Home / Kliping / Begini Strategi DKI Jelang Puncak Musim Hujan Bulan Januari
Petugas kebersihan DKI Jakarta mengangkut sampah yang terbawa arus menggunakan alat berat di Pintu Air Manggarai, Jakarta, Rabu (7/2/2018). Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan DKI Jakarta telah mengangkut 1.596 ton sampah yang hanyut akibat air kiriman dari Bendungan Katulampa, Bogor pasca banjir yang melanda Jakarta. (KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)
Petugas kebersihan DKI Jakarta mengangkut sampah yang terbawa arus menggunakan alat berat di Pintu Air Manggarai, Jakarta, Rabu (7/2/2018). Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan DKI Jakarta telah mengangkut 1.596 ton sampah yang hanyut akibat air kiriman dari Bendungan Katulampa, Bogor pasca banjir yang melanda Jakarta. (KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)

Begini Strategi DKI Jelang Puncak Musim Hujan Bulan Januari

JAKARTA, KOMPAS.com – Wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya dalam waktu dekat bakal menghadapi puncak musim hujan periode 2018-2019.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Jupan Royter mengatakan, seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) telah berkoordinasi untuk mengantisipasi bencana selama puncak musim hujan.

“Puncak musim hujan jatuh di dasarian I dan II Januari,” kata Jupan kepada Kompas.com, Jumat (4/1/2019). Dasarian adalah satuan waktu yang setara 10 hari.

Dasarian I yakni 1-10 Januari dan dasarian II yakni 11-20 Januari.

Menurut Jupan, penugasan tiap SKPD menghadapi bencana telah diatur dalam Instruksi Gubernur Nomor 133 Tahun 2018.

Di tahap tanggap darurat ketika terjadi bencana banjir dan longsor, penanganan dilakukan oleh pasukan biru atau Dinas Sumber Daya Air, pasukan kuning atau Dinas Bina Marga, dan pasukan hijau atau Dinas Kehutanan.

Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan dibantu Satuan Polisi Pamong Praja juga ditugaskan melakukan penyelamatan dan pencarian jika ada korban.

Korban yang butuh perawatan nantinya akan dirujuk oleh Dinas Kesehatan ke puskesmas maupun rumah sakit.

Jika ada korban meninggal, Dinas Kehutanan akan mengurus pemakamannya.

Sementara warga terdampak akan dievakuasi dan diberikan logistik oleh Dinas Sosial dibantu Dinas Pemuda dan Olahraga yang akan menyediakan gelanggang olahraga sebagai tempat pengungsian sementara.

Di tempat pengungsian, penerangan akan diurus oleh Dinas Perindustrian dan Energi. Sementara sanitasinya disediakan oleh Dinas Lingkungan Hidup. Untuk memperlancar proses tanggap darurat, Dinas Perhubungan bakal mengamankan jalur evakuasi dan distribusi logistik.

“Dan tidak hanya SKPD saja, tapi instansi lain juga termasuk polisi, TNI, dan relawan-relawan akan kami libatkan,” kata Jupan.

Adapun bencana yang diantisipasi di puncak musim hujan yakni pohon tumbang, banjir, dan longsor.

Pemetaan rawan bencana

Berdasarkan data BPBD Jakarta, ada 30 titik rawan yang terdata sebagai kawasan langganan banjir.

Di Jakarta Barat, ada enam lokasi rawan banjir dan genangan, terdiri dari Jalan Letjend S Parman depan Apartemen Slipi, Meruya Selatan pertigaan pos polisi, Arjuna Selatan, dan Patra Raya.

Genangan juga kerap muncul di Jalan Letjend S Parman depan Universitas Trisakti atau Citraland dan Jalan PTB Angke.

Di wilayah Jakarta Selatan ada 13 lokasi rawan banjir dan genangan.

Lokasi itu di antaranya H Ipin, Kelurahan Pejaten Timur RW 07, Kemang Raya depan Kemchick, Kemang Utara IX depan Pasar Jagal, Iskandar Muda depan Gandaria City, serta Kelurahan Pondok Labu RW 01, RW 03, RW 07, RW 09, dan RW 10.

Selanjutnya, Jalan MT Haryono di bawah flyover Pancoran, terowongan kereta rel listrik (KRL) Stasiun Cawang bawah Jalan MT Haryono, kawasan Kelurahan Petogogan Wijaya Timur Raya, dan Sultan Hasanudin kawasan Mabes Polri.

Kemudian, Jalan Jenderal Gatot Subroto depan Balai Kartini, Jalan Jenderal Sudirman depan Atmajaya, dan perempatan ITC Fatmawati.

Di wilayah Jakarta Timur ada empat lokasi rawan genangan dan banjir, yaitu di Komodor Halim Perdanakusuma, Kelurahan Cibubur RW 02, RW 03, RW 10, RW 12, Kelurahan Cipinang Melayu RW 03, RW 04, RW 12, dan Kelurahan Kampung Melayu RW 04, RW 05, RW 07, RW 08.

Selain itu, wilayah Jakarta Pusat lokasi yang rawan genangan dan banjir antara lain depan RS AL Mintoharjo, Jalan Cempaka Putih Tengah 26, underpass Kemayoran, dan Jalan Industri 1.

Sementara di wilayah Jakarta Utara terdiri dari Jalan Boulevard Barat Raya, Yos Sudarso, dan Gaya Motor Raya.

Selain itu, potensi terjadinya tanah longsor atau gerakan tanah saat curah hujan tinggi terdapat di 10 kecamatan di Jakarta.

Wilayah yang berpotensi longsor di Jakarta Selatan yaitu di Kecamatan Cilandak, Jagakarsa, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, Pancoran, Pasar Minggu, dan Pesanggrahan.

Sementara wilayah yang berpotensi longsor di Jakarta Timur yakni Kramatjati dan Pasar Rebo. Potensi gerakan tanah di Jagakarsa dan Pasar Rebo berskala menengah-tinggi.

Sementara itu, potensi gerakan tanah di delapan wilayah lainnya berskala menengah.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Begini Strategi DKI Jelang Puncak Musim Hujan Bulan Januari”, https://megapolitan.kompas.com/read/2019/01/04/13192391/begini-strategi-dki-jelang-puncak-musim-hujan-bulan-januari

Penulis : Nibras Nada Nailufar

Editor : Andri Donnal Putera

Check Also

Petugas PPSU mengangkat limbah hewan kurban yang dibuang sembarangan oleh warga di Kali Ancol(JIMMY RAMADHAN AZHARI)

Petugas PPSU Angkat Limbah Hewan Kurban yang Dibuang ke Kali Ancol

JAKARTA, KOMPAS.com – Limbah hewan kurban ditemukan terapung di Kali Ancol, Pademangan, Jakarta Utara pada …