Home / Kegiatan / AUDIENSI DENGAN TIM PWC (PRICEWATERHOUSE COOPERS) DAN DISKOMINFOTIK TERKAIT PENYUSUNAN JAKARTA SMART SAFE CITY MASTERPLAN
294063

AUDIENSI DENGAN TIM PWC (PRICEWATERHOUSE COOPERS) DAN DISKOMINFOTIK TERKAIT PENYUSUNAN JAKARTA SMART SAFE CITY MASTERPLAN

dokmentasi 2

Jakarta, Selasa 17 Juli 2018, Deputi Gubernur bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup didampingi oleh Asisten Deputi bidang Tata Ruang telah menerima kunjungan dari PricewaterhouseCoopers (PwC) untuk diskusi terkait dengan peta jalan Jakarta Smart Safe City. Hal ini didasari dari kewajiban setiap Pemerintah Daerah untuk memberi rasa aman kepada setiap orang yang menetap ataupun berkunjung ke kotanya, termasuk DKI Jakarta. Tugas ini hanya dapat terpenuhi apabila setiap warga dan pengunjung terlindungi dari berbagai ancaman atau bahaya, seperti tindak kriminalitas, bahaya terorisme, kerusuhan, kecelakaan, wabah penyakit maupun bencana alam.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memerlukan koordinasi dengan Polda Metro Jaya maupun berbagai instansi terkait, termasuk di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi, serta Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi DKI Jakarta. Data BPS mencatat bahwa tindak kejahatan di wilayah operasional Polda Metro Jaya terus menurun. Menurut data Statistik Kriminal pada tahun 2017, jumlah kejahatan yang dilaporkan menurun rata – rata 4 % per tahun selama periode 2014-2016. Data terakhir tahun 2016, terdapat 43.842 kejahatan yang dilaporkan. Begitu juga risiko penduduk terkena kejahatan (crime rate) per 100.000 penduduk cenderung terus menurun hingga tahun 2016 di angka 169, mendekati rata-rata nasional yaitu 140 kejahatan per 100.000 penduduk.

Menurut Safe Cities Index 2017 yang dikeluarkan oleh majalah The Economist, Jakarta berada di peringkat 57 dari 60 kota-kota besar di dunia. DKI Jakarta hanya lebih aman dibandingkan Dhaka, Yangon, dan Karachi. DKI Jakarta tertinggal jauh dibandingkan kota- kota lain di kawasan Asia Tenggara, terutama Singapura di peringkat 2 dan Kuala Lumpur di peringkat 31.

Salah satu cara agar DKI Jakarta dapat berketahanan adalah dengan pemanfaatan teknologi. Untuk dapat menerapkan teknologi yang tepat guna, dibutuhkan perencanaan yang matang dan konsolidasi berbagai pihak yang terkait. Selain itu juga dibutuhkan masyarakat kota yang siap akan perubahan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merasa perlu menyusun sebuah Peta Jalan Jakarta Smart Safe City yang diharapkan dapat menjadi acuan dalam menyusun kebijakan dan mengambil langkah-langkah yang tepat. Dalam penyusunan Peta Jalan Jakarta Smart Safe City ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia sebagai konsultan teknis.

Check Also

WhatsApp Image 2018-11-15 at 10.41.39 (1)

Rapat Persiapan Ambitious City Promises CiBiX City-Business Collaboration Ideator

Jakarta, 15 November 2018. Kedeputian Gubernur bidang Tata Ruang dan Ligkungan Hidup menjalankan pertemuan dengan …