Home / Kegiatan / Media gathering: Air Pollution and Children’s Health. Indonesia Serukan Aksi untuk Polusi Udara dan Kesehatan Anak Pada simposium yang dipandu oleh Bappenas, UNICEF Indonesia, para mitra dan pakar untuk membahas faktor-faktor risiko dan bahaya jangka panjang terhadap kesehatan
capture123

Media gathering: Air Pollution and Children’s Health. Indonesia Serukan Aksi untuk Polusi Udara dan Kesehatan Anak Pada simposium yang dipandu oleh Bappenas, UNICEF Indonesia, para mitra dan pakar untuk membahas faktor-faktor risiko dan bahaya jangka panjang terhadap kesehatan

20180730_150012

mediagathering2

Indonesia Serukan Aksi untuk Polusi Udara dan Kesehatan Anak

Pada simposium yang dipandu oleh Bappenas, UNICEF Indonesia, para mitra dan pakar untuk membahas faktor-faktor risiko dan bahaya jangka panjang terhadap kesehatan

(Jakarta, Indonesia) – Eksposur terhadap polusi udara adalah ancaman terhadap perkembangan fisik dan kognitif anak, serta dapat mengakibatkan penyakit-penyakit kronis di kehidupan kelak. Para pakar menyerukan aksi untuk mengatasi sumber-sumber utama polusi udara di Indonesia, termasuk kebakaran hutan dan lahan gambut, kendaraan bermotor, tenaga listrik berbahan batu bara, debu, pembakaran terbuka dan pembakaran dan pembakaran biomassa dan asap tembakau tangan kedua di sebuah simposium hari ini yang bertajuk “Udara Yang Kita Hirup” yang diselenggarakan oleh Bappenas (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional) Indonesia, Pemerintah Provinsi Jakarta, UNICEF Indonesia, dan didukung oleh mitra teknis Vital Strategies di Aryaduta Jakarta, di Jakarta Pusat. Puncak acara ini adalah komitmen Bappenas untuk mengembangkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti untuk mengurangi efek kesehatan dari polusi udara, dengan fokus pada langkah-langkah yang jelas untuk memastikan perlindungan hak anak atas kesehatan dan kesejahteraan.

Lebih dari 4,2 juta orang meninggal setiap tahun sebagai akibat dari paparan pencemaran udara global. Di Indonesia, polusi udara adalah salah satu faktor risiko utama untuk kematian di antara anak-anak di bawah usia lima tahun.

“Sebagai salah satu faktor risiko utama untuk kematian pada anak-anak di bawah usia lima tahun, UNICEF Indonesia memprioritaskan dukungan kepada pemerintah dalam mengatasi dampak buruk pencemaran udara pada kesehatan anak-anak. Kita semua harus segera bertindak sekarang untuk melindungi anak-anak Indonesia,” kata Gunilla Olsson, Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia.

Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Remaja, dan Olahraga dari Badan Perencanaan Nasional (Bappenas), menyatakan bahwa, “Polusi udara adalah masalah yang mempengaruhi kita semua, tetapi terutama kelompok yang rentan seperti ibu hamil dan anak-anak. Semakin banyak orang tinggal di kota-kota di seluruh Indonesia, artinya banyak orang berkumpul di daerah-daerah yang terpapar. Karena sumber polusi umumnya buatan manusia, masalah ini hanya akan menjadi lebih buruk kecuali kita mengubah perilaku kita.

“Dia melanjutkan dengan menyatakan, “Untuk melindungi anak-anak dari kondisi berbahaya adalah salah satu kebijakan pembangunan nasional. Jadi, pertama-tama kita harus mengurangi polusi udara di sumbernya, seperti pencegahan pembakaran pertanian, atau pengurangan subsidi untuk sumber energi yang tidak terbarukan; kedua, mengurangi paparan yang berkaitan dengan peningkatan kesadaran risiko orang tua, anak-anak dan masyarakat dan kebijakan; ketiga, tingkatkan status kesehatan anak-anak melalui kesehatan dan nutrisi yang tepat; dan terakhir, tingkatkan pemantauan dan kebijakan yang mendukung tindakan untuk mengatasi polusi udara.”

Pemerintah Jakarta berupaya meningkatkan kualitas udara ibukota. Deputi Gubernur DKI Jakarta untuk  Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Oswar Muadzin Mungkasa mengatakan berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta dapat menunjukkan hasil, tetapi masih membutuhkan upaya yang lebih terintegrasi. “Bersama-sama kita harus menyadari bahwa manajemen kualitas udara di Jakarta harus diselesaikan secara regional yang melibatkan seluruh wilayah metropolitan Jakarta. Fenomena bekerja sendiri-sendiri menghalangi upaya ini, “kata Deputi Gubernur Oswar.

