Home / Jakarta Berketahanan / Menjadi Narasumber dalam Kegiatan Peningkatan Peran Masjid untuk Jakarta Berketahanan
WhatsApp Image 2019-05-03 at 11.12.39 (3)

Menjadi Narasumber dalam Kegiatan Peningkatan Peran Masjid untuk Jakarta Berketahanan

WhatsApp Image 2019-05-03 at 11.12.39 (3)

Jakarta, 3 Mei 2019.

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan mengundang Deputi Gubernur DKI Jakarta bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup (Deputi TRLH) sekaligus Koordinator Ketahanan Kota/Chief Resilience Officer (CRO) Jakarta Berketahanan dan dihadiri oleh unsur Dewan Masjid Indonesia (DMI); dan Sekretariat Jakarta Berketahanan.

kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya peduli terhadap lingkungan sekaligus mengarusutamakan pengurangan sampah di sumber, salah satunya melalui program Eco-masjid yang dicanangkan oleh MUI.

Program Eco-Masjid ini merupakan program untuk menjadikan masjid sebagai pusat pembelajaran untuk pemuliaan lingkungan. Program Eco-masjid dirancang untuk memiliki komponen ramah lingkungan seperti keran hemat air, pemanfaatan listrik surya, pengelolaan sampah, dan biogas.

Kegiatan ini terdiri dari 2 (dua) sesi, yaitu: (i) Sesi Paparan Narasumber dan (ii) Diskusi Panel. Terdapat 2 (dua) Narasumber dalam kegiatan ini, yaitu: (i) Dr. Ir. Hayu S. Prabowo (MUI); dan (ii) Dr. Ir. Oswar M. Mungkasa, MURP (Deputi TRLH/CRO Jakarta Berketahanan).

Dalam paparannya, Dr. Ir. Hayu S. Prabowo (MUI) menjelaskan bahwa pengelolaan sampah perlu mendapat perhatian lebih. Hal ini terlihat dari Jumlah produksi sampah di Jakarta yang semakin meningkat di setiap tahunnya (bahkan terdapat peningkatan produksi sampah sebesar 10% di setiap bulan Ramadhan/Puasa).

Deputi TRLH/CRO Jakarta Berketahanan memaparkan kondisi pengelolaan sampah Jakarta serta harapan untuk mewujudkan Jakarta Berketahanan melalui pengelolaan sampah. Beberapa hal penting dalam paparan tersebut adalah:

  • Aspek pengelolaan sampah di DKI Jakarta telah direncanakan dan dilaksanakan setiap harinya. Meskipun begitu, pelaksanaan pengelolaan sampah di Jakarta ini belum optimal.
  • Hal ini terjadi karena TPST Bantar Gebang hanya mampu mengelola 90% dari total produksi sampah di Jakarta (± 7500 Ton).
  • Dari total sampah yang diproduksi oleh penduduk Jakarta setiap hari, wilayah permukiman menjadi penyumbang produksi sampah terbesar dengan menyumbang 60.5% dari total sampah.
  • Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengubah paradigma warga dalam mengurangi produksi sampah untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah di Jakarta.
  • Program Eco-masjid yang dilaksanakan MUI juga telah menjadi salah praktik unggulan/best practices dan satu terobosan penting untuk pemuliaan lingkungan hidup, termasuk pengelolaan sampah.
  • Program Eco-masjid ini juga menunjukkan bahwa institusi keagamaan juga ddapat menjadi salah satu ujung tombak dalam mengubah paradigma masyarakat dalam memuliakan/mengelola lingkungan.
  • Ke depannya, institusi keagamaan dapat berperan lebih dalam proses perubahan paradigma karena dapat menjangkau dan meningkatkan kesadaran pemangku kepentingan yang lebih luas
  • Salah satu Pilar Program Jakarta Berketahanan adalah Jakarta SEHAT yang berfokus untuk meningkatkan pengelolaan Air Bersih, Air Limbah, dan Sampah di Jakarta. Dalam pilar tersebut, upaya perubahan paradigma masyarakat juga menjadi salah satu perhatian utama.
  • Melihat hal tersebut, Institusi Keagamaan dapat berkolaborasi dengan Pemprov DKI Jakarta untuk mengubah paradigma masyarakat dalam memuliakan lingkungan hidup.

Dalam sesi diskusi panel, terdapat beberapa hal penting yang mengemuka, yaitu:

  • Penting untuk menjadikan tempat peribadatan untuk menjadi pusat pembelajaran (center of excellence) dan pusat kegiatan komunitas (community center) terkait pemuliaan lingkungan hidup.
  • Institusi Keagamaan (termasuk MUI) dan Pemprov DKI Jakarta perlu bersinergi untuk mengelola sampah dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup di DKI Jakarta. Saat Pemprov DKI Jakarta dapat menyediakan kerangka pemuliaan lingkungan hidup, Institusi keagamaan dapat berperan dalam meningkatkan kesadaran pemangku kepentingan yang lebih luas

Dalam kegiatan ini, MUI dan DMI juga meluncurkan program Eco-ramadhan yang akan berfokus pada perubahan paradigma dan meningkatkan literasi terkait pemuliaan lingkungan hidup. Program Eco-ramadhan ini menjadi pelengkap dari program Eco-masjid dan mendukung Pemprov DKI Jakarta.

Aspek pengelolaan sampah (tertuang dalam Pilar SEHAT) memang sudah menjadi perhatian dalam perwujudan Jakarta Berketahanan. Pelibatan institusi keagamaan juga menjadi hal yang harus diperhatikan untuk mencapai Jakarta yang berketahanan, termasuk dalam pengelolaan sampah (Pilar SEHAT)

Check Also

IMG_6577

Dialog Publik Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN)

Jakarta, 16 Mei 2019. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS menyelenggarakan Dialog Publik Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dalam …