Home / Kliping / Melongok Efektivitas Pelican Crossing di Jakarta
melongok efektivitas

Melongok Efektivitas Pelican Crossing di Jakarta

melongok efektivitas

Jakarta – Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Bundaran HI akan dirobohkan Pemprov DKI Jakarta karena dinilai menghalangi Patung Selamat Datang jika dilihat dari arah Monumen Nasional (Monas). Sebagai gantinya, Pemprov DKI mencanangkan pedestrian light controlled crossing atau pelican crossing yang akan mulai dibangun pada akhir bulan ini. Bagaimana sisi efektivitas pelican crossing yang akan menggantikan JPO BHI?

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menuturkan, pelican crossing merupakan salah satu usaha untuk memuliakan para pejalan kaki. Ia pun meyakini bahwa pelican crossing tak akan membuat kemacetan di wilayah Bundaran HI.

“Kita yakin bahwa pelican crossing itu jadi bagian permanen, bagian kita untuk memuliakan pejalan kaki. Jadi tidak akan menambah kemacetan,” kata Sandiaga di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (25/7).

Pelican cross sendiri telah banyak digunakan digunakan di beberapa wilayah di Jakarta, salah satunya di depan Mal Ambassador, Kuningan, Jakarta Selatan. Namun rupanya penggunaan pelican crossing di daerah tersebut belum efektif karena masih banyak kendaraan yang ‘nyelonong’ lewat saat lampu penyebrang menyala.

Senada dengan Sandi, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta juga meyakini bahwa pemasangan pelican crossing tidak akan mengakibatkan kemacetan. Dishub bahkan telah menghitung volume pejalanan di sekitar lokasi.

“Saya rasa tidak perlu khawatir berlebihan. Volume pejalan kaki di sana suda kami hitung, sehingga pelican cross yang ada tidak akan menimbulkan kemacetan yang berlebih. Apalagi, di ruas jalan tersebut ada pembatasan lalu lintas dengan ganjil genap,” ucap Wakil Kepala Dishub DKI Jakarta Sigit Wijatmoko, saat dihubungi detikcom, Selasa (24/7).

Tak hanya itu, Sigit mengatakan, kehadiran pelican crossing juga memberikan pelajaran bagi masyarakat untuk menghargai hak sesama masyarakat. Menurutnya, tingkatan tertinggi bagi pengguna jalan adalah para pejalan kaki.

“Lokasi tersebut bisa jadi sarana edukasi dan sosialisasi bagaimana masyarakat saling menghormati haknya. Hierarki tertinggi pengguna jalan adalah pejalan kaki. Masyarakat bisa semakin tahu dan menghormati,” kata Sigit.

Namun, Sigit juga menjelaskan bahwa pelican crossing di Bundaran HI tersebut hanya bersifat sementara. Ia melanjutkan, setelah pembangunan stasiun MRT selesai, para pejalan kaki akan menggunakan ruang bawah tanah untuk menyeberang.

“Aksesnya sudah terhubung. Nanti PT MRT yang bisa jelaskan kapan bisa digunakan. Karena, saat ini masih ada pekerjaan di sana,” ujarnya.

Berbeda dengan Dinas Perhubungan DKI Jakarta, pengamat tata kota menyebut penerapan pelican cross bisa berakibat kemacetan. Hal ini karena pejalan kaki yang menyeberang menghambat lalu lintas yang padat di Jalan Sudirman-Thamrin.

Jika ada masyarakat yang menyeberang di Bundaran HI, mereka meminta mobil yang melintas berhenti. Jika lalu lintas sedang padat, akan terjadi antrean kendaraan di belakangnya.

“Dari lalu lintas dihindari adanya zebra cross dan pelican cross. Kenapa? Itu kan teknis jalan utama, meminimalisir orang nyeberang (di jalan) sebenarnya. Kita tahu Jalan Sudirman-Thmarin yang cukup lebar dan padat. Otomatis, sebisa mungkin lalu lintas tidak terhambat,” ucap peneliti tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Jogo, saat dihubungi detikcom, Selasa (24/7/2018) malam.

Namun Nirwono masih bersyukur pelican cross digunakan untuk sementara. Hal ini karena pemerintah ingin merobohkan jembatan penyeberangan orang (JPO), tapi underpass pejalan kaki di Stasiun MRT Bundaran HI belum jadi.

Check Also

Ilustrasi

Kemarau Panjang, Jakarta Utara Tak Diguyur Hujan Selama 60 Hari

Bisnis.com, JAKARTA–Warga Jakarta diminta bersiap untuk menghadapi puncak musim kemarau panjang dalam beberapa hari ke …