Home / Kliping / Menjaga Pintu Air Marina, Bekerja Sama dengan Laut hingga Menyelam Mengurai Lumpur
Triono salah satu Penjaga Pintu Air Marina, ditemui Kompas.com, Rabu (10/4/2019). Penjaga pintu air ibarat garda terdepan dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan banjir di DKI Jakarta. (Kompas.com / Tatang Guritno)
Triono salah satu Penjaga Pintu Air Marina, ditemui Kompas.com, Rabu (10/4/2019). Penjaga pintu air ibarat garda terdepan dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan banjir di DKI Jakarta. (Kompas.com / Tatang Guritno)

Menjaga Pintu Air Marina, Bekerja Sama dengan Laut hingga Menyelam Mengurai Lumpur

JAKARTA, KOMPAS.com – Bekerja menjaga pintu air butuh tenaga ekstra, kejelian, dan ketepatan pengambilan keputusan. Apalagi di DKI Jakarta yang rawan banjir, petugas pintu air ibarat garda terdepan dalam melakukan antisipasi. Kompas.com berkesempatan mengunjungi Pintu Air Marina, Pademangan, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (10/4/2019). Nampak tiga dari lima pintu sedang dibuka untuk mengalirkan air sungai Ciliwung Lama menuju ke Laut Marina. Penanggung jawab Pintu Air Marina Taryo menjelaskan, hanya pintu air tersebut yang hingga saat ini tidak menggunakan pompa dalam membuang air ke laut.

“Cuma di sini satu-satunya pintu air di DKI Jakarta yang dapat membuang air ke laut. Karena permukaan air laut masih berada di bawah permukaan air sungai,” jelasnya. Taryo sudah bekerja menjadi penjaga pintu air sejak tahun 1991. Dalam menjalankan pekerjaannya, ia harus bekerja sama dengan laut. “Kalau hujan besar, selain antisipasi ya kita hanya bisa berharap air laut surut. Sehingga bisa membuka semua pintu agar tidak banjir,” ungkapnya. Namun, jika permukaan air tak juga surut, ia akan berkoordinasi dengan pintu air lain. Seperti Pintu Air Flushing Ancol. “Di Ancol akan nyalakan pompa, supaya air dari sini dialirkan ke sana. Jadi dalam pekerjaan ini, kerja sama dan gotong royong antar penjaga pintu air adalah hal utama,” tambahnya.

Tak jarang ditemui kendala dalam menjalankan tugasnya. Seperti adanya tumpukan lumpur yang membuat pintu air tersendat. “Banyaknya lumpur membuat pintu air tidak bisa tertutup secara total. Solusinya ya kami harus menyelam untuk mengurai lumpur itu,” jelas Taryo. Ditemui di tempat yang sama, anggota Penjaga Pintu Air Marina Triono menjelaskan sistem pekerjaannya. “Jadi kita 24 jam setelah itu libur. Tapi kalau dalam keadaan darurat, ya waktu libur pun kita harus siap siaga membantu,” ujar Triono. Kondisi darurat itu tidak hanya berlaku di Pintu Air Marina, tapi semua pintu air. “Darurat misalnya terjadi kerusakan alat pompa air, alat penurun pintu air hingga membludaknya volume air di lokasi tertentu, maka kita harus beri bantuan ke sana,” lanjutnya. Baik Taryo dan Triono mengatakan senangnya jalani profesi tersebut karena antar penjaga pintu air tidak cuek. “Tidak ada istilah ‘wilayah lo, wilayah gue’ jika ada kesusahan, semua dengan ringan tangan membantu,” pungkas Taryo.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Menjaga Pintu Air Marina, Bekerja Sama dengan Laut hingga Menyelam Mengurai Lumpur”, https://megapolitan.kompas.com/read/2019/04/11/06521061/menjaga-pintu-air-marina-bekerja-sama-dengan-laut-hingga-menyelam.
Penulis : Tatang Guritno
Editor : Dian Maharani

Check Also

Sungai Ciliwung di Kawasan Bukit Duri, Jakarta yang sebagian bantarannya sudah dinormalisasi, Jumat (18/8/2017). Di sepanjang bantaran yang sudah dinormalisasi juga dibangun jalan inspeksi.(KOMPAS/HERU SRI KUMORO)

Sungai Ciliwung Akan Jadi Destinasi Wisata

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan tengah menggodok implementasi rencana menjadikan Sungai Ciliwung …