Home / Kegiatan / The 2018 Suwon Forum on Asian Human City. “Human City for All ”, Suwon, Korea Selatan 17-18 September 2018
suwon

The 2018 Suwon Forum on Asian Human City. “Human City for All ”, Suwon, Korea Selatan 17-18 September 2018

suwon

 

Pemerintah kota Suwon bekerjasama dengan CityNet (jaringan regional yang terdiri lebih dari 130 kota dan organisasi yang mengkhususkan diri dalam pembangunan kota yang berkelanjutan) menyelenggarakan acara the 2018 Suwon Forum on Asian Human City. Sebagai anggota Komite Eksekutif CityNet yang baru terpilih dengan visi ”People-Centered City/Kota yang Berorientasi Orang”, pemerintah kota Suwon didaulat menjadi tuan rumah acara forum tersebut dengan dukungan CityNet. The 2018 Suwon Forum on Asian Human City telah dilaksanakan selama 2 (dua) hari dari tanggal 17-18 September 2018 berlokasi di kota Suwon, Korea Selatan.

Tema yang diusung pada perhelatan acara ini adalah “Human City for All ”. Forum ini berfungsi sebagai platform untuk para pemerintah kota di dunia, organisasi internasional, lembaga non pemerintah dan kelompok aktivis untuk berdiskusi terkait pembangunan kota di Asia menjadi lebih layak huni dengan berfokus pada kebutuhan penduduknya sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).

Pemerintah kota Suwon sebelumnya telah berhasil menyelenggarakan Suwon Forum 2017 yang dihadiri oleh lebih dari 511 peserta dari 15 negara, 21 kotamadya, 53 organisasi internasional, jaringan regional dan lembaga akademis. Forum sebagian besar berfokus pada partisipasi warga negara dan pemerintahan untuk pengembangan kota, budaya, warisan sejarah, dan indikator untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Suwon Forum 2018 menampilkan topik seperti regenerasi perkotaan/urban regeneration, kesejahteraan perumahan/housing welfare, ketahanan sosial/social resilience dan partisipasi warga/citizen participation.

 

Deputi Gubernur bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup diundang menjadi pembicara pada The 2018 Suwon Forum on Asian Human City oleh pemerintah kota Suwon, Korea Selatan pada 2 (dua) sesi yaitu

(i)   Mayors’ Dialogue yang dimoderatori oleh Mary Jane Ortega (Penasehat Khusus CityNet), dengan peserta lainnya diantaranya Kim Hong-jang (Walikota Dangjin, Korea Selatan); Datuk Haji Mahadi C Ngah (Wakil Walikota Kuala Lumpur, Malaysia); Yeom Tae-young (Walikota Suwon, Korea Selatan); dan Dato’ Sr. HJ Rozali HJ Mohamud (Presiden Seberang Perai, Malaysia.

Dalam sesi ini Deputi Gubernur Provinsi DKI Jakarta menyampaikan tantangan yang dihadapi metropolitan Jakarta seperti pertumbuhan kota yang cepat serta (ke)pemerintahan yang terfragmentasi (fragmented government/governance). Kendala kritis ini mengharuskan penerapan tata kelola pemerintahan yang kolaboratif, tidak bekerja secara sektoral, dan menciptakan solusi terintegrasi untuk isu spesifik di Jakarta. Juga disampaikan salah satu bentuk solusi adalah mengembangkan konsep Grand Design/Desain Besar, yang merupakan Dokumen Konsensus yang dihasilkan menggunakan pendekatan kolaboratif, melibatkan partisipasi dan komitmen pemangku kepentingan dari berbagai tingkat pemerintahan, masyarakat sipil, LSM, swasta, akademisi dan media massa. Konsep Desain Besar adalah salah satu perwujudan Jakarta sebagai City 4.0 (pemerintah sebagai kolaborator dan masyarakat sebagai co-creator).

