Home / Kliping / Proses Jakarta Menuju Kota Berketahanan

Proses Jakarta Menuju Kota Berketahanan

Seperti dilaporakan Jakarta berketahanan (city resilience) bahwa tujuan dari kerangka ketahanan kota (city resilience framework) CRF adalah untuk membongkar dan memahami kompleksitas kota yang berkontribusi terhadap ketahanan. Ketahanan kota juga merupakan alat untuk membantu kita dalam memahami banyak pengemudi yang berkontribusi dalam membangun ketahanan kota. Selain itu bahwa ketahanan kota merupakan sebuah strategi dengan pendekatan terpadu untuk membangun ketahanan (kota) menghadapi guncangan dan tekanan.

Umumnya kota-kota di dunia menghadapi tekanan dan guncangan yang meliputi beberapa faktor dalam proses pembangunan, secara sosial, politik, ekonomi mau pun budaya dan teknologi.selain itu dalam merealisasikan kota berketahanan membutuhkan dua terminologi kerja yaitu pertama, dengan melakukan perubahan paradigma serta kedua, internalisasi konsep ketahanan.

Dalam kehidupan sosial sehari-hari di perkotaan umumnya gejala menyangkut guncangan dan tekanan tidak dapat terelakkan. Guncangan disini mengacu kepada faktor alam seperti bencana yang langsung bersifat menghancurkan. Sementara tekanan dalam hal ini lebih kepada faktor sosial yang sifatnya menghancurkan secara perlahan. Oleh sebab itu konsep mengenai ketahanan kota menjadi agenda dalam menghadapi situasi-situasi demikian di Jakarta khususnya.

Jakarta saat ini terpilih sebagai kota berketahanan, setidaknya harus memiliki kesekretariatan untuk dapat dipertanggung jawabkan kerangka kerja “Jakarta berketahanan”  kedepan kelak. Oleh karena itu, pemerintah DKI juga membentuk CRO yang dilakukan oleh Deputi CRO Sekretariat Jakarta Berketahanan. Sekretariat ketahanan di Jakarta berdiri sejak tanggal 18 September 2017, meski terhitung baru berjalan, kerangka kerja awalnya pun adalah mengupayakan bagaimana menyusun rancangan awal ketahanan Jakarta.

Menurut pemaparan Sibarani Sofian dan Dede Herland selaku Deputi CRO Sekretariat Jakarta berketahanan yang di bentuk 18 September lalu menjelaskana bahwa,  dalam melakukan strategi kota berketahanan terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, yakni dimulai dengan inventarisasi aksi kota yang meliputi interview ke beberapa SKPD di Jakarta.

Inventarisasi bisa dilakukan melalui metode Quick Scan, yaitu menyederhanakan masalah dan pendalaman atas masalah. Melakukan kordinasi dengan pemangku terkait seperti Bappeda DKI, melakukan pemetaan 154 program oleh DKI, melakukan pemberdayaan pemangku kepentingan dan menjamin kelangsungan pelayanan, pemetaan wilayah untuk discovery area seperti halnya peningkatan peran masyarakat dalam persampahan.

Selain itu dalam upaya melakukan ketahanan kota, pemerintah DKI melakukan pemetaan terkait persepsi masyarakat tentang pemahaman mereka terhadap ketahanan. Dengan melakukan survey online dan melibatkan 400 responden, kemudian hasil persepsi dilakukan pendalaman melalui lokakarya persepsi kota. Oleh karena itu persepsi kota merupakan alat untuk menilai keadaan kota Jakarta dari berbagai aspirasi dan terkonsepkan melalui konsep ketahanan kota.

Saat ini Jakarta belum memiliki kekuatan dari 12 faktor utama seperti halnya partisipasi masyarakat, pemangku kepentingan, penghidupan pekerjaan yang layak, perencanaan terintegrasi jangka panjang, masih kurangnnya area kestabilan sosial, keamanan dan keadilan sosial, kepemimpinan yang efektif, dan mobilitas sosial.

Dari faktor guncangan dan tekanan itulah ketahanan menjadi alat penting untuk melihat asset fisik sebuah kota seperti halnya berupa jalan umum, pelabuhan, air, transportasi, PLN da asset lainnya yang bersifat fisik.

Guncangan yang bersifat kritis di DKI Jakarta dapat terjadi misalnya karena kegagalan infrastruktur, kerusuhan atau demo, kebakaran, penurunan level tanah serta wabah penyakit. Selain itu guncangan pada dasarnya berkaitan dan berpengaruh terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat dan bahkan dapat menyebabkan terisolirnya suatu masyarakat akibat guncangan.

Ada pun kondisi program kota berketahanan DKI Jakarta akan menjangkau lima hal penting yaitu pertama, bagaimana Jakarta bisa meningkatkan kapasitas tata kelola pemerintah dan manajemen kota. Kedua, menciptakan Jakarta siap siaga (faktanya bencana apa pun DKi Jakarta sampai saat ini belum dapat dikatakan menyiapkan diri sebelum terjadi). Ketiga, bagaimana Jakarta meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan melalui pengelolaan air dan limbah dan sebisa mungkin melibatkan peran serta komunitas masyarakat. keempat, membangun mobilitas dan konektivitas di DKI Jakarta. Kelima, bagaimana Jakarta bisa menaggulangi keresahan sosial yang terjadi belakangan ini misalnya semacam fenomena hoax.

Menurut pemaparan kepala Bappeda DKI Tuty Kusmawati menjelaskan bahwa setidaknya dalam mengupayakan solusi atas problem perkotaan terdapat tiga dimensi utama yaitu solusi harus bersifat baik, cepat, dan tepat. Misalnya saja terkait dengan pengelolaan limbah menggunakan strategi IPAL (instalasi pengelolaan air limbah) akan masuk kedalam RPJMD untuk direalisasikan pembangunan IPAL. Oleh karenannya kedepan pemanfaatan ruang terpadu dengan teknologi yang baik dapat menjadi solusi dalam pembuatan IPAL, karena selama ini IPAL masih dibangun oleh pihak swasta.

Sementara menurut Sam Kernaghan selaku Associate Director, City and Pratice Management  Singapore mengatakan bahwa pertama, pada dasarnya banyak kota-kota berfokus pada infrastruktur, sedikit memperhatikan kohesi sosial atau modal sosial. Kedua, bagaimana 100 kota ini dapat saling belajar dari keadaan kota yang sama. Ketiga, bagaimana kota mempelajari pengalaman yang pernah terjadi atau kisah yang lampau dan pernah terjadi mengenai upaya ketahanan, tekanan dan guncangan terhadap perkotaan.  Akan tetapi sejauh ini bahwa ketahanan kota belum digali lebih jauh untuk mendapatkan strategi-strateginya dan ini dapat menjadi langkah awal membangun kota dengan perspektif ketahanan kota.

Point penting dalam hal ini ialah bahwa penilaian awal ketahanan  tersebut meliputi rencana pemangku kebijakan, konteks kota, inventarisasi aksi kota yang terdapat 213 program, persepsi ketahahanan (asset)  terakhir menilai guncangan dan tekanan itu sendiri terhadap pembangunan.

Kerangka Kerja kota Berketahanan

  • Infrastruktur dan lingkungan
    • Komunikasi dan mobilitas yang dapat diandalkan
    • Menjamin kelangsungan layanan yang penting
    • Menyediakan dan meningkatkan asset alam dan buatan
  • Ekonomi dan masyarakat
    • Mendorong kemakmuran ekonomi
    • Menjamin stabilitas sosial, ekonomi dan keadilan
    • Mendorong partisipasi masyarakat yang terpadu
  • Kesehatan dan kesejahteraan
    • Pemenuhan kebutuhan dasar
    • Penghidupan dan pekerjaan yang layak
    • Menjamin pelayanan kesehatan
  • Kepemimpinan dan strategi
    • Meningkakan kepemimpinan dan pengelolaan efektif
    • Membderdayakan berbagai pemangku kepentingan
    • Perencanaan jangka panjang yang terpadu

Seperti dikatakan oleh Lauren Sorkin[1] Regional Director of Asia & Pacific for 100 Resilient Cities dalam opininya di Jakarta Post Oktober, 31-2017 bahwa kota dalam banyak hal, merupakan risiko terbesar kita. tantangan akan adanya perubahan iklim, migrasi yang begitu cepat, dan bencana, baik buatan manusia mau pun kekuatan alam yang paling parah mempengaruhi kota. Akan tetapi juga kota merupakan peluang terbesar dan merupakan tempat di mana inovasi terjadi, dimana solusi yag memperbaiki kehidupan itu lahir dan di mana generasi kekayaan dipercepat dan di mana perolehan efisiensi dapat dicapai.

Bagaimana melibatkan peran masyarakat dalam inovasi dan efisiensi untuk menciptakan solusi kehidupan yang lahir dari masyarakat merupakan tawaran ketahanan kota dimasa depan, seperti halnya pengelolaan limbah dan air inovatif tingkat masyarakat sangat diperlukan dalam konsep ketahanan kota itu sendiri.

Maka dalam hal ini Jakarta telah mendaftar untuk bergabung dengan 100 kota tangguh (100RC) merupakan tantangan untuk menjadi lebih tangguh menghadapi tantangan fisik, sosial, ekonomi, politik mau pun budaya di abad ke-21 ini. Guncangan dan tekanan dapat terjadi dalam segala bidang, hal ini sangat terkait dengan kondisi politik-ekonomi yang terjadi oleh suatu rezim kepemimpinan, setidaknya kenyataan itu telah menjadi tantangan kepemimpinan dimasa depan kota Jakarta khususnya dan kota lain pada umumnya.

About indradetra

Check Also

sampah di pulau tidung

Sampah di Pulau Tidung Diangkut

Sampah di Pulau Tidung telah berhasil diangkut petugas Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu. Pengangkutan …