Home / Kegiatan / Sustainable and Circular Economy Seminar on Architecture, Design, and Construction
WhatsApp Image 2019-05-08 at 1.12.08 PM

Sustainable and Circular Economy Seminar on Architecture, Design, and Construction

Jakarta, 8 Mei 2019. Most Valued Business (MVB) Indonesia bekerjasama dengan Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia menyelenggarakan seminar yang bertemakan “Sustainable and Circular Economy: Architecture, Design, and Construction”  di Hotel Raffles hari ini. Seminar tersebut diselenggarakan sebagai wadah berbagi informasi dan pengalaman mengenai upaya-upaya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, utamanya dari perspektif arsitektur, desain, dan konstruksi.  Seminar yang dibuka oleh Duta Besar Denmark tersebut menghadirkan beberapa pembicara, yaitu: (i) Deputi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup (TRLH); (ii) Deputi Bidang Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf); (iii) Direktur Strategy & Business Development MT Højgaard; dan (iv) perwakilan Danish Association of Architecture. Turut hadir dalam seminar tersebut berbagai pemangku kepentingan di bidang pemerintahan, properti, asosiasi serta akademisi.

Sesi pertama seminar tersebut diisi dengan pengalaman Denmark dalam mewujudkan pembangunan keberlanjutan di sektor arsitektur, desain, dan konstruksi. Vibeke selaku perwakilan Danish Association of Architecture menyampaikan bahwa desain bangunan dapat berdampak positif atau negatif terhadap aktivitas manusia. Konsep healthy architecture, yaitu  konsep perancangan bangunan dengan mempertimbangkan aspek kesehatan penggunanya, sedang berkembang di Denmark. Konsep tersebut dapat mengurangi hari sakit seseorang (days of sickness) melalui desain bangunan yang baik (contoh: optimalnya sirkulasi udara, cahaya matahari, dan sebagainya). Sementara itu, John Sommer dari MT Højgaard membahas tentang penggunaan kembali bahan bangunan sebagai solusi dalam mengurangi sampah, biaya, serta jejak karbon dalam membangun suatu gedung/bangunan. MT Højgaard sedang mengembangkan sistem instalasi bahan bangunan yang dapat dibongkar (tidak dihancurkan) kapan saja.

Pada sesi kedua seminar, dilakukan pembahasan mengenai upaya DKI Jakarta dalam menjadi kota yang berkelanjutan, dan pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Deputi TRLH menyampaikan bahwa dalam menuju kota berkelanjutan, isu-isu perkotaan yang dihadapi Jakarta seperti (i) penurunan permukaan tanah dan peningkatan permukaan air laut; (ii) keterbatasan air bersih dan belum optimalnya sistem pengelolaan sampah dan limbah; (iii) polusi udara; (iv) belum optimalnya sistem transportasi; dan lainnya. Penanganan isu-isu di Jakarta tersebut dihadapkan pada permasalahan pemerintahan, yaitu working in silo dan fragmented governance. Working in Silo adalah kondisi dimana tidak terjadi koordinasi antarlembaga pemerintah, sedangkan fragmented governance adalah kondisi dimana pembangunan di DKI Jakarta belum didukung oleh pemerintah daerah (provinsi dan Kkabupaten/kota) sekitarnya. Deputi Infrastruktur Bekraf memberikan materi mengenai pembentukan kota kreatif yang saat ini telah terhimpun 55 kota kreatif di Indonesia.

Vibeke berpesan bahwa hal penting yang dapat dilakukan Indonesia dalam mewujudkan keberlanjutan di sektor konstruksi adalah (i) mendorong perubahan mindset pada arsitek dalam mendesain bangunan atau kawasan; dan (ii) menyusun regulasi yang mendorong pengarustamaan pembangunan gedung/bangunan yang berkelanjutan. Sementara itu, John Sommer menyarankan agar dimulai langkah-langkah sederhana dalam melakukan pemasangan (retrofitting) gedung/bangunan dengan teknologi ramah lingkungan karena akan berdampak positif bagi lingkungan dan investasi keuangan jangka panjang.

WhatsApp Image 2019-05-08 at 1.12.08 PM-2

Check Also

IMG-20190812-WA0018

Lokakarya Program Ambitious City Promises/Ikhtiar Jakarta: Peran Komunitas Keagamaan

Bogor, 8 Agustus 2019. Yayasan ICLEI – Local Government for Sustainability menyelenggarakan lokakarya dalam rangka merumuskan aksi prioritas, target, dan …