Home / Kliping / Benarkah Wilayah yang Sudah Dinormalisasi Bebas dari Banjir?
wilayah yg di normalisasi

Benarkah Wilayah yang Sudah Dinormalisasi Bebas dari Banjir?

wilayah yg di normalisasi
Foto aerial bantaran Kali Ciliwung tiga minggu pasca penggusuran di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan, Rabu (19/10). Aktivitas pemasangan turap beton untuk normalisasi mulai dilakukan di sepanjang bantaran Kali Ciliwung sisi barat.

JAKARTA, KOMPAS.com — Salah satu penyebab banjir yang terjadi di sejumlah wilayah di Jakarta pada Selasa (21/2/2017) kemarin adalah meluapnya Sungai Ciliwung. Saat terjadi banjir Selasa kemarin, ketinggian permukaan air di salah satu dari 13 sungai besar di Jakarta itu lebih tinggi dari permukaan tanah di sejumlah permukiman warga yang ada di sekitarnya.

Saat ini, di sebagian aliran Ciliwung tengah dilakukan normalisasi yang merupakan bagian dari program Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI). Normalisasi dilakukan dengan cara membuat dinding turap beton atau sheet pile di sepanjang pinggiran sungai.

Meski program JEDI sudah berlangsung sejak zaman Gubernur Fauzi Bowo, normalisasi Sungai Ciliwung sangat gencar dilakukan pada era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.

Itulah sebabnya banyak permukiman warga di bantaran Sungai Ciliwung tergusur, seperti di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, dan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Selama ini, Ahok meyakini normalisasi Ciliwung dengan membuat sheet pile merupakan cara terbaik untuk mencegah banjir.

Sehari setelah terjadinya banjir, atau pada Rabu (22/2/2017) ini, Kompas.com menelusuri aliran Sungai Ciliwung dari Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, hingga Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Hampir sebagian besar pinggiran Ciliwung di aliran tersebut sudah dinormalisasi. Namun, masih ada beberapa yang belum. Dari keterangan yang didapat dari warga, wilayah yang kebanjiran pada Selasa kemarin adalah wilayah bantaran Ciliwung yang belum dinormalisasi.

Hal sebaliknya terjadi di wilayah bantaran yang sudah dinormalisasi. Meski permukaan air sungai naik, adanya sheet pile membuat air tak sampai meluber ke permukiman warga.

RT 09 RW 09 Bukit Duri adalah salah satu wilayah bantaran sungai yang sudah dinormalisasi. Menurut keterangan Haryanto (50), naiknya permukaan Ciliwung tak sampai membuat wilayah tempat tinggalnya tenggelam.

Ia mengatakan, hal itu tidak akan terjadi jika sheet pile belum dibangun di lokasi itu. Haryanto masih mengingat saat banjir melanda tempat tinggalnya pada awal 2014. Ia mengatakan, saat itu air sungai bahkan meluber hingga ke Jalan Abdullah Syafi’i.

“Kalau sekarang udah kehalang tembok (sheet pile),” kata bapak satu anak itu.

Dari Bukit Duri, Kompas.com berpindah ke permukiman warga yang ada di RT 011 RW 01 Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur. Seperti di Bukit Duri, kawasan bantaran kali di lokasi ini juga sudah dibangun sheet pile.

Dari keterangan warga, sheet pile di lokasi ini bahkan sudah ada sebelum yang di Bukit Duri.

“Sebelum Jokowi sudah ada,” kata Ujang Suherman (56).

Pada Selasa kemarin, Ujang menyebutkan ketinggian air Ciliwung tak sampai meluber ke permukiman tempat tinggalnya.

“Hanya sampai garis tengah,” kata Ujang sambil menunjuk garis yang terdapat pada dinding sheet pile.

Tidak semua wilayah bantaran Ciliwung di Bidara Cina sudah dipasangi sheet pile. RT 08 RW 14 adalah salah satu wilayah yang terpantau belum ada sheet pile. Menurut salah seorang warga, Hidayat (54), naiknya permukaan Ciliwung sampai meluber ke permukiman mereka. Namun, dengan ketinggian yang dinilainya masih dalam batas aman.

“Kira-kira seginilah?” ujar Hidayat sambil menunjukkan betisnya.

Salah satu permukiman warga yang paling parah terkena banjir akibat meluapnya Ciliwung pada Selasa kemarin adalah Gang Kober, RW 02, Kelurahan Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur. Ketinggian banjir di kawasan tersebut mencapai 1,5 meter. Di daerah itu juga belum dibangun dinding turap.

Ketua RW setempat, Juanda (55) misalnya, harus pasrah barang-barang miliknya, seperti kulkas dan mesin cuci, rusak gara-gara terendam banjir.

Saat Kompas.com menyambangi kawasan tersebut, bekas banjir masih tampak terlihat di dinding rumah Juanda dan sejumlah warga lainnya. Di pinggir-pinggir gang juga terlihat tumpukan sampah dan lumpur yang baru selesai dibersihkan warga. Juanda menceritakan, air mulai naik saat hujan deras terus turun pada Senin dini hari. Pada pagi hari, ketinggian air di dalam rumah bahkan sudah mencapai sekitar 0,5 meter.

Kondisi itu membuat Juanda tak sempat menyelamatkan barang-barang yang ada di lantai bawah rumahnya.

Udah nungging tuh segala freezer, mesin cuci,” kata dia sambil menunjukkan barang-barangnya yang rusak.

Juanda menyebutkan, ketinggian air terus naik hingga siang hari. Puncaknya saat ketinggiannya mencapai 1,5 meter. Meski banjir, Juanda menyatakan, dia dan para tetangganya tak ada yang sampai mengungsi. Mereka berlindung di lantai dua rumahnya masing-masing. Rumah-rumah di Jalan Kober terpantau hampir semuanya berlantai dua. Menurut Juanda, lantai dua dibangun sebagai antisipasi datangnya banjir.

“Kalau banjir masih 1-2 meter, warga masih di rumah. Tapi kalau sudah sampai 7 meter, harus ngungsi dan bisa berhari-hari,” kata Juanda. Banjir di Jalan Kober surut mulai sore hingga malam hari.

Check Also

Pekerja akan memindahkan sejumlah tiang yang menghalangi jalur sepeda di Jalan Asia Afrika, Jakarta, Rabu (01/08/2018). Jalur sepeda di sepanjang jalan ini terhalang beberapa tiang lampu penerangan jalan umum (PJU), tiang lampu lalu lintas, hingga tiang rambu penunjuk jalan.(KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI)

Perluasan Jalur Sepeda, Efektifkah untuk Mengurangi Polusi Udara?

KOMPAS.com – Bersepeda sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat DKI Jakarta. Ada yang menggunakannya …