Home / Kliping / Kawasan Dukuh Atas Dinilai Bukan Contoh Integrasi Antarmoda yang Ideal
Penampakan akses menuju Stasiun MRT Dukuh Atas dari Stasiun KA Bandara BNI City.(KOMPAS.com / VITORIO MANTALEAN)
Penampakan akses menuju Stasiun MRT Dukuh Atas dari Stasiun KA Bandara BNI City.(KOMPAS.com / VITORIO MANTALEAN)

Kawasan Dukuh Atas Dinilai Bukan Contoh Integrasi Antarmoda yang Ideal

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengamat transportasi dari MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia) Darmaningtyas menyebutkan, kawasan Dukuh Atas di Jakarta Pusat yang didengung-dengungkan sebagai simpul integrasi antarmoda masih jauh dari ideal. Darmaningtyas menilai, saat ini di Dukuh Atas baru dibangun prasarana beberapa moda transportasi yang sebatas berdekatan satu sama lain. “Yang ada di situ itu baru pembangunan prasarana yang berdekatan, tapi belum saling terintegrasi. Karena kalau turun dari busway lalu mau naik KRL, MRT, atau kereta bandara itu kalau orang yang baru datang di Jakarta pasti bingung,” kata Darmaningtyas, Selasa (22/4/2019). “Jadi… pembangunan prasarananya lengkap di situ. Tapi tidak saling terintegrasi, kalau kita ngomong terintegrasi, belum,” sambung dia.

Menurut Darmaningtyas, sistem integrasi antarmoda yang sesungguhnya tidak membuat penumpang mesti keluar dari satu stasiun/halte untuk kemudian mencapai stasiun/halte lainnya. Sistem pembayaran juga dijadikan satu, sehingga penumpang hanya perlu sekali tap in di titik berangkat meskipun nantinya berganti moda. Menurut dia, hal tersebut belum terlihat di Dukuh Atas, di mana setiap moda masih terpisah satu sama lain dan cuma disambung dengan Terowongan Kendal yang fungsinya tak lebih dari sekadar jalur pedestrian. “Memang menyambungkan KRL, KA Bandara, dan MRT. Tapi itu pun kita harus keluar dulu dari stasiun. Mestinya kan di bawah Kendal itu langsung terowongannya diperpanjang, bersambungan ke stasiun MRT atau busway,” papar Darmaningtyas. “Mestinya langsung, dibangunkan jalan tembus dari busway ke KRL, misalnya. Kayak MRT dan busway di Bundaran HI begitu. Harusnya begitu,” tambah dia. Ia mencontohkan Singapura yang telah mampu membangun sistem integrasi antarmoda yang ideal. “Di Singapura itu kalau kita turun dari Stasiun Batumerah kalau enggak salah, terus ke Little India, itu di situ sudah ada bis berderet-deret,” katanya. Kawasan Dukuh Atas rencananya akan menjadi simpul pertemuan enam moda transportasi massal, yakni MRT, LRT Jakarta dan Jabodebek, commuter line, railink bandara, serta Transjakarta.  LRT Jakarta dan LRT Jabodebek belum beroperasi di Dukuh Atah, ditargetkan akan terwujud pada 2021. Namun empat moda transportasi lainnya saat ini sudah beroperasi dan singgah di Dukuh Atas.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kawasan Dukuh Atas Dinilai Bukan Contoh Integrasi Antarmoda yang Ideal”, https://megapolitan.kompas.com/read/2019/04/22/19522051/kawasan-dukuh-atas-dinilai-bukan-contoh-integrasi-antarmoda-yang-ideal.
Penulis : Vitorio Mantalean
Editor : Egidius Patnistik

Check Also

Ilustrasi

Kemarau Panjang, Jakarta Utara Tak Diguyur Hujan Selama 60 Hari

Bisnis.com, JAKARTA–Warga Jakarta diminta bersiap untuk menghadapi puncak musim kemarau panjang dalam beberapa hari ke …