Home / Kliping / Pemerintah Kaji Insentif untuk Panel Surya di Atap
Pemerintah kaji insentif

Pemerintah Kaji Insentif untuk Panel Surya di Atap

Pemerintah kaji insentif

Pemerintah tengah menyiapkan insentif untuk penggunaan panel surya penghasil listrik yang ada di atap (rooftop). Tujuannya untuk mendorong penggunaan pembangkit listrik tenaga matahari tersebut.

Kepala Seksi Keteknikan Aneka Energi Baru Terbarukan Konvergensi Kementerian ESDM Ezrom MD Tapparan mengatakan ada dua hal yang disiapkan untuk menggairahkan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pertama, aturan mengenai panel surya. Kedua, insentif.

Ezrom enggan menjelaskan insentif apa yang diberikan. Yang jelas, insentif itu akan terpisah dengan aturan yang tengah digodok Kementerian ESDM. “Tidak hanya memeberikan kebijakan tapi intensif bagi yang menggunakan PLTS atap di rumahnya masing-masing,” kata dia, di Jakarta, Kamis (30/8).

Harapannya tahun ini sudah ada beberapa instansi yang memasang panel surya. Targetnya bisa dipasang di Istana Negara dan gedung pemerintah, termasuk Kementerian ESDM.

Informasi yang diperoleh Katadata.co.id, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memang sedang membahas mengenai pemberian insentif dengan Kementerian Keuangan. Beberapa insentif itu di antaranya pengurangan Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Pajak Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM).

Di sisi lain, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN) memperkirakan pemakaian panel listrik tenaga surya yang dipasang di atap (PLTS Rooftop) dapat mengancam penjualan listrik. Ini karena pelanggan PLN bisa menghasilkan listrik sendiri, terutama di siang hari.

Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvie F. Roekman mengatakan pemakaian panel di atap membuat konsumsi listrik berkurang. ”Pasti mengurangi pemakaian, tapi kami di PLN tidak bisa bilang tak boleh,” kata dia di Jakarta, Jumat (3/8).

(Baca: Panel Surya Ancam Bisnis PLN)

Adapun, selama enam bulan terakhir konsumsi listrik PLN mencapai 112,46 Tera Watt hour (TWh) atau tumbuh 4,71% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun capaian tersebut masih lebih rendah dari target tahun ini yang mencapai 239 Twh.

Reporter: Fariha Sulmaihati

Check Also

Ilustrasi

Kemarau Panjang, Jakarta Utara Tak Diguyur Hujan Selama 60 Hari

Bisnis.com, JAKARTA–Warga Jakarta diminta bersiap untuk menghadapi puncak musim kemarau panjang dalam beberapa hari ke …