Home / Kliping / Pohon di Kalijodo Tetap yang Utama
e298ec3437aa465a8894f2eb7ada2abe

Pohon di Kalijodo Tetap yang Utama

JAKARTA, KOMPAS — Wajah Kalijodo telah berganti setelah pembangunan jalan, taman, dan berbagai fasilitas dimulai. Meski begitu, sebagian kalangan berpendapat, kawasan Kalijodo tetap harus menjadi ruang terbuka yang lebih hijau dengan banyak pohon dan berciri khas.

e298ec3437aa465a8894f2eb7ada2abe

Sejak beberapa bulan terakhir, pengerjaan di kawasan seluas lebih kurang 4 hektar ini terus dikerjakan. Hal itu seiring pembongkaran ribuan bangunan yang terkenal dengan kehidupan malamnya, akhir Februari.

Saat ini, wilayah yang sebagian besar berada di kawasan Jakarta Utara ini telah berganti rupa. Sejumlah bangunan dan taman bermain telah terlihat meski belum jadi 100 persen. Pembangunan ini dikerjakan pihak swasta.

“Kisarannya sudah 70 persen. Ada bangunan serbaguna, ada amphitheater, skate park, mushala, dan akan ada monumen,” kata Nardi, pengawas proyek, Jumat (25/11).

Selain itu, total ada 15 macam pohon yang akan ditanam di wilayah ini. Jumlahnya mencapai 300-an pohon. Pohon-pohon tersebut di antaranya trembesi, ketapang kencana, kamboja bali, kayu putih, mindi, dan pulai. Sejumlah pekerja tampak merapikan pekerjaan pembangunan. Ada yang merapikan area skateboard, aula serbaguna, dan amphitheater.

Sejumlah pohon telah ditanam di kawasan itu, baik kawasan ruang publik terpadu ramah anak maupun lokasi ruang terbuka hijau (RTH) dengan sejumlah fasilitas tersebut. Meski begitu, pohon-pohon belum begitu banyak dan terlihat coklat. Pembangunan kawasan ini ditargetkan selesai akhir tahun atau kurang dari satu bulan lagi. Pemprov DKI Jakarta menargetkan Kalijodo bisa dimanfaatkan pada malam Tahun Baru 2017.

Ahli ekologi sungai dan manajemen lanskap Institut Pertanian Bogor, Prof Hadi Susilo Arifin, mengingatkan pembangunan di RTH tidak boleh melenceng jauh dari fungsi utamanya, fungsi ekologi. Daya dukung lingkungan diharapkan bisa semakin baik dari yang sebelumnya ada di wilayah itu.

“Fasilitas publik juga tidak apa-apa karena itu menimbulkan kenyamanan warga kota. Namun, fungsi pohon dan tanaman tetap utama. Apalagi ketika pemerintah menanam tanaman khas Jakarta di area terbuka itu. Semua fungsi berada dalam satu area,” tuturnya.

Check Also

Permukiman padat di Bidaracina, di sepanjang bantaran Kali Ciliwung, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (27/8/2015). Bidaracina merupakan kawasan yang akan digusur terkait proyek normalisasi dan sodetan Kali Ciliwung.(KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES)

Proyek Sodetan Ciliwung Dimulai, Ini Proses Ganti Rugi terhadap Warga Bidara Cina

JAKARTA, KOMPAS.com – Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan …