Home / Kliping / Suatu Masa di Simpang Bulungan…

Suatu Masa di Simpang Bulungan…

Kalangan seniman yang tumbuh dan berkembang di kawasan Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan, di pertengahan 1970-an sampai awal 1980-an, tak akan pernah lupa akan Warung Tegal Yu Yem yang lebih dikenal sebagai Warung Teh Poci. Letaknya di luar pagar gedung bioskop New Garden Hall, yang kini menjadi kompleks pusat perbelanjaan Blok M Plaza.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Sejumlah remaja sedang berlatih menghafal naskah teater di Komplek Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (GRJS) Bulungan, Sabtu (23/7). Gelanggang Remaja Bulungan yang diresmikan pada bulan April 1970 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin, merupakan gelanggang remaja yang pertama kali didirikan di Jakarta.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Sejumlah remaja sedang berlatih menghafal naskah teater di Komplek Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (GRJS) Bulungan, Sabtu (23/7). Gelanggang Remaja Bulungan yang diresmikan pada bulan April 1970 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin, merupakan gelanggang remaja yang pertama kali didirikan di Jakarta.

Aroma teh poci dan sajian ketannya seperti terus melekat dalam ingatan kami,” kata penyair Yoyik Lembayung, Jumat (22/7).

“Tak terasa, Yu Yem telah menyelamatkan semangat, kreativitas, dan hidup kami,” tambah penyair dan novelis Yudhistira ANM Massardi, Sabtu (23/7). Ia mengaku kelompoknya sering berutang makanan dan minuman kepada Yu Yem. “Biasanya baru kami bayar setelah kami menerima honor,” ucap Yudhistira.

Di tempat itulah, nama-nama seperti dirinya, Yoyik, Radhar Panca Dahana, Agus Arya Dipayana, Seno Gumira Ajidarma, Heryus Saputra, Hardo Sayoko, Adri Darmaji Woko, dan Noorca M Massardi mangkal bersama para pelukis dan karikatur dari Sanggar Garajas, seperti Subiakto SMT, Dimas Prasetyo, Sahat Simatupang, dan Suryono (karikaturis Si Jon). Belum lagi beberapa penari Bali dari Sanggar Saraswati dan para penari tradisional dan modern lain yang menetas menjadi para koreografer andal di kemudian hari.

Kehadiran mereka di Gelanggang Remaja Bulungan (GRB) menandai meroketnya kegiatan kesenian di GRB. “Roket” itu didorong oleh meluapnya semangat kreativitas, keterbukaan, dan kebersamaan sampai ke jalanan di sekitar GRB.

Tak heran jika beberapa nama terkenal di dunia musik yang berawal dari musisi jalanan juga lahir dari sana. Mereka antara lain Mbah Surip (almarhum), Tony Q Rastafara, Iwan Fals, Kuntet Mangkulangit (almarhum), Timur Priono, Yongky RM, dan tentu saja Anto Baret (Anto S Trisno).

Tahun 1973, Yudhistira mulai mengenal GRB. Kala itu ia baru saja lulus SMA. “Ketika saya datang, kegiatan sastra di sana sudah semarak. Ada Teater Gombong, Teater Sae, Teater Bersama, Teater Panuluh, Teater Bulungan, dan Teater Tetas. Majalah sastra Siasat yang dibidani Norca pun sudah ada,” tuturnya.

Setahun setelah bergumul di sana bersama komunitasnya, ia menetaskan genre kepenyairan baru, antara lain lewat karyanya, “Sajak Biarin” (1974) dan “Sajak Sikat Gigi” (1976). Genre baru ini berbasis puisi-puisi mbelingnya Remy Sylado (Yapi Panda Abdiel Tambayong) yang kala itu masih menjadi redaktur majalah musik Aktuil di Bandung.

“Kala itu Remy sangat dekat dengan penyair Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri sampai kemudian lahir kumpulan sajak pertama Sutardji,Kapak,” kenang Yudhistira.

Sementara ia dan kelompoknya mondar-mandir membangun jaringan kegiatan sastra GRB-Balai Budaya-TIM (Taman Ismail Marzuki), sampai akhirnya para pengasuh majalah sastra Horison dan Dewan Kesenian Jakarta, terutama penyair Sapardi Djoko Damono, sutradara Wahyu Sihombing, dan “Paus”-nya sastra Indonesia, HB Jassin, menginisiasi lahirnya kelompok genre baru “Penyair Muda di Depan Forum”.

Medio 1980-an, kalangan sastrawan muda yang tumbuh di GRB meninggalkan tempat itu, melanglang ke langit yang lebih tinggi.

Garajas

Masih di lingkungan GRB, di arena seni rupa lahir sanggar seni rupa Garajas (Gelanggang Remaja Jakarta Selatan) pada 3 Juli 1974. Pendirinya adalah Dimaz Prasetyo yang kala itu bekerja sebagai ilustrator majalah Femina. Pimpinan GRB saat itu, Kotjo Pramono, Oyong Karmayudha, dan Aman, puas melihat pertumbuhan Garajas.

Kegiatan di sanggar itu terus berkembang. Dari sebatas seni lukis, ilustrasi, kaligrafi, menggambar dan sketsa, bertambah dengan kegiatan batik, tata ruang, atau tata panggung, desain grafis, fotografi, sampai multimedia. Bermacam kegiatan seperti simposium, seminar, dan lokakarya sering digelar.