Untuk mendobrak hambatan ini, Pemerintah Jakarta telah mengusulkan untuk mengembangkan ‘Grand Design’ atau ‘Desain Besar’ untuk Peningkatan Kualitas Udara. Diprakarsai oleh Deputi Gubernur bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, “Desain besar akan dikembangkan melalui pendekatan kolaboratif yang memprioritaskan kemitraan pemerintah dan non-pemerintah, dan antara pemerintah kota Jakarta dan pemerintah kota di sekitarnya. ‘Grand Design’ adalah komitmen dan konsensus dengan para pemangku kepentingan untuk mencapai visi bersama untuk memperkuat manajemen kualitas udara Jakarta, ”kata Oswar, Deputi Gubernur.

“Jakarta secara rutin menyelenggarakan Car-Free Day di beberapa jalan utama di Jakarta, memperkenalkan sistem akses plat nomor ‘ganjil-genap’, mendorong penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) ramah lingkungan, serta memantau sumber emisi tidak-bergerak dari industri di wilayah Jakarta. Untuk polusi udara dalam ruangan, Jakarta memiliki peraturan untuk menegakkan kawasan bebas asap rokok, terutama di sekolah, kantor, dan pusat perbelanjaan, ”kata Deputi Gubernur Oswar.

“Polusi udara mempengaruhi anak-anak di setiap tahap perkembangan,” kata Daniel Kass, Wakil Presiden Senior Bidang Kesehatan Lingkungan di Vital Strategies. “Eksposur pada kehamilan dan usia awal kehidupan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, dan meningkatkan risiko anak terkena penyakit paru-paru, serta seiring bertambahnya usia, penyakit kardiovaskular. Meningkatkan kualitas udara menyelamatkan nyawa, melindungi pertumbuhan anak-anak, dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi suatu negara. Meningkatkan kualitas udara membutuhkan kebijakan yang kuat untuk mengurangi emisi dari lalu lintas, kebakaran lahan gambut, penggunaan energi rumah tangga, dan pembangkitan energi. Masih ada terlalu banyak mobil-mobil berbahan bakar diesel dengan polusi tinggi masih berada di jalan. Hampir sepertiga rumah tangga Indonesia terus bergantung pada bahan bakar padat untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga mereka. Dan keunggulan harga batubara untuk pembangkit energi tidak memperhitungkan biaya sosial dan kesehatan dari polusi udara. Kami memuji kerja UNICEF, Bappenas, dan Pemerintah Indonesia dalam upaya mereka untuk memulai dialog publik tentang masalah ini, dan mengubah bukti kunci menjadi tindakan kebijakan.”

Selain manfaat untuk kesehatan masyarakat, mengurangi polusi udara dapat memiliki banyak manfaat tambahan, seperti promosi kota-kota yang dapat ditinggali (ramah anak-anak), pengurangan emisi gas rumah kaca dan pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem, sebagaimana diuraikan dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030.

Aksi kebijakan berbasis bukti untuk mengurangi bahaya kesehatan pencemaran udara di Indonesia termasuk mencegah kebakaran lahan gambut, mempromosikan energi rumah tangga yang bersih, mencari alternatif untuk pembakaran limbah terbuka dan residu pertanian, memastikan lingkungan bebas asap rokok, dan mengembangkan serta menegakkan peraturan emisi yang lebih ketat untuk industri dan kendaraan.

 

Acara Media Gathering tersebut di selenggarakan di Balaikota Gedung Blok G Lantai 5. UNICEF bekerjasama dengan Pemprov.DKI Jakarta melalui Kedeputian Gubernur bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup menggelar acara Media Gathering dengan mengundang pihak Jurnalis dari Kompas, Mongobay dan Berita Jakarta.

Dalam sesi tersebut turut hadir dari Kementerian PPN/Bappenas Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga (Ibu Woro Srihastuti, ST, MIDS), staf Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, staf Dinas Kesehatan, Vital Strategies, para Pakar (Professor Amadeo D’Angiulli dari Carleton University Canada, Professor Bin Jalaludin dari University of Sydney/New South Wales)  perwakilan dari UNICEF, dan Media massa

mediagathering3

Check Also

Menghadiri Kick Off Meeting PD PAL Jaya Marketing Strategy Development

Jakarta, 13 November 2018. Kedeputian Gubernur bidang Tata Ruang dan Ligkungan Hidup menghadiri acara kick …