Home / Kliping / Bagaimana Bendungan Ciawi dan Sukamahi Bisa Kurangi Banjir di Jakarta?

Bagaimana Bendungan Ciawi dan Sukamahi Bisa Kurangi Banjir di Jakarta?

Maket Bendungan Ciawi(Arimbi Ramadhiani)
Maket Bendungan Ciawi(Arimbi Ramadhiani)

JAKARTA, KOMPAS.com- Pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) berupaya mengatasi banjir di Jakarta dengan membangun bendungan di Ciawi dan Sukamahi yang terletak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dua bendungan yang mulai dikerjakan pada 2017 itu ditargetkan selesai pada 2019. Kedua  bendungan itu diharapkan bisa mengurangi banjir kiriman di Jakarta yang berasal dari Bogor.

Bagaimana kedua bendungan itu bekerja untuk mengurangi banjir di Ibu Kota?

Kepala Satuan Kerja Bendungan BBWCC Agus Safari di kantornya di Jakarta, Jumat (9/2/2018) menjelaskan, Bendungan Ciawi memiliki volume tampung 6,45 juta kubik air atau bisa menampung 365 meter kubik air per detik. Sementara Bendungan Sukamahi memiliki volume tampung 1,68 juta meter kubik atau 56 meter kubik air per detik.

Dua bendungan ini memiliki fungsi memperlambat air menuju Jakarta. Air akan ditampung ke kedua bendungan itu terlebih dahulu kemudian akan dialirkan ke Bendung Katulampa.

Baca juga : Jokowi Optimistis Waduk Cimahi dan Sukamahi Rampung 2019

Dengan air yang terlebih dulu masuk ke bendungan Ciawi dan Sukamahi maka air yang mengalir ke Katulampa menjadi lebih lambat dan semakin sedikit. Dari Bendung Katulampa akan secara bertahap dialirkan menuju ke Jakarta.

Bila biasanya durasi banjir yang tiba dari Bendung Katulampa ke pintu air Manggarai 9 jam, durasi banjir yang tiba bisa bisa lebih lama empat jam atau diperpanjang menjadi 13 jam.

“Jadi “memarkirkan” sementara air agar air yang turun tidak terlalu banyak. Jadi volume parkir sampai ke bawah dia akan berikan efek sekitar 12 persen (pengurangan debit air) untuk masuk ke Pintu Air Manggarai karena di bawah (dibantu dibuang) ke sungai-sungai. Jadi ada tambahan empat jam untuk air tiba. Warga juga bisa antisipasi banjir lebih lama,” kata Agus.

Namun sampai saat ini pengerjaan dua bendungan itu baru mencapai sekitar  lima persen. Hal itu karena kucuran dana sebesar Rp 2 triliun untuk pembebasan lahan dan konstruksi dari Kementerian Keuangan belum terealisasi.

Pembangunan dua bendungan masih menggunakan dana talangan dari kontraktor proyek sebesar Rp 230 miliar.

“(Pembebasan lahan) masyarakat oke, tapi uangnya enggak turun. Kabarnya Maret tapi kan pemerintah tidak bayar langsung, tapi bertahap. Tapi kami opitimis bendungan ini bisa selesai 2019,” kata Agus.

About hildaje

Check Also

pdam diminta penuhi

PDAM Diminta Penuhi Kebutuhan Air Bersih Warga Muara Karang

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Mohammad Taufik meminta PDAM Jaya memberikan …