Home / Jakarta Berketahanan / Pelatihan Permainan Kolaborasi Pemangku Kepentingan dalam Perencanaan Pembangunan Perkotaan
DSC09142

Pelatihan Permainan Kolaborasi Pemangku Kepentingan dalam Perencanaan Pembangunan Perkotaan

Jakarta, 23 Mei 2019. Kedeputian Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Tata Ruang, dan Lingkungan Hidup (TRLH) bekerjasama dengan Sekretariat Jakarta Berketahanan, dan Yayasan KARINA, menyelenggarakan Pelatihan Permainan Kolaborasi (Collaboration Game) pemangku kepentingan dalam perencanaan pembangunan perkotaan selama 4 hari, yaitu pada tanggal 20 – 23 Mei 2019.

Pelatihan tersebut diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pemahaman berbagai pemangku kepentingan pembangunan perkotaan di Provinsi DKI Jakarta mengenai prinsip dasar kolaborasi dan strategi berkolaborasi multi-pihak melalui permainan Serious Collaboration Gamingdan Urban Planning Games.

Pelatihan pada tanggal 20-21 Mei 2019, ditujukan untuk melatih fasilitator yang kemudian akan bertanggungjawab untuk memandu simulasi permainan Serious Collaboration Gamingdan Urban Planning Gameskepada OPD dan pemangku kepentingan lainnya pada tanggal 22-23 Mei 2019.

Pelatihan fasilitator tersebut dipandu oleh Perwakilan Cordaid Belanda dan Afrika Selatan yang telah memiliki pengalaman dalam melatih pemangku kepentingan untuk berkolaborasi untuk menyelesaikan isu perkotaan. Terdapat ±15 peserta yang mengikuti pelatihan fasilitator yang berasal dari Kedeputian TRLH, KARINA-Caritas Indonesia, Palang Merah Indonesia (PMI), International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies(IFRC), Cordaid Belanda, PT. Ewindo, dan Sekretariat Jakarta Berketahanan.

DSC08915

Agenda utama pelatihan fasilitator tanggal 20-21 Mei 2019, adalah prinsip dasar kolaborasi dan simulasi permainan Serious Collaboration Gamingdan Urban Planning Games. Beberapa poin penting terkait kolaborasi adalah:

  1. Kolaborasi dapat diartikan sebagai upaya untuk menyatukan berbagai pendapat untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
  2. Kemampuan berkomunikasi dapat dilihat sebagai salah satu aspek terpenting dalam berkolaborasi. Dalam berkomunikasi, pemangku kepentingan perlu melakukan ‘Listening For’ (mendengar dengan seksama) dan menghindari ‘Listening Against’ (mendengar untuk mencari celah untuk menjatuhkan).
  3. Perlu diiingat bahwa dalam berkolaborasi perlu untuk berfokus kepada aspek manusia (people oriented) dalam menyelesaikan isu perkotaan.
  4. Oleh karena itu, menjadi penting untuk mengungkap kebutuhan dan kepentingan dari berbagai pihak yang terlibat dalam kolaborasi untuk menghasilkan kolaborasi yang efektif dan akurat.
  5. Terdapat 3 (tiga) aspek penting dalam mengoptimalkan hasil kolaborasi, yaitu:
    • ME, aspek kebutuhan diri sendiri. Penting untuk menentukan kebutuhan dan keinginan diri sendiri agar kolaborasi yang dihasilkan tidak merugikan diri sendiri.
    • WE, melihat kebutuhan bersama. Penting pula untuk menyelaraskan kebutuhan diri sendiri dengan kebutuhan kelompok yang berkolaborasi agar hasil kolaborasi bisa efektif dan optimal.
    • SYSTEM, hasil kolaborasi juga perlu di-internalisasi ke dalam sistem yang ada agar bisa diimplementasikan.

