Home / Kliping / Sampah Menyampah

Sampah Menyampah

Jorok, bau, dan menjijikkan. Tumpukan sampah dirubung lalat dengan bau menyebar segera terbayang begitu melihat foto tumpukan sampah di halaman 27 harian Kompas edisi 24 November lalu. Foto tersebut menggambarkan gunungan sampah di kawasan Pamulang Barat, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Gunung sampah seperti di Jalan Kemuning 3, Pamulang Barat, itu bukanlah satu-satunya tumpukan sampah di kawasan pinggiran selatan Jakarta itu.

Mereka yang biasa menelusuri perkampungan atau kompleks perumahan di Tangerang Selatan (Tangsel) terbiasa melihat tumpukan sampah di tempat tak semestinya. Warga yang tidak bertanggung jawab biasa membuang sampah di pinggir jalan, biasanya di lokasi yang sepi.

Seperti kawasan pinggiran lain Ibu Kota, Tangsel saat ini makin disesaki kompleks perumahan. Kompleks-kompleks itu bukan hanya dibangun oleh para pengembang besar, melainkan juga pengembang-pengembang kecil.

Harga rumah buatan pengembang kecil biasanya relatif murah karena infrastruktur yang tersedia pun ala kadarnya. Untuk kepentingan pemasaran, para pengembang biasanya menambahkan istilah ”cluster” (baca: klaster) untuk kelompok beberapa rumah saja. Tak heran jika warga pun suka memelesetkan istilah ”klaster” ini sebagai singkatan dari ”kelas teri” karena fasilitas yang ala kadarnya itu.

Banyak juga warga secara perseorangan membangun rumah-rumah petak untuk disewakan. Satu ”kompleks” rumah kontrakan bisa terdiri atas beberapa pintu—istilah buat satu unit hunian kontrakan itu.

Salah satu masalah yang timbul dari munculnya ”klaster-klaster” dan kontrakan tersebut adalah sampah. Tidak mudah membuang sampah rumah tangga. Warga di permukiman atau kompleks perumahan biasanya sudah mencoba berkoordinasi untuk mengelola sampah bersama.

Pengurus rukun tetangga (RT) biasanya memungut sejumlah iuran berdasarkan kesepakatan bersama. Uang yang terkumpul untuk membayar tukang sampah mengangkut sampah rumah tangga warga ke penampungan sementara.

Meski kelihatannya sudah ideal, di sini bisa saja muncul masalah. Warga yang rumah boleh bagus, mobil di garasi lebih dari satu, tetapi kadang untuk iuran sampah ini belum tentu lancar. Iuran naik Rp 5.000-Rp 10.000 per bulan saja pembahasannya bisa lebih lama daripada rapat urusan negara.

Mereka yang tak membayar iuran RT bisa dikenai sanksi sampahnya tidak diangkut. Jangan salah, bukannya kapok, mereka pun kadang tak peduli dengan kesepakatan tersebut.

Mereka itulah yang kemudian membuang sampah di mana saja, asal jauh dari rumahnya. Biasanya sampah dalam kantong keresek mereka bawa saat mereka berangkat kerja subuh atau pagi hari. Mereka buang di tempat sekenanya, seperti lokasi sepi, atau bahkan sungai.

Tak sedikit warga yang tinggal di tepi sungai yang melaporkan hal seperti itu terjadi setiap hari. ”Kalau ditegur, malah mereka yang nyolot,” ujar seorang warga di tepi Kali Grogol di kawasan Jalan H Ipin, Jakarta Selatan.

Berbagai imbauan dan peringatan, mulai dari papan pengumuman resmi, spanduk, poster, hingga coretan di tembok; dari yang berkalimat halus hingga kasar, sudah tak mempan lagi untuk menghentikan kebiasaan buruk dan tercela ini.

Persoalan sampah seperti di Tangerang Selatan ini bisa saja terjadi di kawasan-kawasan lain di sekitar Ibu Kota. Bahkan, di Jakarta pun, sampah masih menjadi persoalan tak kunjung tuntas. Bukan melulu karena kelalaian pemerintahnya, melainkan juga kesadaran warga akan sampah yang masih memprihatinkan. Begitulah, banyak di antara kita yang suka berteriak menuntut haknya, tetapi lupa menunaikan kewajibannya.

Check Also

Permukiman padat di Bidaracina, di sepanjang bantaran Kali Ciliwung, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (27/8/2015). Bidaracina merupakan kawasan yang akan digusur terkait proyek normalisasi dan sodetan Kali Ciliwung.(KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES)

Proyek Sodetan Ciliwung Dimulai, Ini Proses Ganti Rugi terhadap Warga Bidara Cina

JAKARTA, KOMPAS.com – Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan …