Home / Suara Anda / Sepotong Surga di Tengah Kota

Sepotong Surga di Tengah Kota

Memandang lepas ke arah air berlimpah yang tenang. Lalu lalang kendaraan bermotor jauh berjarak, kebisingan teredam. Lingkungan bersih sedap dipandang dengan tegakan pohon dan tanaman hias memasok kesegaran berlebih. Kedamaian merasuki raga, membuai pikiran.

Bersantai dan bermain layang-layang di atap Marina Barrage atau Waduk Marina di kawasan Marina Bay, Singapura, awal Juli lalu. Waduk ini sengaja dibuat untuk menjamin pasokan air tawar dan air baku serta mengendalikan banjir rob maupun karena hujan lebat. Selain itu, sebagian besar waduk didisain untuk bisa dinikmati publik secara gratis, termasuk hamparan rumput di atap waduk tempat.
Kompas/Neli Triana Bersantai dan bermain layang-layang di atap Marina Barrage atau Waduk Marina di kawasan Marina Bay, Singapura, awal Juli lalu. Waduk ini sengaja dibuat untuk menjamin pasokan air tawar dan air baku serta mengendalikan banjir rob maupun karena hujan lebat. Selain itu, sebagian besar waduk didisain untuk bisa dinikmati publik secara gratis, termasuk hamparan rumput di atap waduk tempat.

Relaksasi semacam itu dulu rasanya hanya mimpi, dan kalaupun bisa pasti susah payah mencarinya di tengah gemuruh sibuk Ibu Kota. Waktu berlalu, perubahan terjadi di semua lini. Tata kelola perkotaan pun berkembang. Orang makin sadar akan pentingnya setiap kota untuk mampu menyediakan tempat terbuka hijau dan ruang biru (badan air) yang bisa bebas dan gratis dinikmati warganya. Meskipun terbilang ketinggalan, dalam beberapa tahun terakhir ruang-ruang publik yang dimaksud mulai terwujud di Jakarta.

Berkendara membelah Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Selasa (19/7), awalnya hanya untuk melihat penataan Kali Pesanggrahan. Seusai merasakan jalan aspal bergelombang dan rusak sana-sini, tibalah di tepi Pesanggrahan yang sebagian sisi kanan-kirinya telah dibeton dan dibangun jalan inspeksi lebar. Pohon-pohon baru setinggi sekitar 3-5 meter ditanam berderet di tepian jalan inspeksi.

Seusai melewati satu-satunya jembatan di lokasi itu, ditemukan dua polder atau penampungan air yang masing-masing berukuran setara dua kali lapangan bola. Pohon ditanam di sekelilingnya dan taman kecil ditata di salah satu sudutnya lengkap dengan jalan kecil berkelok dari paving block. Sendirian atau bersama teman, tampak beberapa orang menikmati sore yang gerimis sambil memancing. Sebagian lain sekadar duduk nongkrong.

Polder-polder ini cukup bersih dari sampah. Tidak ditemukan plastik mengapung di permukaan airnya yang coklat tenang. Tanaman tomat, cabai, juga deretan pohon mangga di taman juga cukup terawat. Tebersit doa semoga saja warga penghuni rumah-rumah yang tepat berbatasan dengan polder juga para pengunjung akan selalu bisa mempertahankan kondisi baik itu.

Mendekati ujung jalan inspeksi, beberapa wahana komidi putar mini ketat ditutupi terpal. Sepertinya, saat hari tidak hujan, wahana itu melayani bocah-bocah yang tinggal di kawasan sekitar. Kehidupan yang menarik di sudut kota, kehidupan yang mungkin tidak terbayangkan terjadi saat kawasan itu masih belum ditata.

Selain polder-polder di dekat TPU Tanah Kusir yang juga bisa diakses dari jalan lingkungan di kawasan Perdatam, Ulujami, Jakarta Selatan, juga danau di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat. Sedikit ke arah hulu Pesanggrahan, ada Hutan Kota Sangga Buana-Kali Pesanggrahan di Jalan Karang Tengah Raya, Taman Sari 1, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, yang lebih asri dan alami ramah menyambut semua pengunjung.

Di Jakarta Utara, sudah ada Waduk Pluit yang cukup luas dengan daerah tepiannya yang diperuntukkan bagi taman kota. Di Jakarta Timur, ada Waduk Ria Rio dan jalur hijau sepanjang Kanal Timur. Situ-situ alami yang menawan juga banyak tersebar di perbatasan antara Jakarta Selatan dan Depok atau Tangerang Selatan, seperti di Situ Babakan di Jagakarsa dan Situ Gintung.

