Home / Kliping / Berkat Urban Farming, Warga Cempaka Putih Tinggal Petik Sayuran dan Buahan
Warga Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, manfaatkan lahan kosong untuk dijadikan sebagai lahan pertanian, Senin (12/3/2018).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Berkat Urban Farming, Warga Cempaka Putih Tinggal Petik Sayuran dan Buahan", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/13/16432981/berkat-urban-farming-warga-cempaka-putih-tinggal-petik-sayuran-dan-buahan. 
Penulis : Kontributor Jakarta, David Oliver Purba
Editor : Ana Shofiana Syatiri
Warga Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, manfaatkan lahan kosong untuk dijadikan sebagai lahan pertanian, Senin (12/3/2018).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA) Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Berkat Urban Farming, Warga Cempaka Putih Tinggal Petik Sayuran dan Buahan", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/13/16432981/berkat-urban-farming-warga-cempaka-putih-tinggal-petik-sayuran-dan-buahan. Penulis : Kontributor Jakarta, David Oliver Purba Editor : Ana Shofiana Syatiri

Berkat Urban Farming, Warga Cempaka Putih Tinggal Petik Sayuran dan Buahan

Warga Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, manfaatkan lahan kosong untuk dijadikan sebagai lahan pertanian, Senin (12/3/2018).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA) Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Berkat Urban Farming, Warga Cempaka Putih Tinggal Petik Sayuran dan Buahan", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/13/16432981/berkat-urban-farming-warga-cempaka-putih-tinggal-petik-sayuran-dan-buahan.  Penulis : Kontributor Jakarta, David Oliver Purba Editor : Ana Shofiana Syatiri
Warga Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, manfaatkan lahan kosong untuk dijadikan sebagai lahan pertanian, Senin (12/3/2018).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

JAKARTA, KOMPAS.com – Lurah Cempaka Putih Timur, Sri Hatmo mengatakan, program urban farming yang dilakukan warga di Kelurahan Cempaka Putih Timur memberi keuntungan yang cukup besar terutama dari pemenuhan kebutuhan sayur dan buah. Kini, warga RW 003 dan 008 tak perlu lagi menganggarkan dana yang cukup besar untuk membeli sayur dan buah bagi kebutuhan mereka. Warga hanya perlu memanen tanaman yang ditanam dengan metode hidroponik dan konvensional tersebut sekitar dua hingga tiga pekan sekali. Bahkan dengan menggunakan metode vertiminaponik, warga bisa berternak ikan berbarengan dengan tanaman hidroponik. “Kalau misalnya sekali panen itu sektar 15 kg, ada sawi, pokcai. Pernah juga panen lele itu 20 kg,” ujar Hatmo kepada Kompas.com di Jakarta Pusat, Senin (12/3/2018). Baca juga : Supermarket dan Hotel Mulai Lirik Hasil Urban Farming di Kelurahan Cempaka Putih Timur Selain menjadi bahan masakan, sayuran yang ditanam juga dimanfaatkan warga untuk mendapatkan nilai keekonomisan yang lebih tinggi. Misalnya, sayuran pokcai dimanfaatkan salah satu warga sebagai bahan dasar pembuatan mie dan kerupuk. Warga Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, manfaatkan lahan kosong untuk dijadikan sebagai lahan pertanian, Senin (12/3/2018).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA) Meski skala produksinya tidak terlalu besar, pemanfaatan pokcai bisa mengurangi biaya produksi karena bahan bisa didapatkan secara gratis. Bahkan, kata Hatmo, hasil tanaman hidroponik itu telah dilirik oleh manajemen salah satu hotel berbintang di Jakarta Pusat. Baca juga : Buka Festival Cempaka Putih, Sandiaga Ingatkan Pentingnya Ekonomi Kreatif Manajemen hotel tersebut meminta agar warga menjadi pemasok tetap sayuran hidroponik tersebut. Sayuran yang ditanam dengan metode hidroponik diinilai memiliki kualitas yang lebih baik dibanding dengan sayuran yang ditanam menggunakan metode konvensional. Namun, Hatmo mengatakan, warganya belum berani mengikat kontrak sebagai pemasok tetap sayuran. Selain karena jumlah sayuran yang dipanen tidak terlalu banyak, warga sekitar tidak menjadikan urban farming sebagai pekerjaan pokok. Hal itu membuat hasil urban farming tersebut menjadi kurang maksimal. Warga Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, manfaatkan lahan kosong untuk dijadikan sebagai lahan pertanian, Senin (12/3/2018).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA) “Kemarin ada tawaran dari hotel untuk kami pasok ke sana. Kami juga ditantang salah satu supermarket untuk pasok sayuran ke sana. Tapi kami belum berani, ya karena warga di sini kan hanya sambilan saja bukan jadi pekerjaan tetap,” ujar Hatmo. Hatmo mengatakan, urban farming Kelurahan Cempaka Putih Timur juga kerap dijadikan percontohan oleh sejumlah pemerintah daerah di luar Pulau Jawa. Beberapa pemerintah daerah yang pernah berkunjung diantaranya Pemprov Kalimantan, Surakarta, Lamongan, dan Bangka Belitung. Baca juga : Urban Farming di Kelurahan Cempaka Putih Timur, Hasilnya Bikin Adem Ayem Urban farming di Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, memanfaatkan lahan kosong di pinggir sungai, dan gang perumahan warga. Berbagai sayuran dan buah ditanam di lokasi ini. Urban farming dilakukan agar lahan yang kosong tidak dijadikan sebagai lapak pedagang kaki lima dan permukiman kumuh.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Berkat Urban Farming, Warga Cempaka Putih Tinggal Petik Sayuran dan Buahan”, https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/13/16432981/berkat-urban-farming-warga-cempaka-putih-tinggal-petik-sayuran-dan-buahan.
Penulis : Kontributor Jakarta, David Oliver Purba
Editor : Ana Shofiana Syatiri

Check Also

pemda didorong tata lanskap

Pemda Didorong Tata Lanskap Kota

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat (PUPR) mendorong pemerintah daerah untuk menata …