DSC08935 DSC08931 DSC08948 IMG_9969

Sementara itu, beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam simulasi permainan Serious Collaboration Gaming dan Urban Planning Games adalah:

  • Permainan Serious Collaboration Gaming fokus pada pendalaman prinsip dalam berkolaborasi.
  • Sedangkan permainan Urban Planning Games berfokus pada penerapan prinsip kolaborasi dalam konteks pembangunan perkotaan. Tujuan utamanya adalah tentang bagaimana menggunakan prinsip kolaborasi dalam menyukseskan suatu kegiatan/proyek yang direncanakan oleh pemangku kepentingan.
  • Berdasarkan kedua permainan tersebut, prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam berkolaborasi, yaitu: (i) minat dan kepentingan berbagai pihak yang berkolaborasi, (ii) kemampuan dan sumberdaya (resource) berbagai pihak yang berkolaborasi, (iii) isu perkotaan yang ingin diselesaikan; (iv) pengaruh kolaborasi dalam proyek jangka panjang dan jangka pendek; (v) pentingnya kolaborasi multi-pihak; dan (vi) negosiasi yang dilakukan untuk berkolaborasi antar-pihak.
  • Kedua permainan juga melihat aspek komunikasi menjadi hal yang utama untuk menyukseskan kolaborasi.

Pelatihan pada tanggal 22-23 Mei 2019 diikuti oleh ±30 peserta dari berbagai OPD Provinsi DKI Jakarta, perwakilan sektor swasta, perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan perwakilan komunitas masyarakat. Kegiatan tersebut dipandu oleh fasilitator yang telah dilatih pada tanggal 20-21 Mei 2019.

Dalam simulasi permainan Serious Collaboration Gaming dan Urban Planning Games, peserta pelatihan diberi kesempatan untuk berperan sesuai dengan institusi/lembaga masing-masing, yaitu dari pemerintah, pengembang, LSM, penyedia jasa (service provider), sektor swasta, dan organisasi/komunitas masyarakat.

Dalam simulasi permainan Serious Collaboration Gaming, peserta pelatihan mendapatkan pemahaman bahwa dalam berkolaborasi dibutuhkan: (i) keterbukaan antarpemangku kepentingan untuk mendengarkan pendapat dan maksud/tujuan masing-masing pihak; (ii) kejelasan peran setiap pemangku kepentingan untuk meminimalisir terjadinya inefisiensi sumberdaya dan waktu dalam pelaksanaan kegiatan; (iii) berkonsolidasi untuk mencapai tujuan bersama tanpa melupakan tujuan individu; dan (iv)  inisiasi

Sementara itu, dalam simulasi permainan Urban Planning Games, peserta mendapatkan pelajaran bahwa: (i) tiap pemangku kepentingan memiliki peran dan tugasnya masing-masing dalam pembangunan kota, sehingga kontribusi dari setiap pemangku kepentingan sangat dibutuhkan; (ii) Untuk mendapatkan kontribusi dari setiap pemangku kepentingan, penting bagi suatu kegiatan/proyek pembangunan untuk dapat menghasilkan manfaat bersama; (iii) Dibutuhkan sebuah media/platform untuk menyatukan kepentingan dari setiap pemangku kepentingan.

DSC09168 DSC09067 DSC09032 DSC09023

Pelatihan ini dipandang bermanfaat oleh peserta OPD Provinsi DKI Jakarta, karena dengan memahami prinsip dalam berkolaborasi dapat membantu Pemerintah dalam merencanakan dan melaksanakan program/kegiatan pemerintahan dengan lebih efisien dan efektif, serta meminimalisir terjadinya fenomena “working in silo”, yaitu bekerja sendiri tanpa memperhatikan kegiatan yang sedang dikerjakan oleh institusi/lembaga lain.

DSC09185

 

Check Also

allianz (1)

peluncuran program Tukar Sampahmu, Lindungi Dirimu

Jakarta, 17 Oktober 2019. Asisten Deputi Gubernur Bidang Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Bapak Yuli Hartono …