Home / Kliping / Ketiadaan IPAL dan Sungai-sungai yang Tercemar di Jakarta
Tidak hanya Kali Item di kawasan Wisma Atlet Kemayoran yang berwarna hitam pekat. Aliran kali di sekitarnya juga memiliki kondisi hitam dan berbau, Rabu (25/7/2018).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ketiadaan IPAL dan Sungai-sungai yang Tercemar di Jakarta", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/07/31/06372701/ketiadaan-ipal-dan-sungai-sungai-yang-tercemar-di-jakarta. 
Penulis : Ardito Ramadhan
Editor : Dian Maharani
Tidak hanya Kali Item di kawasan Wisma Atlet Kemayoran yang berwarna hitam pekat. Aliran kali di sekitarnya juga memiliki kondisi hitam dan berbau, Rabu (25/7/2018).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA) Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ketiadaan IPAL dan Sungai-sungai yang Tercemar di Jakarta", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/07/31/06372701/ketiadaan-ipal-dan-sungai-sungai-yang-tercemar-di-jakarta. Penulis : Ardito Ramadhan Editor : Dian Maharani

Ketiadaan IPAL dan Sungai-sungai yang Tercemar di Jakarta

Tidak hanya Kali Item di kawasan Wisma Atlet Kemayoran yang berwarna hitam pekat. Aliran kali di sekitarnya juga memiliki kondisi hitam dan berbau, Rabu (25/7/2018).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA) Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ketiadaan IPAL dan Sungai-sungai yang Tercemar di Jakarta", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/07/31/06372701/ketiadaan-ipal-dan-sungai-sungai-yang-tercemar-di-jakarta.  Penulis : Ardito Ramadhan Editor : Dian Maharani
Tidak hanya Kali Item di kawasan Wisma Atlet Kemayoran yang berwarna hitam pekat. Aliran kali di sekitarnya juga memiliki kondisi hitam dan berbau, Rabu (25/7/2018).(KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA)

JAKARTA, KOMPAS.com- Ketiadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah ( IPAL) yang memaksa warga dan pelaku industri langsung membuang limbah mereka ke saluran air dinilai menjadi penyebab kotornya Kali Sentiong atau Kali Item. Kepala Dinas Sumber Daya Air Teguh Hendrawan menyatakan, pengadaan IPAL di Jakarta kini menjadi sebuah kewajiban agar masalah Kali Item tidak terulang pada sungai-sungai lainnya. “Limbah-limbah industri rumah tangga buang semua ke sini (Kali Item), kami enggak tahu juga kalau gedung-gedung tinggi pun buang (limbah) kemari. Makanya yang menjadi kebutuhan dasar pembangunan IPAL komunal sanimas (sanitasi berbasis masyarakat) itu harus segera direalisasikan,” kata Teguh di Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (30/7/2018). Teguh menyebut, ada 2,5 juta penduduk kurang mampu di Jakarta yang membutuhkan IPAL. IPAL dibutuhkan agar air bawah tanah tidak tercemar bahan-bahan beracun seperti bakteri e coli. Baca juga: Pemprov DKI Beberkan Penyebab Utama Pencemaran Kali Item Teguh menargetkan, pada tahun 2018 sedikitnya ada 10 unit IPAL yang dibangun di wilayah DKI Jakarta. Namun, Teguh mengaku ketersediaan lahan di Jakarta menjadi hambatan dalam pengadaan IPAL. Hal itu belum ditambah dengan pengertian warga tentang pentingnya IPAL. “Permasalahannya klasik, menyangkut masalah ketersediaan lahan. Masyarakat mungkin belum terlalu memahami manfaat ini, jujur di Jakarta masih banyak jamban ke kali-kali,” kata Teguh.

Oleh sebab itu, ke depannya Pemprov DKI akan membangun IPAL di atas aset-aset milik Dinas Sumber Daya Air untuk mengatasi masalah ketersediaan lahan. Teguh menyebut, satu unit IPAL hanya membutuhkan lahan seluas 400 meter persegi dan sudah bisa mengolah limbah dari 150 Kepala Keluarga. Baca juga: Dinas LH DKI: Kadar Oksigen Kali Item Meningkat Berkat Nano Bubble “Untuk pembangunan terkait masalah lahan, saya akan bangun (IPAL) di waduk, situ, embung yang (merupakan) aset Dinas SDA, termasuk juga rumah pompa pintu air yang kami miliki. Nah ini akan kami uji cobakan 2019 mudah-mudahan bisa terealisasi,” ujarnya. Lahan-lahan lain milik pemerintah seperti kantor kelurahan, kecamatan, dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) juga bisa dimanfaatkan sebagai IPAL. “Kalau (pakai) lahan warga susah, enggak bakal mau, beli juga susah. Ini yang jadi pemikiran bersama,” kata Teguh. Sebelumnya, pakar tata air Universitas Indonesia Firdaus Ali menyebut pembangunan IPAL menjadi salah satu solusi dari masalah pencemaran di Kali Item. Baca juga: Gubernur DKI: Saya Cek Kali Item Impromptu, Tidak Ada yang Tahu Firdaus mengatakan, dengan dibangunnya IPAL, air yang bercampur dengan limbah bisa diolah, sehingga air kotor yang terlihat saat ini di kali tersebut bisa menjadi air dengan baku mutu yang lebih baik. “Dalam jangka panjang, restorasi air sungai, waduk, itu pertama dilakukan ya stop inputnya dulu yaitu dengan membangun IPAL yang bisa sifatnya kolektif, komunal, atau semi komunal,” ujar Firdaus, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (27/7/2018).

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Ketiadaan IPAL dan Sungai-sungai yang Tercemar di Jakarta”, https://megapolitan.kompas.com/read/2018/07/31/06372701/ketiadaan-ipal-dan-sungai-sungai-yang-tercemar-di-jakarta.
Penulis : Ardito Ramadhan
Editor : Dian Maharani

Check Also

Foto udara hunian warga disekitar bantaran Kali Ciliwung yang membelah Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Bukit Duri, Jakarta Selatan, Selasa (26/6/2018). DPRD DKI Jakarta meminta Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta segera memulai lagi normalisasi sungai. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 26-06-2018 *** Local Caption *** Foto udara hunian warga disekitar bantaran Kali Ciliwung yang membelah Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Bukit Duri, Jakarta Selatan, Selasa (26/6/2018). DPRD DKI Jakarta meminta Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta segera memulai lagi normalisasi sungai. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 26-6-2018(KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pemprov DKI Bagikan Karung Agar Warga Tak Buang Sampah ke Kali", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/11/18/14160901/pemprov-dki-bagikan-karung-agar-warga-tak-buang-sampah-ke-kali. 
Penulis : Nursita Sari
Editor : Andri Donnal Putera

Pemprov DKI Bagikan Karung Agar Warga Tak Buang Sampah ke Kali

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji mengimbau warga untuk tidak …