KOMPAS/PAT HENDRANTO Sebuah parade musik dengan judul parade lagu-lagu rakyat diselenggarakan di Gelanggang remaja Bulungan Minggu siang. Ratusan remaja hadir dibawah sengatan matahari untuk menonton pertunjukan musik rakyat itu.
KOMPAS/PAT HENDRANTO
Sebuah parade musik dengan judul parade lagu-lagu rakyat diselenggarakan di Gelanggang remaja Bulungan Minggu siang. Ratusan remaja hadir dibawah sengatan matahari untuk menonton pertunjukan musik rakyat itu.

Nama-nama awal perupa muda dari sanggar ini antara lain May Soebiakto SMT, Eddy Yoenanto (Eddy Yoen), Joko Wiwit, Tino Saroengalo, Thelma Nurmathias, sampai Renny Jayusman yang di kemudian hari juga berkiprah di dunia teater dan musik.

Tak sedikit senior yang mendampingi kegiatan sanggar. Mereka antara lain Sudarso, Probo Suprobo, Bambang Priyono, Si Jon, Kamso Kholiban, Joko Triono (kini kurator seni rupa andal di AS), Herry Dim, dan Muchlis Sardjana.

Wapres

Tahun 2006, kegiatan sanggar dipindahkan ke rumah Muchlis di Jalan Cipaku I Nomor 9A, Jakarta Selatan. Alasannya, suasana di GRB sudah tidak kondusif. “Sekarang setiap ruang harus disewa. Dulu tidak. Kala itu pengelola GRB cuma menyiapkan fasilitas dan pendampingan sesuai kebutuhan komunitas. Selebihnya dilakukan komunitas masing-masing. Sekarang, bermacam sanggar komersial yang makin banyak berebut masuk di GRB,” ujar May Soebiakto.

Kini, seperti diakui Yudhistira, tak banyak lagi pekerja seni yang tumbuh di GRB bisa terbang tinggi. Penyebabnya antara lain putusnya relasi GRB-Balai Budaya-TIM,

“Kegiatan sanggar dan teater yang dulu menyebar sekarang cuma terfokus pada Warung Apresiasi (Wapres),” kata Yudhistira. Faktor yang ikut memengaruhi “kebangkrutan” kehidupan berkesenian di GRB adalah munculnya pilihan hiburan kontemporer yang lebih instan.

Anto Baret, salah satu pendiri Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) tahun 1982, pun mengamini redupnya kegiatan kesenian di GRB. “Menjelang reformasi, para kepala GRB terkesan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Tak lagi dekat dengan komunitas kreatif di bawah,” tuturnya.

Berbeda dengan era 1980-an, saat kehidupan berkesenian di GRB berjaya. “GRB selalu menyapu banyak trofi di setiap lomba teater dan tari. Sampai-sampai para peserta dari gelanggang remaja lain sudah ciut sebelum bertanding dengan GRB,” kata Anto Baret.

Soebiakto tak bisa membayangkan apa jadinya GRB kini tanpa kehadiran Wapres (Warung Apresiasi) yang dibuka KPJ tahun 2002. “Yang menandai bahwa GRB masih ‘beradab’ itu sekarang, ya, tinggal kehadiran Wapres,” ujarnya.

GRB adalah gelanggang remaja pertama di Jakarta yang didirikan tahun 1970 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Awalnya, GRB yang memiliki bermacam kegiatan kesenian dan olahraga ini berdiri untuk meredam tawuran remaja.

GRB memiliki gedung pertunjukan seluas 6.500 meter persegi dengan luas bangunan 3.300 meter persegi yang mampu menampung 350 penonton. Gedung ini direnovasi total tahun 2007.

Ada lagi tiga gedung lain, yakni gedung B-C-D seluas 1.784 meter persegi yang belum pernah direnovasi sampai saat ini. Di era 1980-an, gedung B-C-D inilah yang menjadi sentra semarak kreativitas hidup berkesenian kaum muda.

Kepala Unit Pelayanan Gelanggang Remaja Jakarta Selatan Makmur, yang dihubungi terpisah pekan lalu, mengakui kian muramnya suasana hidup berkesenian di GRB karena minimnya dukungan dana untuk pengembangan kegiatan. “Untuk biaya renovasi gedung saja masih terus tertunda,” keluh Makmur pasrah.

Di tengah hiruk-pikuk kasus kejahatan remaja belakangan ini, muncul pertanyaan, sanggupkah Pemprov DKI mengulang sukses GRB di era 1980-an? Bukankah potret lama itu lebih indah dan hangat dari sekadar bertambahnya potret tentang taman yang lapang, bersih, tetapi senyap?

Check Also

Jalur 10 di Stasiun Manggarai ditutup sejak 23 Januari 2019. Hal itu dilakukan guna mempercepat revitalisasi Stasiun Manggarai. Jalur 10 yang biasa ditempati oleh KRL jurusan Jakarta-Depok/Bekasi akan dialihkan ke jalur 8, 5, dan 4. Meski penutupan telah berlansung selama tiga hari, tidak tampak adanya penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai. Sejumlah penunjuk arah dipasang begitu juga dengan petugas stasiun yang mengarahkan para penumpang, Sabtu (26/1/2019).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

Pemindahan KA Jarak Jauh dari Stasiun Gambir ke Manggarai, Wujudkan Konsep Lama…

JAKARTA, KOMPAS.com – Stasiun Gambir, Jakarta Pusat tak lagi melayani angkutan Kereta Api (KA) jarak …