Home / Kegiatan / Seminar “Format Ideal Transportasi Massal Perkotaan di DKI Jakarta”
WhatsApp Image 2019-04-30 at 12.59.17 PM

Seminar “Format Ideal Transportasi Massal Perkotaan di DKI Jakarta”

Jakarta, 30 April 2019. Hari ini, Seminar dengan tema “Format Ideal Transportasi Massal Perkotaan di DKI Jakarta” diselenggarakan oleh Perhimpunan Alumni Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Indonesia (Perluni PWK ITI) bekerjasama dengan Kedeputian Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup (TRLH). Melalui tema tersebut, diharapkan bisa didapatkan informasi mengenai tantangan utama pengembangan transportasi massal di DKI Jakarta, serta gagasan-gagasan solusi dari tantangan tersebut.

Seminar yang diselenggarakan di Balaikota Pemprov DKI Jakarta tersebut, dibuka oleh Deputi TRLH dan dihadiri oleh unsur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Kedeputian Gubernur Bidang Industri, Perdagangan, dan Transportasi; Dinas Perhubungan/Dishub; dan BAPPEDA), dunia pendidikan, kalangan profesional, dan masyarakat umum. Kurang lebih 125 peserta hadir dalam seminar tersebut.

Pembicara yang hadir dalam seminar tersebut adalah:

  1. Douglas Batubara dari Bappeda Prov. DKI Jakarta yang berbicara mengenai kebijakan Pemerintah Provinsi DKI  Jakarta dalam menyelenggarakan transportasi massal dan pengembangan Transit Oriented Development.
  2. Hendricus Andy Simarmata, ST, M.Si, PhD dari IAP Pusat yang berbicara mengenai Implikasi interkoneksi spasial transportasi massal di Provinsi DKI Jakarta.
  3. Ir. Alvinsyah, M.Sc dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) DKI Jakarta yang membahas peningkatan mobilitas perkotaan melalui optimalisasi layanan angkutan massal.

Selain pembicara tersebut, juga hadir 2 penanggap, yaitu:

  1. Yayat Supriyatna, MSP dari dunia akademik
  2. Hengki Atmadji, dari Konsultan Profesional

beberapa hal yang mengemuka dalam diskusi yaitu:

  • DKI Jakarta sedang melakukan berbagai perbaikan sistem trasnportasi, contohnya pembangunan infrastruktur layanan transportasi massal (contoh: MRT, BRT, LRT), pembatasan lalu lintas (contoh: kebijakan ganjil-genap, penyediaan fasilitas park and ride), dan peningkatan layanan publik (contoh: pengembangan layanan pengujian kendaraan bermotor, pengembangan terminal dan TOD).
  • Struktur ruang DKI Jakarta yang kurang teratur menjadi salah satu penyebab tidak meratanya layanan sistem transportasi umum. Selama ini, perkembangan struktur ruang DKI Jakarta ditentukan oleh kebutuhan pasar (market based driven), tidak berdasarkan rencana tata ruang.
Lokasi Pusat Kegiatan di DKI Jakarta Diklasifikasikan Berdasarkan Kesesuaiannya terhadap Rencana Tata Ruang Sumber: Hendricus Andy Simarmata (2019), diolah dari Wiryawan (2007); URDI (2009)
Lokasi Pusat Kegiatan di DKI Jakarta Diklasifikasikan Berdasarkan Kesesuaiannya terhadap Rencana Tata Ruang
Sumber: Hendricus Andy Simarmata (2019), diolah dari Wiryawan (2007); URDI (2009)
  • DKI Jakarta perlu mempertanyakan kembali arah pembangunan perkotaannya, serta berkomitmen untuk menjalankan apa sudah direncanakan.
  • Perlu disadari bahwa kunci utama dari pengembangan sistem transportasi massal adalah untuk mempermudah mobilitas penduduk. Dua indikator yang menjadi pertimbangan utama dalam mobilitas adalah waktu dan biaya.
  • Untuk dapat bersaing dengan transportasi pribadi, transportasi massal harus mampu menawarkan pelayanan (waktu dan biaya) yang lebih baik.
  • Integrasi antar-operator transportasi massal di DKI Jakarta juga perlu dilakukan untuk menghindari pelayanan yang tidak efisien dan merugikan masyarakat. Pembentukan lembaga/badan khusus untuk mengelola transportasi di DKI Jakarta dapat menjadi salah satu solusi.

WhatsApp Image 2019-04-30 at 12.27.40 PM

WhatsApp Image 2019-04-30 at 12.52.40 PM

 

 

Check Also

swot (2)

SWOT Workshop Strategic Appraisal Revisi Rencana Aksi Daerah Penurunan Gas Rumah Kaca dan Adaptasi Perubahan Iklim

Jakarta, 14 Juni 2019. Kedeputian Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup bekerjasama dengan C40 melaksanakan …