(ii) pembicara pada sesi 3: City where Anything is Possible (Civic Democracy), yang dimoderatori oleh Lee Jae-eun (Presiden Suwon Research Institute) dengan panelis diantaranya Dewi Shinta Wulan Dini Soebari Putri (Programme Director, Aksiku.Lab);

Jakarta mengangkat tema “Collaborative Approach as a Method to Create Solutions on Sectoral Issues in Jakarta through Stakeholder Participation”. Gambaran singkat Kota Jakarta dengan tantangan yang dihadapinya seperti pertumbuhan kota yang sangat cepat serta unit pemerintahan yang cenderung terfragmentasi, dengan hambatan struktural dan kurangnya koordinasi (bekerja dalam silo) membawa kepada solusi yang tidak komprehensip atas permasalahan kota. Hambatan kritis ini memerlukan implementasi tata kelola pemerintahan yang kolaboratif, sehingga menciptakan solusi terintegrasi atas permasalahan spesifik Kota Jakarta. Salah satu tawaran solusi dalam bentuk pengembangan Grand Design/Desain Besar isu strategis.

Desain Besar adalah kumpulan komitmen dan konsensus dari berbagai pemangku kepentingan dalam mengatasi isu strategis. Desain Besar ini dikembangkan dengan pendekatan kolaboratif melalui beragam bentuk pertemuan mulai dari FGD, lokakarya, dan sesi kerja yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Komitmen dan konsensus tersebut dituangkan dalam bentuk visi, misi, target, kebijakan, strategi, peta jalan, dan rencana aksi. Setiap upaya pengembangan Desain Besar bermitra dengan LSM.

Tujuan dari Desain Besar: (i) mengakomodasi komitmen dan consensus semua pemangku kepentingan dalam upaya menghadapi isu strategis; (ii) menyediakan kerangka kerja bagi semua pemangku kepentingan untuk bekerjasama membangun Jakarta; dan (iii) menjadi masukan dalam perencanaan pembangunan Jakarta.

DKI Jakarta sebagai salah satu kota besar di dunia, semakin mendapatkan apresiasi dari negara lain di dunia dalam upayanya untuk menerapkan pendekatan kolaboratif melalui konsep Desain Besar (Grand Design) yang telah mulai dikenali dan dipandang berhasil oleh berbagai pihak eksternal terbukti dengan banyaknya undangan untuk hadir di konperensi dan forum internasional, menjadikan Jakarta sebagai kota yang aktif berkontribusi sebagai salah satu pusat pembelajaran (centre of excellence). Hal yang menarik perhatian dari keberhasilan Pemprov DKI Jakarta terutama adalah karena penerapan pendekatan kolaboratif dalam penyusunan grand design melalui keterlibatan berbagai pemangku kepentingan baik pemerintah pusat, pemerintah DKI Jakarta, organisasi profesi, akademisi, praktisi, masyarakat dan sejumlah organisasi internasional.

Saat ini Jakarta telah memiliki 5 (lima) Desain Besar, yaitu: (i) Desain Besar Bangunan Gedung Hijau (Green Building); (ii) Desain Besar Sistem Pengolahan Persampahan; (iii) Desain Besar Pertanian Perkotaan; (iv) Desain Besar Menuju Jakarta Kota Layak Anak; dan (v) Desain Besar Pengelolaan Air Limbah Domestik dan Penyediaan Air Minum.

Proses kerja kolaboratif dalam penyusunan Desain Besar telah mendorong lahirnya beberapa forum terkait isu tersebut yang bertujuan untuk : (i) menciptakan jejaring diantara pemangku kepentingan terkait; (ii) meningkatkan distribusi pengetahuan terkait isu strategis; (iii) memantau perkembangan dari implementasi Desain Besar sehingga dapat memberi kontribusi dalam peningkatan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan pembangunan di Jakarta.

Selengkapnya dapat di akses pada

http://tarulh.com/2018/01/23/desain-besar-kota-layak-anak/

http://tarulh.com/2018/01/23/desain-besar-bangunan-gedung-hijau/

http://tarulh.com/2018/01/23/desain-besar-sistem-pengelolaan-sampah/

http://tarulh.com/2018/01/23/desain-besar-air-minum-dan-limbah-domestik/

http://tarulh.com/2018/01/23/desain-besar-pertanian-perkotaan/

Check Also

Menghadiri Kick Off Meeting PD PAL Jaya Marketing Strategy Development

Jakarta, 13 November 2018. Kedeputian Gubernur bidang Tata Ruang dan Ligkungan Hidup menghadiri acara kick …