Home / Kegiatan / Sharing dan Diskusi “Groundwater is Under Threat! Our Water Our Responsibility”
@ america

Sharing dan Diskusi “Groundwater is Under Threat! Our Water Our Responsibility”

@ america

Jakarta, 7 Desember 2018. Acara ini menghadirkan seorang ahli Hydrologist dari U.S. Geological Survey (Mr. Geoffrey Delin) sebagai narasumber dengan topik “Ideas for Jakarta’s Future“ dan Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Energi, Pemprov DKI Jakarta ( Ricki Marojahan Mulia, ST. MSc) yang mengangkat isu di Jakarta terkait “Groundwater Management Policy and Vertical Drainage Development in DKI Jakarta“. Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipandu oleh Moderator dari USAID IUWASH PLUS.

Pemaparan ahli Hydrologist dari U.S. Geological Survey (Mr. Geoffrey Delin)

  1. Geoffrey juga menjelaskan hasil studi Deltares (2013) tentang “Sinking Cities” yang merekomendasikan pendekatan komprehensif dan terintegrasi untuk memecahkan persoalan land subsidence, antara lain: kampanye kesadaran tentang land subsidence, monitoring data yang terpercaya, mengembangkan model dan proses subsidence untuk disampaikan kepada para pengambil keputusan, berbagi praktik dan pengetahuan baik serta mengembangkan respons dan solusi. Deltares juga menjelaskan bahwa pendekatan komprehensif dan terintegrasi memiliki 4 (empat) tahapan, yaitu: (1) Problem analysis stage (Jakarta, Dhaka, Manila, dan New Orleans adalah kota yang masuk dalam tahap ini); (2) Planning stage (Ho Chi Minh City); (3) Implementation stage (Bangkok); (4) Evaluation stage (Tokyo dan Shanghai adalah kota yang masuk dalam tahapan ini).
  1. Geoffrey kemudian mengutip Deltares (2013) terkait 10 (sepuluh) isu untuk mengatasi subsidence:
    • Pembatasan penggunaan Air Tanah;
    • Natural and artificial recharge of aquifers;
    • Pengembangan sumber air alternative di luar air tanah;
    • Tata kelola air banjir yang terintegrasi di perkotaan;
    • Meningkatkan tata kelola kepemerintahan dan pengambilan keputusan;
    • Perangkat dan model yang mendukung pengambilan keputusan;
    • Pengawasan yang tepat dan sistem data base;
    • Integration of geotechnical aspects in planning and design of buildings and infrastructure
    • Tata kelola aset, keuangan dan kemitraan antara pemerintah dan swasta;
    • Berbagi pengetahuan dan praktik baik.
  1. Secara ringkas, Geoffrey menutup paparannnya dengan target jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek (5 tahun atau kurang) mencakup (a) Pengumpulan Data; (b) Analisis Data; (c) Membentuk Task Force tentang land subsidence. Sedangkan jangka panjang adalah (a) meningkatkan akses kepada sumber air alternative dan (b) meningkatkan sistem distribusi air dan pengolahan air limbah.

Pemaparan Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Energi, Pemprov DKI Jakarta

  1. Pada sesi kedua, tampil Pak Ricki yang memaparkan kondisi air tanah di Jakarta dengan menjelaskan bahwa daerah tangkapan air permukaan hampir semuanya berlokasi di luar daerah Jakarta, misalnya Jatiluhur di Purwakarta Jawa Barat. Peningkatan populasi penduduk berbanding lurus dengan permintaan penggunaan air. Populasi Jakarta (2017) berjumlah 10.9 juta dengan demikian penggunaan air semakin tinggi yang telah menyebabkan recharge air tanah berkurang.
  1. Keterkaitan antara land subsidence dan menurunnya air tanah di Jakarta (2017) menunjukkan bahwa land subsidence yang parah terjadi di Pulogadung, Tanjung Priok, Pademangan, Pluit, Penjaringan dan Kembangan dengan angka 25 cm selama kurun 3 (tiga) tahun (2014-2017).  Luasan air tanah (kedalaman 40 m – 140m) yang terpantau kritis dari 15.30% (2009) merangkak naik menjadi 33% (2013). Di pihak lain, luasan zona aman melorot dari 60.60% (2009) menjadi 26% (2013).
  1. Salah satu cara mengisi air tanah adalah vertical drainage atau sumur resapan. Pemprov DKI akan membangun 1333 sumur resapan untuk me-recharge air tanah sekaligus menabung air hujan. Selain itu, Pemprov DKI juga melakukan monitoring well installation di 11 titik dan Extensometer Station Instalation untuk mengukur air tanah. Dan terakhir, Pemprov DKI mengeluarkan akan menerbitkan Keputusan Gubernur yang mengatur pembatasan penggunaan air tanah di wilayah yang sudah mendapatkan layanan air PAM. Terkait dengan hal ini, penegakan hukum dilakukan dalam bentuk Pengawasan Pengeboran Air
  1. Beberapa mengemuka yang dapat menjadi pembelajaran dari sesi diskusi ini adalah:
  1. Riset dan data ilmiah diperlukan untuk memahami secara lebih komprehensif apa penyebab land subsidence di Jakarta, termasuk sistem air tanah. Mengukur laju land subsidence serta menganalisisnya dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan Geodetic survey, Deformation (melalui satelit InSAR, LiDAR), muka air tanah dan Hydrogeologic framework.
  1. Jakarta perlu melakukan monitoring kualitas air tanah dan air permukaan secara berkala guna melihat peningkatan kualitas air ketika pada saat yang bersamaan program sanitasi dilaksanakan.
  1. Untuk mengurangi pemakaian air tanah (ground water) perlu dibarengi dengan adanya peningkatan sistem distribusi air perpipaan yang bersumber dari air permukaan untuk melayani seluruh kota.

Penyebab land subsidence tidak hanya diakibatkan oleh penyedotan air tanah saja, tetapi ada kontribusi dari beberapa faktor lain, yaitu: Natural litology consolidation, Land Loading,Tectonics dan Struktur geologi. Namun yang bisa dikontrol adalah  penyedotan air tanah.

Check Also

IMG_6577

Dialog Publik Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN)

Jakarta, 16 Mei 2019. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS menyelenggarakan Dialog Publik Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dalam …