Mendatangi tempat-tempat yang menyenangkan ini hanya perlu sedikit biaya. Saat menyambangi Hutan Kota Srengseng, Rabu (20/7), biaya parkir untuk satu mobil tanpa batas waktu hanya Rp 5.000. Pengunjung tidak lagi ditarik biaya tambahan. Sementara menikmati polder-polder di Tanah Kusir dan Hutan Sangga Buana gratis. Tinggal membekali diri dengan kudapan, acara melepas kepenatan bakal makin asyik.

Di tengah taman

Mencoba mencari contoh penataan ruang publik sekaligus ruang hijau dan biru yang ideal, Singapura langsung muncul di ingatan. Awal Juli lalu, datang kesempatan menikmati sisi lain “Negeri Merlion” itu. Tempat menarik itu tak lain Marina Barrage atau Waduk Marina seluas 10.000 hektar. Lokasinya tak jauh di kompleks Marina Bay, di lahan yang seluruhnya adalah hasil reklamasi.

Di Waduk Marina, Pemerintah Singapura membangun waduk besar dengan 9 pompa besar. Di atas pintu air dijadikan jembatan bagi pejalan kaki dan pesepeda. Jembatan membatasi antara hamparan laut dan danau air tawar buatan. Waduk ini secara keseluruhan berfungsi mengendalikan banjir, baik akibat gelombang laut maupun hujan berlebihan. Waduk juga jadi pusat lokasi olahraga air, seperti kayak dan perahu naga.

Air waduk bisa diolah menjadi air baku konsumsi. Kawasan ini juga menjadi pusat edukasi terkait air dan energi. Di bagian atas waduk sengaja ditanami rumput hijau menghampar yang cocok untuk aktivitas bermain layang-layang sepanjang tahun dan piknik. Semua area bisa diakses gratis.

“Setiap ada program pembangunan, kami memikirkan banyak aspek dan bangunan itu harus multifungsi. Luas pulau kami hanya 719,1 kilometer persegi. Menambah luas lahan dengan reklamasi kami lakukan, tetapi tidak bisa sembarangan. Untuk itu, semua pembangunan harus efektif dan bisa mendukung tujuan menjadi kota di dalam hutan dan taman,” kata Wong Kai Yeng dari Pusat Studi Kawasan Urban Singapura.

Sesuai targetnya itu, di setiap sudut kota berpenduduk 5,4 juta jiwa ini mudah ditemukan danau-danau kecil, sungai alam ataupun buatan, 15 reservoir termasuk Waduk Marina, dan taman berpepohonan tinggi. Semua bebas bea akses, termasuk Singapore Botanical Gardens seluas 74 hektar di tengah kota.

Belajar

Pemikiran yang arif dan jauh ke depan sebenarnya tak perlu dicari jauh-jauh. “Gue, kite semua punya utang sama kali. Kalau kali hidup, hutan hidup, kite semua bisa hidup baik,” kata Chaidir (63), tetua dan pengelola Sangga Buana.

Jika sempat menjejakkan kaki ke Sangga Buana, coba saja cari laki-laki yang akrab dipanggil Bang Idir atau Babe Haji Idir itu. Siapa tahu sedang beruntung dan Babe pun mau berbagi kisah pengalamannya. Ia bersama warga setempat menjaga kealamian Kali Pesanggrahan, setidaknya di lahan seluas 130 hektar Hutan Sangga Buana, sejak tahun 1970-an. Selain menjaga tutupan hijau kawasan itu, mereka mengelola peternakan ayam, kambing, kelinci, dan banyak lagi. Pakan ternak diupayakan maksimal dari hasil hutan dan tanaman setempat. Kotoran hewan dikelola jadi pupuk. Babe juga menanam aneka tanaman khas dan endemik tepi kali, seperti jamblang, kecapi, rengas, juga berjenis-jenis bambu.

Pengembang swasta yang mengelola lahan tepat bertetanggaan dengan Sangga Buana pun sepakat menerapkan program pelestarian di lahan mereka, antara lain, dengan tidak membangun di bantaran. Konstruksi jembatan perumahan didesain tidak menghalangi luapan sungai. Juga pemberdayaan masyarakat, seperti disediakan lapangan dan pelatihan sepak bola yang terbuka bagi anak-anak kampung. Terakhir, pengembang pun mendukung pengelolaan sampah Sangga Buana. Tak kurang 20 truk sampah dari kawasan sekitar diolah di Sangga Buana setiap hari tanpa membuangnya sedikit pun ke kali.

Begitu banyak pelajaran yang bisa kita petik sembari berwisata di ruang terbuka. Banyak pekerjaan rumah juga bagi Jakarta untuk mengatasi ketertinggalan. Setidaknya kini, saat menikmati ruang terbuka, jangan lupa untuk tidak buang sampah sembarangan dan tidak melanggar aturan di tiap lokasi.

Selamat berakhir pekan!

About hildaje

Check Also

Berlari Kalahkan Bermobil

Jumat (24/6) malam, lebih dari 150 penggemar olahraga lari dari berbagai komunitas lari mengikuti acara …