Home / Kegiatan / 2018 Seoul Human Resources Development Centre/SHRDC International Forum
SHRDC Int

2018 Seoul Human Resources Development Centre/SHRDC International Forum

SHRDC Int

Kegiatan ini dirancang sebagai ajang pertukaran pengetahuan diantara alumni kursus dan pelatihan SHRDC. Sementara kota Jakarta diundang sebagai Sister City Seoul.

Acara dibuka oleh Sang Han Kim, Presiden SHRDC, yang menekankan pentingnya berbagi pengetahuan diantara alumni.

Sambutan dari walikota Seoul melalui rekaman video menyampaikan pertukaran pengalaman 10 tahun terakhir  antara Seoul dan kota dunia merupakan aset penting bagi perkembangan kota kota dunia.

Metropolis Secretary General, Octavio de La Varga Mas, juga melalui video menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas pemerintah kota dalam menangani isu metropolitan. Selain itu, secara bersamaan berinovasi menemukan metode baru dalam mengatasi masalah metropolitan.

Pembicara utama Prof. Oh Joon Kyung Hee University, mantan Dubes Korea untuk PBB dan Presiden ECOSOC, menjelaskan tentang Sustainable Development Goals (SDGs). Dimulai dengan penjelasan tentang evolusi konsep pembangunan yaitu Dimensi Ekonomi (1940-70), Dimensi Ekonomi+Sosial (1980-90), Dimensi Ekonomi+Sosial+Lingkungan/tiga dimensi keberlanjutan (2000-sekarang).
Agenda Pembangunan Setelah 2015 mencakup. Pertama  berupa Tantangan seperti perubahan iklim, dan kesenjangan kesejahteraan. Kedua berupa Keterlibatan seperti bangkitnya Negara Selatan, meningkatnya peran masyarakat madani dan swasta, dan kemitraan global .
Perlu juga mendapat perhatian Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 dengan karakteristik berupa universal, tidak ada yang terabaikan, keseimbangan dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan, cara khusus untuk implementasi, kemitraan beragam pemangku kepentingan.

Pembicara lainnya Hoon Sahib Soh, perwakilan Khusus Bank Dunia Korea menjelaskan tentang pertukaran pengetahuan dan peningkatan kapasitas untuk Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan. Hal menarik bahwa Bank Dunia mempunyai program pertukaran pengetahuan dengan pemerintah Korea sejak 2002 termasuk manajemen pengetahuan. Ditekankan bahwa Bank Dunia adalah bank pengetahuan.
Disampaikan pula tantangan penanganan urbanisasi berupa tata kelola terserak (fragmented governance), kekurangsiapan, dan kesenjangan pendanaan.
Pertukaran pengetahuan berupa berbagi, replikasi, adaptasi, pengembangan berskala besar dari praktek unggulan (scaling up), menghindari pengulangan  kesalahan. Dalam konteks pertukaran pengetahuan, isu BIG Data mengemuka dan menjadi kebutuhan utama.

Pada sesi berbagi pengetahuan, pemprov DKI Jakarta yang diwakili Deputi Gubernur bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, menyampaikan pembelajaran dari pelaksanaan Ambitious City Promises (ACP) atau Ikhtiar Jakarta, hasil kunjungan bertukar pengetahuan dan pelatihan. Secara umum beberapa hal penting adalah komitmen, konsistensi dan kepemimpinan menjadi kunci. Diikuti dengan ketersediaan rencana terpadu, keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan, inklusif, kota bertindak sebagai fasilitator atau kolaborator. Selain itu, untuk dapat memberi contoh diperlukan upaya yang bersifat seeing is believing yang berarti pelaku terjun langsung mengamati, mengalami bahkan aktif terlibat dalam kegiatan. Keseluruhan pengetahuan didokumentasikan dan didistribusikan melalui skema manajemen pengetahuan.

Pembicara lain mewakili kota Colombo (Sri Lanka) mengemukakan dampak pelatihan terhadap pembangunan Colombo, sementara kota Bandung menyampaikan konsep Smart City serta kota Kairo menjelaskan tentang pembelajaran mengembangkan komunitas yang lebih baik bagi semua.

Pada sesi Panel Ahli Perkotaan, kembali Jakarta menjadi salah satu panelis menanggapi Mariana Flores dari METROPOLIS terkait Pertukaran Kebijakan dan Peningkatan Kapasitas antara Kota Meksiko dan Seoul.

Check Also

WhatsApp Image 2019-07-11 at 21.20.43

Hari Keempat – 2019 Urban Resilience Summit

Rotterdam, 11 Juli 2019. Kegiatan 2019 Urban Resilience Summit ini merupakan ajang berbagi kesempatan bagi para pesertanya …